Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com -SEORANG penduduk kota Madaya, Suriah, menceritakan kehidupan di jurang kelaparan. Amar, seorang sarjana hukum yang berasal dari  kota Madaya, menceritakan kisahnya pada Samya Kullab, Al Jazeera, Senin (01/02/2016).

01 Februari 2016

“Saya lahir di Madaya. Saya hidup di lingkungan sederhana yang indah, dimana semua orang saling mengenal dan saling menyukai. Daerah tempat tinggal kami merupakan tempat pertama yang orang-orang lalui jika ingin menuju pusat kota Madaya.

Selama pengepungan, apa yang kami alami sama seperti apa yang dialami keluarga lain di Madaya. Kami berada dalam perjuangan terus-menerus untuk bertahan hidup. Banyak dari kami yang menghabiskan dua atau tiga hari tanpa makanan. Saya seorang pria dewasa, tetapi saya hanya berbobot kurang dari 50 kg. Kadang-kadang rasanya seolah-olah saya hidup dalam mimpi.

Saya telah melihat anak kecil sekarat karena kelaparan dan merasa tidak berdaya. Saya telah menyaksikan dunia di sekitarku hancur. Orang Madaya tidak memiliki susu, roti ataupun uang. Dan Madaya semakin dingin.

Sebelum PBB masuk ke Madaya beberapa hari yang lalu, satu kilogram gula berharga $300. Saya takut bantuan tidak akan cukup bagi kami bahkan untuk 20 hari. Dan setelah itu apa?

Tetapi biarkan saya memulainya dari 2011, permulaan dari revolusi Suriah. Pada saat itu, saya masih menjadi mahasiswa hukum di Universitas Damaskus. Saya bermimpi untuk mendapat karir yang bagus dan membuat keluargaku bangga.

Pada awalnya, revolusi dimulai dengan serangkaian unjuk rasa: orang-orang meminta kemerdekaan mereka. Beberapa teman dekatku, yang merupakan rekan sesama mahasiswa dan satu universitas ikut serta. Mereka berkorban dengan jujur.

Tapi kemudian rezim yang mengambil alih revolusi, mengubah unjuk rasa damai menjadi pertempuran bersenjata dengan menembak dan membunuh orang yang tidak bersalah.

Beberapa orang di Madaya merasa terpaksa mengangkat senjata dan membela diri mereka. Mereka pikir mereka sedang melindungi kehormatan mereka. Tetapi sekitar bulan November 2014, rezim mulai mengubah siasat mereka; mereka menerapkan kebijakan kelaparan dengan mengepung kota kami dan melancarkan serangan udara dengan bom barel mematikan. Saya melihat seluruh keluarga mati dalam serangan itu.

Selama masa itu, harga makanan mulai meningkat. Karena wilayah kami terletak di dekat perbatasan Lebanon-Suriah, Hizbullah juga bekerja sama dengan rezim Bashar al Assad untuk mengepung kami dari semua sisi, dengan rencana masuk ke kota. Pertempuran dimulai pada awal Juni 2015 di Zabadani, yang merupakan kota sebelah Madaya.

Saat itu, penduduk Zabadani mulai mundur ke Madaya untuk menghindari bombardir dan pertempuran. Madaya telah menderita karena kelangkaan suplai makanan, tapi dengan masuknya penduduk Zabadani, populasi kami tumbuh secara dramatis, sementara suplai kami terus menyusut.

Beberapa bulan kemudian, (Free Syrian Army) menyetujui genjatan senjata dengan pihak rezim dan Hizbullah (milisi Syiah. Red). Penduduk sipil diharuskan membayar sejumlah besar uang agar bisa keluar dari kota.

Saya melihat seorang pria mengais tumpukan sampah untuk mencari secuil makanan. Saya melihatnya lebih dekat dan mengenali dia sebagai tetanggaku Toufic, seorang apoteker.

Tetanggaku yang lain, seorang pria tua, membayar sekitar $3.000 agar dapat keluar dari kota dengan aman. Tetapi kebanyakan dari kami tidak mempunyai uang sebesar itu. Di bulan-bulan berikutnya, rezim memperkuat pengepungan mereka di sekitar kota. Minggu ke minggu, kami menyaksikan persediaan kami semakin habis. Pada titik ini penderitaan yang sebenarnya penduduk Madaya dimulai.*/Nashirul Haq AR (BERSAMBUNG)

(hidayatullah)

0 comments: