Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, Latakia – Peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana krisis BBM melanda Suriah, khususnya di provinsi Latakia. Sebagian SPBU berhenti bekerja karena tidak mendapatkan supplai bahan bakar. Sebagian besar mobil terparkir, kecuali mobil yang dimiliki oleh pejabat negara, pentolan preman dan perwira militer.

Menurut laporan Zaman el-Wasl, Kamis (09/02), kendaraan pribadi dan umum yang biasa mengantarkan para siswa di sekolah dan universitas mereka berhenti beroperasi akibat minimnya bahan bakar. Setengah dari pegawai negeri juga tidak masuk kerja, khususnya yang berada di pedesaan.

Tidak berhenti di sini, banyak sopir bus mini mogok bekerja karena minimnya jumlah kendaraan yang tersedia. Mereka mengaku akan terus melakukan mogok kerja sampai ada solusi untuk masalah krisis bahan bakar ini.

Aktivis media, Mohamed al-Sahili menunjukkan bahwa kota-kota di pesisir Suriah tidak pernah menyaksikan krisis seperti ini sejak pecahnya revolusi. Kementerian yang mengurusi minyak berhenti memasok SPBU sejak awal Februari. Hanya satu dua SPBU saja yang diberikan jatah BBM.

“Ketika orang-orang mendengar berita bahwa sebuah SPBU dipasok dengan bahan bakar, ratusan mobil berlomba-lomba untuk berbaris dalam antrian panjang,” imbuhnya.

Dia menegaskan bahwa sebagian besar mobil yang antri akhirnya kembali dengan tangan kosong. Para preman, aparat keamanan dan tentara mengambil alih sejumlah besasr BBM yang tersedia di SPBU.

Selain itu, ia mengungkapkan bahwa jalan-jalan kota terlihat lengang. Yang lewat hanya mobil-mobil yang pemiliknya mendapatkan bahan bakar dengan jalan paksa dan mobil milik orang-orang kaya yang mampu membeli bahan bakar dari pasar gelap, sepuluh kali lipat dari harga resmi.

Pengguna media sosial ramai-ramai mengutuk kondisi ini. Mereka membanjiri laman resmi Rezim Suriah dengan komentar-komentar negatif. “Pemerintah hanya mengulang janji-janji mereka untuk mengamankan bahan bakar. Itu hanya sebuah kebohongan,” kata salah satu pengguna medsos.

Perlu diketahui, sejak awal revolusi Suriah, penduduk Latakia mengalami masa-masa yang berat pada tahun 2016. Mereka harus meninggalkan kampung halamannya karena masifnya serangan Rezim Assad dan milisi Syiah yang didukung pasukan udara Rusia. Akibatnya, Rezim dilaporkan menduduki 85% dari wilayah ini. (kiblat)

0 komentar: