Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Sarin tercatat dalam sejarah sebagai senjata pemusnah massal yang pernah diciptakan manusia. Selama masa Perang Dunia Kedua. Sarin banyak berperan menyebabkan gangguan, penyakit, atau bahkan kematian pada manusia. Produksi dan penimbunan sarin dilarang oleh Konvensi Senjata Kimia tahun 1993 di mana ia diklasifikasikan sebagai Jadwal Substansi 1.

Meski demikian, akhir-akhir ini sarin menjadi perbincangan hangat di dunia pasca insiden mematikan di Khan Syeikhun pada Selasa (04/04). Tercatat  akibat insiden itu 100 nyawa melayang, jumlah ini meningkat dari sebelumnya. Peneliti dunia menduga rezim Suriah telah menjatuhkan sarin di pemukiman penduduk.

    Produksi dan penimbunan sarin telah dilarang oleh Konvensi Senjata Kimia tahun 1993 di mana ia diklasifikasikan sebagai Jadwal Substansi 1.

Pada tanggal 20 Maret 1995, sarin digunakan anggota sekte agama Aum Shinrikyo menyerang kereta api bawah tanah di Tokyo, Jepang. Insiden ini telah menewaskan belasan orang, melukai ribuan lainnya. Usaha pembunuhan massal ini dikenal sebagai serangan teroris terburuk di Jepang.

Gas sarin telah digunakan di Halabja, Irak, pada 1988 oleh rezim Saddam Husein. Gas beracun ini dilepaskan di atas kota Kurdi dan menewaskan 5.000 warga sipil selama tiga hari. Serangan gas sarin pernah terjadi di Suriah pada 2013.

Apa itu sarin?

Dalam dunia kimia, Sarin dikenal dengan rumus [(CH3) 2CHO] CH3P (O) F dan termasuk agen saraf organofosfat. Sedangkan nama sarin didapatkan dari penemunya yaitu Schrader, Ambros, Rudiger, dan Van der Linde. Dikembangkan pada tahun 1938 oleh peneliti Jerman Nazi di IG Farben untuk digunakan sebagai pestisida.

Sarin yang murni tidak berwarna, tidak berbau, dan memiliki rasa tidak. Ini lebih berat dari udara, sehingga uap Sarin turun ke daerah-daerah dataran rendah atau bisa ke ruangan bawah tanah. Sarin juga menguap di udara dan bercampur dengan air.

Sangat penting untuk memahami bagaimana bisa bertahan dari paparan Sarin pada konsentrasi rendah, jika tidak mendapatkan pertolongan medis dan jangan panik. Bila korban bisa bertahan pada paparan awal, mungkin efek bergerak lebih lambat bukan berarti sembuh. Selain itu, jangan menganggap korban benar-benar pulih hanya karena selamat paparan awal. Karena efek mungkin saja tertunda, sehingga untuk tindakan lebih lanjut penting mendapatkan pertolongan medis. (kiblat)

0 comments: