Breaking News
Loading...

 
"Antara Babi Dan Syiah"
 Oleh Zulkarnain El-Madury

Sebuah penantian Syiah sepanjang sejarah, adalah tidak ada lagi seorangpun  sunni di dunia ini, terutama di Indonesia, banyak tokoh dan kaum Muda syiah berharap Indonesia bebas dari kaum sunni, dengan berbagai kepongahan dan kesombongan yang di tonjolkan mereka dalam menggoyang aqidah Sunni. Mereka adalah korban sejarah masa lalu yang bisa membawa bencana di negeri “Garuda’ yang mayoritas Sunni, dengan seluruh ilmu dan politik Taqiyah mereka hidup di tengah tengah Sunni. Ada yang pakai topeng “menjaga keutuhan NKRI”, namun disisi lain melempar tuduhan tuduhan palsu berdasarkan dendam kusumat sejarah yang menokohkan Husein segalanya bagi Syiah

Catatan Sunni, tidak pernah ada syiah yang mengangkat Hasan sebagaimana Husein yang menikah dengan wanita Persia, mantan tawanan Perang. Sikap berlebihan Syiah menempatkan Husein itulah yang menjadi dasar tuduhan tuduhan kepada sunni sebagai kelompok yang haram dan jadah bagi Syiah. Dan menghiasi semua pengikutnya di tanah air dengan fitnah, berupa pelecehan dan penistaan kepada sahabat Radhiallahu’anhum. Menukik dan lantang suaranya umbar kebencian pada sunni, yang disinyalir sebagai kelompok “Nashibi Najis” yang halal darahnya di tumpahkan dan halal hartanya di rampok.

Sebaik baik Syiah adalah seburuk buruknya kaum yang menumpang kebesaran Nabi, dengan tujuan menyimpangkan pengikutnya dari Islam yang benar sesuai sunah. Untuk itu Syiah membangun opini berdasarkan kitab kitab sesat Syiah, yang bertujuan menggoreng masa lalu dalam ruangan sejarah.
Muslim Indonesia, esensinya adalah sebuah parameter dan barometer dunia, karena jumlah Islam yang mayoritas, mencapai ratusan Juta, sudah pasti menjadi target rebutan Syiah. Syiah memandang Muslim Indonesia bukan sekedar lahan garapan, tetapi sebagai puncak kemenangan, sehingga dipandang sangat perlu menguasai Muslim dengan berbagai bentuk TAQIYAH, membaur dengan kelompok Nasionalis, PKI, dan lainnya dari aliran sesat dan agama sesat, untuk memudahkan langkah mereka menaklukan Muslim.

Wadah politik tidak harus partai Syiah, tetapi partai apa saja yang bisa melindungi populasi Syiah dan keyakinannya, misalnya dengan cara mengendari partai apa saja dengan memaksa marga Syiah ikut mendukung partai itu, Take and Give.

Salah satu kasus , Syiah mampu mendorong lolosnya Buku tanggapan terhadap Fatwa MUI yang menyerang aqidah dan ajaran Syiah melalui pengakuan Departemen Agama, namun  disisi lain Depag bersikap meng-anak tirikan MUI tanpa sepatah katapun mengeluarkan “Pengantar”. Artinya depag menjadi departemen yang tidak adil dalam mengatasi kemelut keyakinan, sikap tangan Depag yang mengulurkan tangannya untuk kebebasan adalah sikap yang berlebihan dan toleran dengan kesesatan.

Sikap Depag ini memang sangat di tunggu Syiah untuk lebih melebarkan dan mengepakkan sayap di negeri mayoritas Muslim ini. Tentu merupakan sikap berlebihan Depag yang cukup berbahaya, seolah Syiah menjadi bagian dari Islam. Padahal dalam miniatur bangunan Islam, syiah berada pada Offside, atau di luar aqidah Islam, yang menuntut Islam lenyap dari muka bumi, dan menempatkan Syiah dan ajarannya yang paling benar.

Seorang Tokoh Provokator Syiah, yang menjadi refrensi pemikiran Syiah melukiskan Sunni seperti musuh yang tak perlu di tolerer. Yuusuf Al-Bahraaniy berkata dalam kitabnya sebagai berikut :

إن إطلاق المسلم على الناصب وأنه لا يجوز أخذ ماله من حيث الإسلام خلاف ما عليه الطائفة المحقة سلفا وخلفا من الحكم بكفر الناصب ونجاسته وجواز أخذ ماله بل قتله

“Sesungguhnya pemutlakan muslim terhadap Naashib (baca : Ahlus-Sunnah) bahwasannya tidak diperbolehkan mengambil hartanya dengan sebab Islam (telah melarangnya), maka itu telah menyelisihi apa yang dipahami oleh kelompok yang benar (baca : Syi’ah Raafidlah) baik dulu maupun sekarang (salaf dan khalaf) tentang hukum kafirnya Naashib, kenajisannya, dan diperbolehkannya mengambil hartanya, bahkan membunuhnya” [Al-Hadaaiqun-Naadlirah, 12/323-324 ]

Pemicu kebencian terhadap Sunni sebagaimana diatas, bagian contoh terkecil dari program Syiah dalam upayanya meenumpas Islam. Jelas sekali menempatkan MUSLIM di tempat penjagalan Hewan, lalu di sembelih tanpa kompromi. Adalah sebuah kejahatan berlapis syiah yang banyak bertebaran dalam kitab kitabnya.

Diriwayatkan oleh guru mereka, Muhammad bin Ali bin Babawaih Al-Qummi, seorang ulama ahli hadits terkemuka yang oleh orang-orang Syi’ah diberi gelar Ash-Shaduq dalam kitabnya Ilal Asy-Syarayi’, hal. 601, terbitan An-Najf, dari Daud bin Furqad, ia mengatakan,

“Aku bertanya kepada bapakku Abdullah Alaihissalam, ‘Apa pendapat Anda tentang membunuh An-Nashib ‘pembangkang’?’ Ia menjawab, ‘Halal darahnya, tetapi aku merasa khawatir kepadamu. Sedang jika kamu mampu menimpakan dinding atau menenggelamkannya ke dalam air agar tidak ada seorang pun yang bersaksi atasmu, maka lakukanlah. Aku bertanya lagi, ‘Dan apa pendapat Anda tentang hartanya?’ Ia menjawab, ‘Sedapat mungkin rampaslah’


Al-Hurru Al-Amili dalam kitabnya Wasa’il Asy-Syi’ah (XVIII/463), dan oleh Sayid Ni’matullah Al-Jazairi dalam kitabnya Al-Anwar An-Nu’maniyah (II/307

Mereka mengatakan, “Boleh hukumnya membunuh An-Nawashib atau para pembangkang dan harta mereka halal.”


Gambaran Syiah yang brutal dan radikal bukanlah sekedar isapan jelpon Syiah, melainkan tekah mendarah daging dalam kitab kitab Syiah. Maknanya Nasib umat Islam berada dalam ancaman dan cengkraman Syiah  yang memandang rendah umat Islam di berbagai negara. Mestinya Indonesia harus bebas Syiah sebelum terlampat ..............................................

Sebagai salah satu contoh pembantaian Sunni di Baghdad bagian dari rencana matang Syiah. Al-Khomeini dalam kitabnya yang cukup populer Al-Hukumah Al-Islamiyah, hal. 142, cetakan keempat, malah mengatakan,

“Jika tuntutan taqiyah mengharuskan salah seorang kita masuk dalam komunitas para penguasa, ia wajib menolaknya, sekalipun penolakan tersebut membuat ia harus dibunuh. Kecuali jika masuknya tersebut hanya sekedar formalitas demi pembelaan yang hakiki terhadap Islam dan kaum Muslimin, seperti dilakukan oleh Ali bin Yaqthin dan Nashiruddin Ath-Thusi Rahimahumallah.”

Coba Anda perhatikan, bahwa ternyata peristiwa pembantaian massal di Baghdad yang telah diatur Nashiruddin Ath-Thusi, oleh Khomeini dianggap sebagai bentuk pembelaan yang sejati terhadap Islam dan kaum Muslimin.7 [Para ulama Syi’ah sangat memuji penjahat dari Thusi ini. Al-Hurru Al-Amili misalnya, dalam kitab Amal Al-Amal juga memujinya.pujian juga disampaikan oleh Abdul Husain Syarafuddin dalam An-Nash wa Al-Ijtihad. Bahkan ia ditempatkan di tempat yang sangat terhormat. Dan masih banyak lagi ulama Syi’ah yang memujinya. Dengan demikian jelas bahwa orang-orang yang bersimpati kepada Syi’ah, karena mereka tidak mengetahui sejarah dan keyakinan-keyakinan Syi’ah. Akibatnya, mereka terkadang begitu bersemangat membelanya jika sedang berdiskusi tentang masalah-masalah ini. Karena ketidaktahuannya itulah, sulit bagi mereka untuk menarik kembali dari posisinya.]...

Masihkah umat Islam percaya Syiah menjadi teman dan kawan pendamping di negeri ini, padahal nyata mereka bisa menggunting dan menghancurkan dalam lipatan, atau bisa menjadi bumerang kehancuran bagi mereka yang mentolerer Syiah sebagai bagian dari Islam. Ajib kita tinggal menunggu saat saat kehancuran .....selama tidak ada niat dan tekad memposisikan diri sebagai benteng Islam yang siap menghadang pemikiran Syiah yang banyak menjerat kaum muda.
Seorang doktor Muslim berkebangsaan India, Yusuf An-Najrami dalam kitabnya Ash-Syi’ah Al-Mizan, hal. 7, terbitan Mesir, mengatakan,

 “Sesungguhnya peristiwa-peristiwa Perang Salib yang dilancarkan oleh orang-orang Kristen melawan umat Islam hanyalah sebuah lingkaran yang telah diatur oleh kaum Syi’ah untuk mencelakakan Islam dan kaum Muslimin, seperti yang dituturkan oleh Ibnu Al-Atsir dan para ulama ahli sejarah lainnya. Upaya mendirikan pemerintahan Dinasti Fatimiyah di Mesir dan aksi-aksinya, adalah upaya mengaburkan sosok orang-orang Sunni untuk menjatuhkan sanksi kepada setiap orang yang berani mengingkari keyakinan-keyakinan Syi’ah. Raja An-Nadir dijatuhi hukuman mati di wilayah New Delhi oleh hakim Syi’ah bernama Ashif Khan di depan publik. Darah orang-orang Sunni juga ditumpahkan oleh penguasa Abul Fatah Daud yang juga orang Syi’ah. Tragedi pembantaian orang-orang Sunni di kota Laknao India yang menelan banyak korban, adalah hasil rancangan para pemimpin Syi’ah dengan dalih karena mereka tidak mau berpegang teguh pada Syi’ah yang mengajarkan untuk menghujat ketiga orang shahabat Radhiyallahu Anhum, pelanggaran Mir Shadiqatas tindakan kriminal pengkhianatan terhadap penguasa Tibo, dan tikaman yang dilakukan oleh Mir Ja’far di belakang Al-Amir Sirajud Daulah ….”
Bisa dibayangkan kalau Sekarang Syiah di Indonesia harus bau membau dengan agama selain Islam yang nobeni sebagai agama pembunuh dalam sejarah, jutaan manusia musnah di bantai, lalu harus menjadi Backing Syiah di negeri ini, apa yang bisa kita harapkan kalau kita belum siap mental mengahadapi Syiah?.................


0 comments: