Breaking News
Loading...


 Oleh Zulkarnain Elmadury

Syiah memandang Azar bukanlah Ayah Ibrahim, karena tidak mungkin menurutnya, seorang Nabi harus berayahkan orang Musyrik, seorang Nabi pasti lahir dari kandungan orang orang bersih/suci  dari segala jenis sesembahan yang dilakukan orang orang Musyrik, seorang Nabi tidak harus dari keturunan Majusi. Menurut ayat Quran yang digunakan Syiah sebagai alasan menolak bahwa Nabi tidak mungkin berayahkan kafir, Musyrik adalah sebagai Berikut ayatnya.

firman Allah Ta’ala.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ ﴿٢١٧﴾ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ ﴿٢١٨﴾ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ ﴿٢١٩﴾ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan bertakwallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesunnguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [asy-Syu’araa /26: 217-220]

Kalau diperhatikan ayat tersebut tidak bermakna perpindahan atau penjelmaan sebagaimana reinkarnasi dari orang mati kepada orang yang hidup, atau bermakna perpindahan tubuh Nabi dari Orang ke Shaleh dari Orang Shaleh, ayat itu menjelaskan gerak sholat Nabi Muhammad bukan gerak perpindahan kelahiran Nabi. Mendasarkan Nabi pada ayat tersebut tidaklah tepat, karena ayat asy-Syu’ara tersebut menjelaskan tentang sholat Nabi, bukan perpindahan kelahiran. Kemudian dasar dasar yang menyebutkan Nabi Ibrahim ayahnya bukan azar itu sangat gegabah, atau buta sejarah, bukan hasil telaah ilmiah dari kitab kitab Islam melainkan dari kitab kitab Nasrani, yang disebut Injil Perjanjanjian Lama.

Terakh, menurut silsilah nasraniyah dalam alkitab Perjanjian Lama, adalah ayah Nabi Ibrahim atau Abraham. Terus apa yang membedakan Terakh dan Azar, tidak ada yang berbeda dari keduanya, sama sama penyembah berhala, karena Terakh yang digadang gadang Syiah sebagai ayah Ibrahim sebenarnya tidak menggambarkan seorang yang bertauhid, melainkan sama dengan yang diterangkan Allah dalam Quran
Dalam perjanjian lama ditulis sebagai berikut
Ayah Abraham, Terah, telah memuja berhala selama beberapa tahun (Yos. 24:2).
Fakta Terakh yang diagung agungkan Syiah adalah seorang ayah yang kafir dan musyrikin, bukan orang Islam. Tetapi seorang penyembah berhala, adalah tidak beda dengan Azar yang konon dikatakan pamannya oleh Syiah. Hanya ada satu keterangan tentang Terakh, kitab itu adalah perjanjian lama bukan Al-Quran atau hadits Nabi. Bermakna selama ini pembelaan Syiah bahwa Ayah Nabi Ibrahim adalah Terakh yang bertauhid, hanya bermodalkan kitab perjanjian lama yang nilainya sama dengan Quran yang menginformasikan ayah Ibrahim, Azar yang juga Musyrikin Kafir.
Selain itu perlu dijelaskan bahwa kata Yaa Abaati dalam Quran tidak ada yang memalingkan dengan makna Paman atau ayah Tiri, tetapi tetap bermakna ayah kandung, sedangkan sebutan Yaa Abaati merupakan panggilan agung dan terhormat kepada seorang ayah ..

Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْىَ قَالَ يٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرٰى فِى الْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰى  ۚ  قَالَ يٰٓأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ  ۖ  سَتَجِدُنِىٓ إِنْ شَآءَ اللَّهُ مِنَ الصّٰبِرِينَ
"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! Dia (Ismail) menjawab, Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."

(QS. As-Saffat 37: Ayat 102)

Perkataan Ismail pada ayahnya menggunakan panggilan YAA ABAATI

Allah SWT berfirman:

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يٰٓأَبَتِ إِنِّى رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِى سٰجِدِينَ

"(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, Wahai Ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."
(QS. Yusuf 12: Ayat 4)

Perkataan Yusuf pada ayahnya menggunakan kaliamat Yaa Abaati
Allah SWT berfirman:

قَالَتْ إِحْدٰىهُمَا يٰٓأَبَتِ اسْتَئْجِرْهُ  ۖ  إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَئْجَرْتَ الْقَوِىُّ الْأَمِينُ

"Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya."
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 26)

Putrinya Nabi Suaib juga menggunakan Istilah Yaa Abaati memanggil ayahnya
Allah SWT berfirman:

يٰٓأَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطٰنَ  ۖ  إِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلرَّحْمٰنِ عَصِيًّا

"Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih."
(QS. Maryam 19: Ayat 44)

Panggilan Ibrahim juga menggunakan kata Yaa baati, tetapi anehnya Syiah menafsirkan ayat ini dilua kepala sehat, bahkan bergeser dari makna hakikat menjadi makna majas, bahkan ujung ujungnya yang diayahkan pada Nabi Ibrahim, orang kafir dan musyrikin juga.....

0 komentar: