Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - TIAP hari menjadi sebuah perjuangan untuk mencari rizki, dan untuk mendapatkan sumber panas ketika keadaan semakin dingin. Kami tidak bisa meninggalkan kota karena pihak rezim telah menanam ranjau di wilayah sekitar kota.

Sepuluh orang telah menjadi korban dari perangkap itu ketika mereka memutuskan keluar untuk mencari makanan ataupun kayu bakar.

Perhatian semua orang saat itu adalah mencari cara agar dapat memberi anak-anak mereka beberapa gram makanan.

Saya tidak dapat berbuat apapun selain melihat keluargaku kelaparan –ibuku, ayah, saudara perempuan, sepupu, paman dan bibi– mengetahui, bahwa para pria yang memberanikan diri keluar dari kota yang tertangkap akan dipenjara, dibunuh atau kehilangan kaki setelah menginjak ranjau.

Banyak yang lain tewas karena peluru-peluru penembak jitu.

Harga makanan meningkat lebih dari tiga kali lipat. Suatu saat harga barang $2.50, kemudian akan berubah menjadi $10. Semakin intensif blokade, semakin banyak pula orang-orang yang terbunuh atau kehilangan anggota tubuh mereka karena mencoba untuk keluar, harga barang terus menanjak.

Kami mulai mengumpulkan rumput dari tanah dan memasaknya, berharap itu dapat meredakan pedihnya rasa lapar kami. Kami mencabut dedaunan dari pohonnya –pepohonan indah yang berjejer di lingkungan kami– hingga tidak ada yang tersisa.

Setelah beberapa waktu, kami tidak dapat lagi menemukan rumput untuk dimakan. Dengan datangnya musim salju, badai salju menghantam wilayah kami, dan keadaan sekarang menjadi sangat buruk.

Beberapa orang bahkan dilaporkan memakan hewan peliharaan mereka seperti kucing, anjing atau apapun yang bisa mereka makan.

Rerumputan tidak tumbuh karena datangnya salju. Dan dengan dimulainya bulan pertama musim salju, orang-orang satu persatu mati (people began to die). Pada awalnya tiga atau empat orang, saya ingat.

Saya menyusuri jalanan dan menjumpai seorang pria meninggal atau jasad seorang wanita di depan mataku. Saya tidak dapat melakukan apapun. Saya melihat seorang pria mengais tempat sampah untuk mencari secuil makanan. Saya melihatnya lebih dekat dan mengenali dia sebagai tetanggaku Toufic, seorang apoteker. Saya hampir tidak mengenali dia. Orang-orang mulai depresi dan saling berselisih tentang sisa makanan atau menuduh orang lain menimbun makanan sementara yang lain kelaparan.

Saya telah melihat bayi meninggal kekurangan nutrisi karena ibu mereka tidak dapat menghasilkan susu.

Perasaan yang saya miliki, saya tidak dapat menggambarkannya dengan kata-kata. Tidak peduli seberapa banyak saya menulis, saya tidak dapat menggambarkan apa yang telah kami lalui.

Awalnya selama pengepungan, orang-orang mulai menjual peralatan rumah tangga dan perabotan. Mesin cuci, Tv, kulkas, semua yang dapat digunakan untuk membeli makanan. Tapi semua itu, meskipun jika barang-barang itu bisa dijual, hanya dapat menjadi 100 hingga 150 gram makanan.

Saya kenal seseorang yang menjual seisi rumahnya hanya untuk lima kilogram makanan. Kalian mungkin merasa itu tidak terbayangkan, tapi itu benar adanya.

Bagaimana itu bisa terjadi? Mengapa tidak ada seorangpun yang peduli? Pertanyaan yang selalu kami tanyakan pada diri kami sendiri tiap waktu.

Saya tidak lagi berpikir tentang masa depan. Masa depan apa yang harus dipikirkan? Saya ingat dulu saya mahasiswa muda dan saya tidak dapat mengenalinya lagi.

Saya lelah sekarang. Kami berjuang untuk bertahan hidup tapi tidak terlihat seorang pun yang peduli.*/Nashirul Haq AR

(hidayatullah)

0 comments: