Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Siapakah mereka?[2] Kapan dan bagaimana perkembangannya?

Kita sama-sama memahami bahwasanya Syiah pada dasarnya ialah kelompok pendukung Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum dan ahlu baitnya, mereka memutuskan bahwasanya Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu merupakan pemimpin (Imam) setelah Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihiwasalam – sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasalam telah mewasiatkan kepadanya untuk menjadi Imam (khalifah) – hal tersebut menjadi hak bagi Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu – hak tersebut itu tidak boleh terlepas dari beliau, demikian juga kepada anak-anak keturunannya sepeninggal Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu meninggal – jika hak tersebut keluar – kenyataannya benar-benar terjadi, apakah terjadi karena perampasan dengan cara yang zalim atau buruk, diturunkan atau untuk menolak keburukan dari mereka serta pengikut-pengikutnya.

Syiah pada umumnya – dengan berbagai pendapat-pendapat lain – serta sekte-sekte yang berbeda – beda lainnya yang sangat mengagung-agungkan nilai Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu juga hak-hak keturunannya terdapat perbedaan yang sangat mencolok.

Kapan munculnya?

Para ulama sependapat bahwasanya Syiah muncul pada masa akhir kekhalifahan Usman bin Affan radhiyallahu ‘anhu – kemudian lanjut berkembang pada masa Sayyidina Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu – mazhab paling tua dalam sejarah perpolitikan Islam.

Adapun bagaimana perkembangannya: ulama tidak memiliki satu pendapat yang pasti tentang hal ini, ada dua pendapat yang paling terkenal dalam hal ini:

    Pendapat pertama mengatakan bahwasanya Syiah muncul dari dorongan bangsa Persia, sistem pemerintahannya berbeda dengan bangsa Arab, dimana bangsa Arab menganut sistem kebebasan dalam pemerintahan sedangkan bangsa Persia menganut sistem kerajaan dan keturunan serta tidak mengenal sistem pemilihan umum untuk memilih pemimpin, hal tersebut mempengaruhi pemikiran sebahagian kaum Bangsa Persia yang menganut Islam – kedalam sistem pemerintahan – terhadap Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasalam dimana mereka menganggap beliau sebagai seorang raja, seandainya Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasalam wafat dan tidak memiliki keturunan laki-laki maka yang paling berhak menjadi Khalifah ialah anak pamannya yaitu Sayyidina Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu, seandainya kekhalifahan diserahkan kepada orang lain – menurut pandangan mereka – maka itu sebuah perampasan dari yang berhak, kaum Persia biasa memandang seorang raja sebagai seorang suci, mereka akan melakukan hal yang sama kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan keturunannya, bahkan mereka mengatakan: mena€™ati Imam hukumnya wajib, ketaatannya merupakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta€™ala.

    Pendapat kedua: Syiah bukan bersumber dari kaum Bangsa Persia, tapi dari seorang Yahudi Abdullah bin Saba memeluk Islam untuk memperoleh sanjungan demi menghancurkan Islam dari dalam, ia yang pertama sekali menyerukan dan mendorong untuk menganggap suci Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu

Syeikh Muhammad Abu Zahrah lebih menyetujui pendapat pertama, kedua pendapat tersebut dinuqilkan dari sebahagian pemikiran kaum Orientalis Barat seperti yang dicantumkan oleh Prof. DR. Ahmad Amin dalam bukunya €œ Fajar Islam€: €œ Kita meyakini bahwasanya Syiah dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Persia tentang raja dan pewarisan, nampak jelas kesamaan antara mazhab mereka dengan sistem pemerintahan kerajaan Persia, ini diperkuat oleh kebanyakan penganut Syiah berasal dari Bangsa Persia bahkan penganut generasi pertama Syiah berasal dari kaum Persia.

Jikapun kaum Yahudi sesuai dengan pendapat-pendapat Syiah hal tersebut lebih disebabkan oleh kaum Syiah yang bersumber dari berbagai sisi, walaupun secara garis besar kemunculan Syiah dari Persia, walaupun mereka bersandar kepada pendapat-pendapat Islam.

Kebanyakan kaum Syiah yang berhaluan moderat sekarang mengingkari Abdullah bin Saba berasal dari golongan mereka, karena ia bukan seorang muslim terlebih lagi Syiah, dalam hal ini kita menyepakati pendapat mereka.

Syeikh Abdul Halim Mahmud rahimahullah menuqilkan kedua pendapat tersebut, tetapi beliau memberikan alasan sendiri tentang kemunculan Syiah, beliau berpendapat bahwa kemunculan Syiah memiliki sebab yang lain, beliau berpendapat: sebab kemunculan Syiah bukan bersumber dari kaum Persia ketika mereka menganut Islam juga bukan kepada kaum Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba, tapi lebih dari kedua pendapat tersebut, kemunculan pertamanya kembali kepada kepribadian Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dari satu sisi serta hubungan beliau dengan Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihiwasalam dari sisi lain.

Setelah beliau menyebutkan pendapatnya dan sikap kaum muslimin akan nilai seorang Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan kepribadian beliau  dan setelah menyebutkan perbedaan-perbedaan antara Khalifah Abu Bakar, Usman bin Affan dan Usman bin Affan radhiyallahu ‘anhum serta diakhiri dengan perseturuan antara Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhudengan Muawiyah, beliau menyimpulkan:

Fase awal kemunculan Syiah ialah sebuah kecintaan seperti kecintaan Salman Alfarisi kepada ahlu bait kemudian berubah menjadi kecintaan yang besar, empati, kasih sayang bahkan belas kasihan ketika sebahagian ummat berkeyakinan baitul €˜ulwi  tidak memperoleh posisi yang yang mulia, sepadan dan pantas dalam masyarakat, lalu ketika kezaliman berubah menjadi penindasan, azab dan perpecahan(cerai-berai), pemutusan dan tercabik-cabiknya tali silaturrahim antar sesama anggota keluarga dan pembunuhan maka serta merta Syiah berubah menjadi seperti arti terminologinya pada seperti saat ini, lalu pengikut baitul €˜ulwi yang bersimpati dengan mereka menyebarkan pemikiran tersebut sesuai dengan kemampuan mereka baik dari segi harta dan dukungan.

Akan tetapi pemikiran tersebut pada awalnya hanya berjalan dengan dukungan harta dan sokongan saja, akan tetapi juga didukung dari sudut agama, kaum Syiah juga memproteksi diri dengan Alquran dan hadist dimana mereka merujuk kepada kedua sumber hukum tersebut untuk ditafsirkan menurut kehendak mereka demi membenarkan mazhab Syiah sesuai dengan keinginan nafsu mereka.

Hal yang patut diperhatikan bahwasanya Syeikh Abdul Halim Mahmud dan Syeikh Muhammad Abu Zahrah €“rahimahumullah– walaupun pendapat kedua ulama tersebut memiliki perbedaaan dalam perkembangan dan kemunculan Mazhab Syiah bahwasanya kedua pendapat ulama tersebut tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain, dengan maksud lain bahwasanya kedua pendapat ulama tersebut mendukung satu sama lain, ditambah terlebih lagi bahwasanya kedua ulama tersebut tidak menggunakan ungkapan (pendapat) lain karena pentingnya dari sudut lain.

Penjelasannya: bahwasanya penjastifikasian perkembangan Mazhab Syiah tidak keluar dari perkembangan Persia seperti yang dijelaskan oleh Syeikh Abu Zahrah, tidak juga keluar dari adanya rasa belas kasihan menjadi kecintaan yang besar, empati, kasih sayang dan ketakjuban terhadap kepribadian sayyidina ali bin abi thalib ra seperti yang dijelaskan oleh syeikh abdul halim mahmud akan tetapi hal tersebut memiliki sisi lain yang harus menjadi perhatian bersama, karena tanpa hal tersebut penjastifikasian kemunculan mazhab syiah tidak dapat saling melengkapi dalam bentuk utamanya yang terkenal pasa masa sekarang, makdusnya ialah ukuran yang menjadi sebab besarnya mazhab syiah baik dari sisi penamaan dan jamaahnya kembali kepada permasalahan kekhalifahan, siapakah yang lebih berhak memperolehnya? Perang sayyidina ali bin abi thalib ra dengan muawiyah didasari oleh keyakinan keabsahan kekhalifahan beliau serta anggapan kaum yang bersebrangan dengan beliau sebagai kaum yang keluar dari pemerintahan yang sah dimana mereka terdiri dari ahlu syam(siria)dimana kaum syiah telah bersekongkol dengan mereka ketika kekhalifahan khalifah usman ra.

Hal tersebut ditambah atas kenyataan sebahagian orang yang membentuk sisi paling besar dari pasukan Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu – dimana mereka merupakan penduduk Iraq, dan mereka tidak terlepas sikapnya – dalam menampakkan kekenangan Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu – dari sisi ketamakan politik dengan bukti bahwasanya mereka melepaskan diri darinya dan dari keturunan-keturunannya sesudahnya ketika kekhalifahan condong kepada yang pantas mendudukinya, hal tersebut menjadi kenyataan yang tidak boleh diremehkan.

Selanjutnya: sebab perkembangan Syiah tidak disebabkan oleh satu sebab sederhana saja, akan tetapi gabungan antara beberapa permasalahan yaitu kekhalifahan, kebiasaan lingkungan kaum Persia, ditambah lagi beberapa unsur kelompok Syiah pada puncak perseteruan antara Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dengan Mu€™wiyah radhiyallahu ‘anhum – dan perbedaan niat, tujuan serta faktor pendorong dibalik banyaknya sikap dari unsur-unsur kelompok tersebut.

Sekte-sekte dalam Mazhab Syiah:

Pemikiran Syiah pada dasarnya ialah ungkapan kecintaan kepada Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan kepada ahlu bait Rasulullah Muhammad Shallahu€™alaihisawallambukan merupakan sikap yang dapat disetujui bahkan oleh seorang muslim saja, akan tetapi kaum muslimin seluruhnya menuntut dikarenakan posisi  Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhukarena keilmuan, kelebihan, kemulian, keberanian serta keteguhan hati beliau kepada Islam, jika kita merunut hanya sebatas kepada kecintaan, kesetiaan dan pertolongan beliau kepada Islam ketika hal tersebut diperlukan merupakan tasyayu€™an, maka sahabat-sahabat Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihiwasalam yang paling mulia lebih pantas untuk digolongkan kepada kelompok Syiah seperti: Umar bin Yasir, Miqdad bin Aswad, Abi Zar Alghifari, Salman Alfarisi, Jabir bin Abdillah, Ubay bin Ka€™ab, Huzaifah, Buraidah, Abi Ayyub al Anshari, Sahal bin Hanif, Usman bin Hanif, Abi Haysam bin Tihan, Abi Thufail Amir bin Waa Ilah, Abbas bin Abdil Muttalib  dan keturunannya, keseluruhan Bani Hasyim, bahkan terlebih lagi dari keturunan bani Umayyah sendiri seperti Sa€™id bin Ash dan sebagainya

Walaupun sebab kecintaan dan pengagung-agungan kepada Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan keturunan-keturunannya berubah menjadi fanatisme berlebihan kepada mereka yaitu: kezaliman dan kesewenang-wenangan yang dirasakan oleh keluarga beliau dan segala yang terjadi pada mereka sesudahnya baik dari sisi pembunuhan dan penyiksaan, akan tetapi yang perlu diingat bahwasanya pengagung-agungan yang berlangsung kepada Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu merupakan keyakinan sesat kepada Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu dimana mengeluarkan posisi beliau dari seorang manusia kepada posisi yang sangat tinggi(mengagung-agungkan) dari satu sisi, bahkan ada yang memfitnah para sahabatradhiyallahu ‘anhum dengan tuduhan fasiq, sesat bahkan kafir dari sisi lain hal itu merupakan bersumber dari sifat kaum muslimin, akan tetapi hal tersebut merupakan sifat licik dari seorang Abdullah bin Saba yang menajdikan meninggalnya Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai sebuah agenda liciknya dan kecintaan ummat muslimin kepada Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu sebagai sebuah kesempatan licik untuk menghancurkan Islam dari dalam, bahkan ia menyebarkan kebohongan dan kebatilan tentang meninggal beliau sebagai sebuah kesempatan untuk menyebarkan kebencian antara ummat manusia dan menyesatkan ummat manusia bahkan merusak pemikiran kaum muslimin diman ia mengatakan bahwasanya yang meninggal tersebut bukanlah Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu akan tetapi syaitan yang berwujud Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu  telah naik ke langit seperti Nabi Isa  ‘alaihissalam telah duluan langit ke langit sepeninggal ia wafat, dan bahwasanya halilintar ialah suaranya dan petir senyumnya, dan ia mengumumkan bahwasanya Khawarij telah berbohong ketika mereka mengakui membunuh Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dimana hal tersebut persis dengan kebohongan kaum Yahudi dan Nasrani dimana mereka mengakui telah membunuh Nabi Isa  ‘alaihissalam.

Pengagung-agungan kepada Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tidak berada atas satu derajat saja, akan tetapi berbeda menurut masing-masing sekte dan perbeda pijakan masing-masing, maka berkembanglah kelompok-kelompok Syiah:

Assabaiyah: dinisbahkan kepada Abdullah bin Saba dimana mereka mengatakan Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ialah tuhan dan bahwasanya Allah telah menyatu dalam tubuh Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Kiisaniyah: pengikut Mukhtar bin Abid Atsaqafi, pertama mereka menganut Mazhab Khawarij kemudian berubah menjadi pengikut Syiah yang memenangkan Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu, ddinamakan kisan karena dinisbahkan ke kota kisan,  dimana nama tersebut merupakan nama almukhtar assaqafi sendiri, atau maula Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu, walaupun mereka tidak mengatakan ketuhanan Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu seperti keyakinan alkisaniyah akan tetapi mereka mengatakan  seorang imam itu ma€™sum dan suci dan terlepas dari segala kesalahan, wajib menaati imam sepenuhnya.

Demikian juga seorang Imam raj€™ah, dimana mereka berpendapat sesudah Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Hasan, Husein, Muhammad bin Hanafiyah, dimana mereka juga berkeyakinan dengan bada€™, juga meyakini ruh itu reinkarnasi, dan setiap sesuatu zahir dan batin.

Imamiyah:  dengan dua sektenya (Imamiyah 12 dan Ismailiyah)pijakan penamaan itu berasal dari:  mereka berkeyakinan bahwasanya Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihiwasalam telah mewasiati kekhalifahan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu secara mutlak, mereka juga membatasi Imamah itu hanya sepeninggal beliau terbatas kepada anaknya dari Sayyidah Fatimahradiyallahu€™anha, sekte ini sepakat dengan kekhalifahan Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, kemudian berpindah kepada anaknya Hasan sesuai dengan wasiatnya, kemudian kepada saudaranya Husein radhiyallahu ‘anhu,  kemudian kepada anaknya Zainal Abidin, kemudian kepada Muhammad Albaqir, kemudian kepada anaknya Jafar Assidiq, kemudian berbeda pendapat pada kekhalifahan kepada dua kelompok:
Isna €˜asyariyah: mereka berkeyakinan perpindahan Khalifah setelah Jafar Sidiq kepada anaknya Musa al Kazim kemudian kepada Almahdi Almuntazar, ia merupakan Imam ke 12 yang bersembunyi di Sirdb (nama kota),kedatangannya dinantikan untuk mengisi dunia dengan keadilan dan keamanan, dimana sudah dipenuhi dengan kezaliman dan kejahatan, dasar pemikiran yang paling terkenal dalam sekte ini: para Imam ma€™sum dari segala dosa baik itu kecil dan besar dalam hidupnya, keluarnya Imam Mahdi Almuntazar dan raj€™ah Rasulullah MuhammadShalallahu ‘alaihiwasalam Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, keturunanya, khalifah Abu Bakar Assiddiq, Umar bin Khattab Usman bin Affan dan semua musuhnya untuk menjelaskan antar mereka di dunia, dan itu berlangsung  setelah raj€™ah Almahdi Almuntazar, demikian juga taqiyyah dan itu adalah permulaan mereka dalam kehidupan antara dengan lainnya, dan mereka berdoa dalam kesunyian khusus kepada imam mereka saja, menampakkan ketaatan kepada yang memiliki kewenangan(perintah).


Ismaliyah: kelompok kedua dari sekte Imamiyah dimana mereka berpendapat bahwasanya kepemimpinan (Imamah) setelah Jafar Sidiq berpindah kepada anaknya Ismail sesuai dengan wasiat ayahnya, kemudian kepada anaknya Almaktum dimana ia merupakan permulaan Imam yang mastur dan sesudahnya mengikuti para Imam yang mastur kepada munculnya Abdullah Almahdi pimpinan kaum Fatimiyiin.

Azzaydiyah: sekte dari paham Syiah yang peling dekat pemahamannya kepada ahlu sunnah wal jama€™ah dan yang paling moderat, mereka ialah pengikut Zaid bin Ali bin Husein radhiyallahu ‘anhu, mereka tidak mengagung-agungkan keyakinannya kepada Imamiyah, tidak mengangkat derajat/posisi Imam kepada derajat seorang Nabi atau Rasul tidak juga mendekati kepada posisi Nabi dan Rasul, akan tetapi menganggapnya seperti ummat manusia yang lain akan tetapi mereka merupakan hamba terbaik setelah Rasulullah Shallahu€™alaihisawallam, mereka berkeyakinan bahwasanya seorang Imam diwasiatkan kepadanya dengan sifat bukannya dengan nama, dari golongan Fatamiyiin, wara€™ dan rendah hati, keluar kepada ummat manusia kepada dirinya sendiri, mereka juga berpendapat ia melebihi para Imam yang terpilih (diteliti kembali) oleh karena itulah mereka mengakui keabsahan Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu tidak mengkafiri para sahabat radhiyallahu ‘anhum dengan membait€™an keduanya.

Sikap Syiah terhadap Alquran:

Sikap mereka terhadap nash: kelompok berhaluan garis keras dalam Mazhab Syiah, diantaranya sekte Imamiyah Isna €˜asyariyah mengatakan bahwasanya Alquran sudah dihapus dan didistorsi oleh musuh Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu €“ menurut pandangan mereka – mereka tersebut ialah Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab yang telah merampas kekhalifahan dari Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Khalifah Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu telah menghapus kandungan surat-surat Alquran yang menyebutkan kelebihan-kelebihan Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan keturunan-keturunannya, membuat-buat berita bohong bagi Imam-imam mereka dari golongan ahlu bait dimana mereka mengatakan bahwasanya Alquran yang diturunkan oleh malaikat Jibril alaihissalam kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasalam 17 ribu ayat dan mushaf Fatimah alaihassalam seperti Alquran kita sekarang tiga kali dan apa-apa yang ada d.idalamnya satu huruf dan sesungguhnya Alquran diturunkan sebanyak empat bagian; empat bagian pertama untuk ahlu bait, empat bagian kedua kepada musuh mereka, empat bagian ketiga kepada sunnah-sunnah dan misal-misal dan empat bagian ke empat berisi faraidh-faraidh dan hukum-hukum, dan semua yang berkaitan dengan Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan keturunan-keturunannya dan ahlu bait telah dihapus dan dihilangkan, dan keseluruhan surat wilayah telah dihapuskan keseluruhannya.

Sikap Mahzhab Syiah akan perkataan mereka bahwa Alquran telah di distorsi tidak hanya membuat hati terkejut saja, akan tetapi lebih dari itu telah membuat sedih hati, pelecehan akan akal-akal nyeleneh tersebut dimana akal sehat manusia tidak akan menerima begitu saja.

Jika kita mengambil beberapa jalan untuk menolak dan menjelaskan pemikiran-pemikiran sesat, nyeleneh dan aneh mereka, buruk tujuan terlebih lagi karena kebodohan mereka, kita ambil contoh jika anda menanyakan kepada mereka siapakah yang telah menghapuskan ayat-ayat Alquran? Mereka akan menjawab: yang telah menghapuskan ayat-ayat Alquran ialah musuh-musuh Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan ahlu bait, diantara mereka ialah Khalifah yang tiga Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Ustman radhiyallahu ‘anhum, jika engkau menanyakan lebih lagi: mengapa Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tidak memprotes hal tesebut? Dan pemikiran manusia akan tertuju kepada hal tersebut? Mungkin mereka akan menjawab: mereka tidak melakukannya karena taqiyyah, karena kekhawatiran kekerasan mereka dan ahlu-ahlunya.

Para pembaca disini hendaknya memperhatikan sedikit kemana arah pemikiran mereka akan Imam-imam mereka yang digambarkan oleh mereka dengan gambaran penuh dengan ketakutan penuh tipuan yang tidak menampakkan kebenaran yang berkaitan dengan orang lain terlebih lagi hal yang berkaitan dengan diri sendiri dan ahlu bait, Imam manakah yang mereka gambarkan  kepada ummat manusia…mereka merugi…sia-sia dan gagal…

Kemudian mereka menggambarkan para Khalifah-khalifah Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasalam dengan gambaran yang tidak dapat diterima oleh ummat manusia – khianat, zalim dan penuh permusuhan- terlebih lagi kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasalam dimana beliau telah ridha, kita sangat memberikan kewaspadaan kepada ummat manusia yang lain untuk tidak mengikuti pemikiran nyeleneh Mazhab tersebut.

CATATAN KAKI:

  1. Dosen STAIN Malikussaleh Lhokseumawe ↩
  2. Diterjemahkan dari Kitab Madkhal Fii Manahij Mufassirin Karya: Prof. DR. Sayyid Jibril Dosen Universitas Alazhar Mesir


Harianaceh

0 komentar: