Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Perdebatan tentang kesesatan aliran Syiah dan masih menjadi perbincangan akhir-akhir ini semakin memanas. Terutama setelah hashtag #SyiahBukanIslam ramai di media sosial, disusul dengan spanduk-spanduk dengan kalimat yang sama di beberapa daerah merespon serangan Syiah ke jamaah Masjid Az-Zikra Sentul.

Konon, Syiah dibagi menjadi tiga: Syiah moderat, Syiah Rafidhah dan Rafidhah Ekstrem. Apakah mereka semua sesat? Saya mencoba mengulasnya secara historis bagaimana sebenarnya faktanya berdasarkan analisis para ulama.

Asal Usul Syiah

Anda mungkin pernah mendengar dialog antara ulama Sunni dan Syiah tentang orang-orang Syiah yang suka mencuri sandal pada zaman Nabi SAW. Dialog berakhir setelah ulama Syiah membantah kebiasaan mencuri itu karena Syiah belum ada pada masa itu.

Tidak diketahui dari mana sumber kisah ini, ada yang mengatakan bahwa itu hanya lelucon untuk Syiah saja. Namun hal itu menimbulkan pertanyaan, yang bukan lelucon  bagaimana, benarkah Syiah belum ada pada masa Nabi? Lantas kapan Syiah muncul? Berikut beberapa pendapat, terutama dari ulama-ulama Syiah sendiri:



    Syiah muncul pada awal Islam pada zaman Nabi saw dan dibawa oleh Beliau sendiri. Beliau menyeru kepada tauhid dan pengagungan Ali secara bersamaan. Pendapat ini diyakini oleh para ulama Syiah seperti Muhammad Husein Az-Zain,[1] An-Nubakhti,[2] Khamaeini.[3] Bahkan Hazan Asy-Syirazi mengatakan, “Tidak ada Islam kecuali Syiah. Tidak ada Syiah kecuali Islam. Islam dan Syiah adalah dua nama yang hakikatnya adalah satu yang diturunkan oleh Allah dan kabar gembira yang dibawa Rasul.”[4]
    Syiah muncul pada perang Jamal, ketika Ali berperang dengan Thalhah dan Zubair. Pendapat ini diyakini oleh Ibnu Nadim (Abul Faraj Muhammad bin Ishaq Al-Baghdadi, dikenal sebagai penganut mu’tazilah dan syiah). Ia mengklaim bahwa orang-orang yang berjalan bersama Ali dan mengikutinya pada waktu itu, mereka disebut Syiah.[5]
    Syiah muncul pada perang Shiffin. Ini adalah pendapat Al-Khuwansari, Ibnu Hamzah Ath-Thusi, Abu Hatim, Ibnu Hazm, dan Ahmad Amin.[6]
    Syiah muncul setelah kematian Husein ra. Ini adalah pendapat Kamil Musthafa Asy-Syaibi. Ia  adalah ulama  Syiah. Mengklaim bahwa Syiah setelah kematian Husein berubah menjadi aliran yang memiliki ciri khas.[7]
    Syiah muncul pada akhir kekuasaan Utsman dan menguat pada masa Ali.[8]



Pendapat yang mengatakan bahwa Syiah sudah ada pada zaman Nabi SAW dan kata-kata Syiah telah beredar luas pada masa itu beliau tidaklah bersandar kepada dalil apa pun kecuali kepalsuan.



Ulama Syiah, Muhammad Mahdi Al-Husaini Asy-Syirazi mengatakan,[9] “Mereka dinamai oleh Rasul dengan sebutan itu (Syiah) karena beliau memberikan isyarat kepada Ali as:

هَذَا وَشِيعَتُهُ هُمُ الْفَائِزُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ini (Ali) dan kelompoknya, merekalah yang menang pada hari kiamat.”[10]

Namun ini adalah pendapat palsu. Seperti disebutkan oleh Muhammad Al-Husein di Ashlusy Syi’ah wa Ushuliha, pendapat yang mengatakan bahwa lafaz Syiah sudah ada pada zaman Nabi hanya bersandar pada kepalsuan.

Syiah menguatkan pendapat itu dengan riwayat yang direka-reka atas nama Nabi saw. Tidak ada yang shahih satu pun. Ulama Syiah sendiri, Ibnul Hadid, mengatakan, “Sumber kepalsuan dalam hadits-hadits keutamaan (fadhail) adalah dari Syiah. Pada awal  masalah ini, Syiah membuat banyak hadits palsu tentang keutamaan imam-imam mereka. Mereka mereka-reka hadits ini untuk alat permusuhan.” [11]



Menurut para peneliti[12]pendapat yang lebih kuat adalah pendapat ketiga, yakni Syiah muncul setelah perang Shiffin, ketika khawarij membelot dan membentuk kelompok sendiri di Nahrawan. Pada sisi lain yang berlawanan dengan Khawarij, muncullah para pengikut dan pendukung Ali yang menjadi cikal bakal pemikiran Syiah dan menguat secara bertahap sampai ekstrem.



Analisis tersebut menunjukkan adanya kesamaan dalam proses lahirnya kesesatan dan aliran menyimpang, mulai dari kaum Nuh masa lalu, Syiah, Khawarij, Nawashib, sampai Yazidi di Irak. Khawarij lahir dari kekecewaan kepada pihak tertentu, lalu berkembang menjadi kebencian, pengafiran dan penghalalan darah.

Tidak berbeda, Syiah lahir dari dukungan kepada Ali bin Abi Thalib, lalu menjadi kecintaan yang berlebihan bahkan sampai menuhankannya. Ali bin Abi Thalib sendiri pada masa hidupnya telah membakar orang-orang yang menuhankan dirinya. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, dari Ibnu Abbas ia mengatakan, “Suatu ketika Ali memerangi dan membakar orang-orang zindiq (Syiah yang menuhankan Ali).”

Syiah pada Masa Ulama Hadits dan Imam Mazhab

Tahapan perubahan keyakinan aliran Syiah terus berkembang. Definisi-definisi ulama ahli hadits dan rijalul hadits menunjukkan adanya perbedaan antara Syiah masa lalu dan masa itu. Hal ini dapat dilihat dari definisi yang diungkapkan oleh Ibnu Hajar:



التشيع في عرف المتقدمين هو اعتقاد تفضيل علي على عثمان ، وأن عليا كان مصيبا في حروبه ، وأن مخالفه مخطئ ، مع تقديم الشيخين وتفضيلهما ، وربما اعتقد بعضهم أن عليا أفضل الخلق بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وإذا كان معتقد ذلك ورعا دينا صادقا مجتهدا فلا ترد روايته بهذا ، لا سيما إن كان غير داعية 

وأما التشيع في عرف المتأخرين فهو الرفض المحض ، فلا تقبل رواية الرافضي الغالي ولا كرامة

 ‘Tasyayyu’ dalam definisi para ulama masa lalu (salaf), ialah meyakini bahwa Ali lebih utama daripada Utsman, atau bahwa Ali di pihak yang benar dalam semua peperangannya, dan bahwasanya pihak yang menyelisihinya adalah keliru, dengan tetap meyakini Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) lebih utama dan mulia daripada Ali. Sebagian dari kaum Syiah (masa lalu) mungkin saja menganggap Ali sebagai manusia paling mulia setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Bila orang yang berkeyakinan seperti itu adalah seorang yang wara’, taat beragama, jujur, dan berangkat dari hasil ijtihad; maka hadits yang diriwayatkannya tidaklah ditolak semata-mata karena keyakinan tersebut. Lebih-lebih bila ia tidak mengajak orang lain kepada pemikirannya.

Sedangkan istilah tasyayyu’ dalam definisi ulama masa sekarang (ulama setelah generasi salaf) ialah Rafidhah tulen. Maka seorang Syiah ekstrem tidak bisa diterima riwayatnya, dan tidak bernilai sama sekali. (Tahdzib At-Tahdzib, 1/81)



Di tempat lain, Ibnu Hajar berkata:

والتشيع محبة على وتقديمه على الصحابة فمن قدمه على أبي بكر وعمر فهو غال في تشيعه ويطلق عليه رافضي وإلا فشيعي فإن انضاف إلى ذلك السب أو التصريح بالبغض فغال في الرفض وإن اعتقد الرجعة إلى الدنيا فأشد في الغلو

“Tasyayyu’ adalah mencintai Ali dan mengutamakannya dibanding semua sahabat lain, dan jika mengutamakannya diatas Abu Bakar dan Umar maka dia tasyayyu’ ekstrem yang disebut Rafidhah dan jika tidak maka disebut Syiah, Jika diringi dengan mencela dan membenci keduanya maka disebut Rafidhah ekstrem. Jka mempercayai Raj’ah bahwa Ali kembali ke dunia maka disebut Rafidhah yang sangat ekstrem. (Hady As-Sari Muqaddimah Fathil Bari, 1/460)

Definisi Ibnu Hajar dalam dua kitab tersebut menunjukkan bahwa ada beberapa karakter dalam aliran Syiah:

    Tasyayyu’=Syiah: Mencintai Ali dan mengutamakannya daripada sahabat lain dengan tetap meyakini Abu Bakar dan Umar lebih utama daripada Ali.
    Tasyayyu’ ekstrem=Rafidhah: Mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar.
    Rafidhah ekstrem: Mencela Abu Bakar dan Umar
    Rafidhah sangat ekstrem: meyakini Raj’ah (hidupnya kembali imam-imam Syiah di akhir zaman).

Artinya, ada Syiah yang tidak ekstrem dan Syiah ekstrem yang disebut Rafidhah dengan tiga karakter masing-masing. Namun, menurut Imam Adz-Dzahabi, Syiah Ekstrem pada masa lalu dan masa sekarang memiliki perbedaan karakter. Hal ini diungkapkan dalam kitabnya:

فالشيعي الغالي في زمان السلف وعرفهم هو من تكلم في عثمان والزبير وطلحة ومعاوية وطائفة ممن حارب عليا – رضي الله عنه وتعرض لسبهم والغالي في زماننا وعرفنا هو الذى يكفر هؤلاء السادة ويتبرأ من الشيخين ايضا فهذا ضال معثر ولم يكن ابان بن تغلب يعرض للشيخين اصلا بل قد يعتقد بأن عليا أفضل منهما (ميزان الاعتدال 1/118).

“Penganut Syiah ekstrem pada zaman para salaf dan menurut definisi mereka, ialah orang yang mengritik dan mencela Utsman, Zubair, Thalhah, Muawiyah dan sejumlah kalangan yang memerangi Ali.

Sedangkan penganut Syiah Ekstrem pada zaman kita dan yang kita definisikan ialah mereka yang mengkafirkan para tokoh itu (para sahabat) dan memusuhi Abu Bakar dan Umar. Orang seperti ini jelas sesat dan tergelincir.” (Mizanul I’tidal, I/118).

syiah2Adz-Dzahabi berbicara dalam konteks jawaban atas pertanyaan bagaimana penganut akidah Syiah bisa diambil haditsnya dan bisa dianggap tsiqah. Maka beliau menjelaskan bahwa Syiah masa lalu dan Syiah pada zamannya berbeda. Artinya, perawi Syiah yang diambil haditsnya pada masa lalu itu tidak sama dengan para penganut Syiah pada masa Imam Adz-Dzahabi. Syiah yang bisa dipercaya itu tidak ada dan tidak ditemukan pada masa hidup Imam Adz-Dhahabi. Hal ini diungkapkan olehnya:

 فما استحضر الان في هذا الضرب رجلا صادقا ولا مامونا بل الكذب شعارهم والتقية والنفاق دثارهم فكيف يقبل نقل من هذا حاله حاشا وكلا

“Saat ini aku tidak mengetahui ada seorang pun (penganut Syiah) dalam masalah ini, yang memiliki kejujuran dan bisa dipercaya. Sebaliknya, berdusta telah menjadi semboyan mereka. Taqiyah (bermuka dua) dan kemunafikan telah menjadi jubah mereka. Bagaimana mungkin orang yang seperti ini bisa diterima riwayatnya? Sama sekali tidak mungkin.” (Mizanul I’tidal, I/118).

Perlu disebutkan bahwa definisi adalah uraian pengertian yang berfungsi membatasi objek, konsep, dan keadaan berdasarkan waktu dan tempat suatu kajian.[13] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi ialah rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan atau studi.[14] Definisi merupakan usaha para ilmuwan untuk membatasi fakta dan konsep.[15] Artinya, definisi berubah ketika faktanya berubah. Definisi Syiah oleh Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi menunjukkan hal ini, karena fakta Syiah masa lalu tidak sama dengan Syiah masa sekarang.



SYiah

Perubahan Sikap Ulama terhadap Syiah



Perbedaan karakter Syiah masa lalu dan masa selanjutnya melahirkan sikap yang jelas dan tegas dari para ulama. Imam Bukhari di kitab Khalqu Af’alil ‘Ibad mengatakan:

ما أبالي صليتُ خلف الجهمي والرافضي أم صليت خلف اليهود والنصارى؛ ولا يسلَّم عليهم ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم

“Aku tidak membedakan apakah aku shalat bermakmum di belakang seorang penganut Jahmiyah atau Rafidhah, ataukah bermakmum di belakang Yahudi dan Nasrani (semuanya tidak sah). Mereka tidak boleh disalami, tidak boleh dibesuk ketika sakit, tidak boleh dinikahi (wanitanya), tidak dilayat jenazahnya, dan tidak boleh dimakan sembelihannya.”

Imam Bukhari sangat tegas. Penulis kitab hadits yang dinilai sebagai kitab paling shahih setelah Al-Qur’an tersebut menyamakan Syiah dengan Yahudi dan Nasrani. Tidak ada ucapan salam, tidak dilayat jenazahnya, tidak dinikahi wanitanya, dan tidak dimakan sembelihannya adalah konsekuensi terhadap orang yang murtad dan keluar dari Islam.

Para Imam Mazhab juga tidak kalah tegas dalam hal ini. Imam Ahmad seperti disebutkan dalam kitab As-Sunnah (1/493), pernah ditanya oleh Abdullah putranya:

سألت أبي عن رجل شتم رجلاً من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فقال: ما أراه على الإسلام

“Aku bertanya kepada ayahku tentang seseorang yang mencaci salah seorang sahabat Nabi SAW. Maka ayah menjawab, ‘Menurutku ia tidak berada di atas Islam’.”

Imam Asy-Syafi’i mengatakan:

لم أر أحداً من أصحاب الأهواء، أكذب في الدعوى، ولا أشهد بالزور من الرافضة

“Saya tidak pernah melihat seorang pun di antara para pengikut hawa nafsu yang lebih dusta dalam pengakuan dan lebih bohong dalam kesaksian daripada Rafidhah.” (Al-Ibanah, II, 545).

Syiah Hari Ini dan Sikap Ulama

Syiah hari ini dapat dilihat dengan jelas di Iran. Karakter dan keberadaan Syiah di beberapa negara lain, termasuk Indonesia mulai tampak jelas dengan pecahnya revolusi Suriah. Terutama pada pertengahan 2013 saat kekuatan militer rezim Syiah Bashar Asad mulai melemah. Masuknya Hizbullah Lebanon dalam pertempuran Qushair pada pertengahan Mei-Juni 2013 telah mengundang perhatian ulama dunia untuk bersikap. Salah satunya adalah pertemuan ulama dunia di Kairo Mesir pasca peristiwa itu, yang melahirkan fatwa kewajiban umat Islam untuk menolong Ahli Sunnah Suriah yang dizalimi.



Yang terbaru adalah pemberontakan Syiah Hautsi Yaman yang telah merebut Ibukota Shan’a pada September 2014 lalu.

Yaman adalah basis Syiah Zaidiyah, yang dikenal dalam sejarah sebagai kelompok Syiah yang dekat dengan ahli Sunnah. Sebagian kalangan menyebutnya Syiah Moderat. Zaidiyah dinisbatkan kepada imam mereka, Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (80-122H). Imam Zaid memimpin revolusi melawan Bani Umayyah pada masa Hisyam bin Abdul Malik (122H).

Sekte Zaidiyah masih mengakui kekhilafahan Abu Bakar dan Umar. Mereka juga enggan untuk melaknat keduanya sebagaimana sekte-sekte Syiah yang lain. Namun, Syiah Zaidiyah hari ini telah berubah. (baca: Pergeseran Zaidiyah). Wilayah Saada, Yaman Utara tempat bermukim mereka telah menjadi basis kekuatan kelompok Hautsi, yang berkiblat kepada Iran, terutama setelah pemimpin mereka, Badrudin Al-Hautsi, pulang dari Iran.

Sebelumnya beberapa ulama ahli sunnah berupaya mendekatkan (taqrib) Suni dan Syiah. Salah satu wujudnya adalah penandatanganan Risalah Amman tahun 2004 oleh para ulama Suni dan Syiah, dengan tiga poin kesepakatan, yang mengarah kepada upaya saling menghormati.

Namun, tokoh besar yang ikut menandatangani Risalah tersebut, Dr Yusuf Al-Qardhawi,  hari ini menyatakan telah tertipu oleh Syiah. Kezaliman Syiah terhadap Ahli Sunah Suriah telah menyadarkannya. Ulama kelahiran Mesir tersebut menceritakan pengalamannya di banyak negara menjelaskan bahwa Syiah bukan hanya satu golongan saja. Namun fakta kekejaman Syiah di Suriah membuat beliau menyatakan:

 الشيعة خدعوني.. وحزب الله كذبة كبيرة

“Syiah telah menipuku.. dan Hizbullah adalah pendusta besar.”[16]

Ketua Persatuan Ulama Sedunia tersebut juga mengatakan, revolusi Suriah menampakkan dan menjelaskan hakikat Hizbullah dan  pendukungnya yang tertipu oleh setan. Mereka, menurutnya, tidak pantas disebut hizbullah (tentara Allah), tetapi hizbusy Syaithan (tentara setan).[17]

Konklusi

Sejarah telah menunjukkan perbedaan yang jelas antara Syiah masa lalu dan masa sekarang. Syiah yang bisa dipercaya itu sdh tidak ada pada zaman Imam Adz-Dzahabi yang hidup pada tahun 673-748 Hijriah, apalagi sekarang? Sikap ulama terhadap Syiah juga tegas, ketika hakikat Syiah telah jelas bagi mereka. (Agus Abdullah)

Referensi:

[1] Syi’ah wa At-Tasyayyu’, 19.

[2] Firaq Asy-Syi’ah, An-Naubakhati, 39.

[3] Al-Hukumah Al-Islamiyah, 136.

[4] Asy-Sya’air Al-Husainiyyah, 11.

[5] Al-Fahrasat, Ibnu Nadim, 249.

[6] Nama Ahmad Amin adalah dua orang. Kedua-duanya adalah penulis. Pertama adalah seorang Mesir penulis buku Dhuha Al-Islam wa Fajrul Islam wa bada’a Al-Islam. Kedua adalah seorang rafidhah penulis kitab At-Takamul fil Islam.

Syi’ah wa At-Tasyayyyu’, 25.

[7] As-Shilah baina At-Tashawwuf wa At-Tasyayyu’, 23.

[8] Risalah f Ar-Radd ala Ar-Rafidhah, 42.

[9] Qadhiyatu Asy_Syi’ah, 3.

[10] Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir di Tarikh Dimasyq, 24/333 dan Ibnu Al-Ghathrif di Juz’inya dari Abu Sa’id Al-Khudri, Al-Albani mengatakan dalam Adh-Dhaifah, hadits ini palsu (maudhu’).

[11] Syarh Nahjul Balaghah, 1/783

[12] Lihat Ensiklopedi Aliran yang Berafiliasi kepada Islam,

[13] Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2

[14] Departemen Pendidikan Nasional(2008);Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal 303. Cet Pertama Edisi IV.

[15] Parera, J.D.(2004);Teori Semantik.Jakarta :Penerbit Erlangga.Hal 200- Cet. 2

[16] http://www.alarabiya.net/ar/arab-and-world/syria/2013/06/02/القرضاوي-الشيعة-خدعوني-وحزب-الله-كذبة-كبيرة-.html lihat juga: http://youtu.be/N1rfdAAgWCA

[17] http://www.qaradawi.net/new/takareer/6663–q-q-

0 comments: