Breaking News
Loading...

Pendahuluan

Sebagaimana telah kita maklumi bahwa gerakan Syi’ah belakangan ini mencuat lagi kepermukaan dalam skala nasional.

Praktik-praktik penyebaran faham Syi’ah itu dilakukan secara masif dengan modus operandi yang dikemas dalam beragam media aksi, baik intelektual, sosial maupun politik, salah satu di antaranya melalui kurikulum dan buku pelajaran di sekolah-sekolah (bukti-bukti terlampir).

Sementara sasaran “dakwah” mereka meliputi ragam segmentasi masyarakat, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak.

Sehubungan dengan itu, untuk meminimalisir bahkan mencegah efek yang ditimbulkan dari propoganda mereka terhadap remaja dan anak-anak, maka diperlukan adanya strategi baru dalam mengedukasi masyarakat, khususnya para guru dan siswa, agar tumbuh kepekaan mereka akan bahaya ajaran dan gerakan Syiah.

Bukti-bukti Infiltrasi Syiah

Bukti 1.

A. Identitas Buku
Judul:
Buku Siswa: Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
untuk SD/MI kelas I

Kontributor Naskah : Ahmad Hasim dan Otong Jaelani.
Penelaah : Ismail SM dan Yusuf A. Hasan
Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.
Cetakan Ke- 1, 2013, cetakan Ke- 2, 2014 (Edisi Revisi)

B. Indikator Faham Syiah:

Nama subjek yang dijadikan sebagai model (prototype) orang yang rajin belajar adalah Ali & Fatimah. (Lihat, Pelajaran 6: Ayo Belajar, subbab D. Rajin Belajar, halaman 45)

C. Kritik dan Argumentasi:

a. Penggunaan nama Ali dan Fatimah tentu saja bukan suatu kebetulan atau penokohan fiktif.
b. Penggunaan nama Ali dan Fatimah merujuk kepada sosok siapa?
c. Apa motivasi menjadikan nama Ali dan Fatimah sebagai subjek model?
d. Apa argumentasi bahwa Ali dan Fatimah orang yang rajin belajar?

Jika Ali dan Fatimah yang dimaksud merujuk kepada sosok sahabat dan menantu Nabi saw. Maka penggunaan Ali sebagai model menguatkan propaganda Syiah yang hendak memaksa umat Islam agar meyakini Ali memiliki keutamaan daripada sahabat yang lain hingga diyakini Ali paling berhak menjadi imam setelah Nabi saw.

Dengan demikian, jika para kontributor dan penelaah naskah bukan penganut Syiah, maka pencantuman dua nama ini langsung atau tidak langsung akan menimbulkan persepsi yang keliru di benak para guru dan siswa tentang derajat Ali di satu pihak dan derajat para sahabat Nabi saw. di pihak yang lain. Apalagi jika mereka (kontributor dan penelaah) penganut Syiah, tentu saja pencantuman dua nama ini merupakan propaganda Syiah secara terselubung.

Bukti 2.

A. Identitas Buku
Judul:
Buku Siswa: Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
untuk SD/MI kelas IV

Kontributor Naskah : Faesal Ghozaly, Buchori Ismail, Hanjaeli dan Andi Mulya.
Penelaah : Ismail SM dan Yusuf A. Hasan
Penyelia Penerbitan : Politeknik Negeri Media Kreatif, Jakarta.
Cetakan Ke- 1, 2013.

B. Indikator Faham Syiah:
Nama subjek yang dijadikan sebagai model (prototype) orang yang berdialog tentang pelajaran mengenai beriman kepada rasul-rasul Allah adalah Ali & Hasan. (Lihat, Pelajaran 2: Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, subbab B. Beriman kepada Rasul, halaman 17)

C. Kritik dan Argumentasi:

a. Penggunaan nama Ali dan Hasan tentu saja bukan suatu kebetulan atau penokohan fiktif.
b. Penggunaan nama Ali dan Hasan merujuk kepada sosok siapa?
c. Apa motivasi menjadikan nama Ali dan Hasan sebagai subjek model?
d. Apa argumentasi bahwa Ali lebih faham tentang beriman kepada rasul-rasul Allah dibandingkan dengan Hasan?

Jika Ali dan Hasan yang dimaksud merujuk kepada sosok sahabat dan putranya. Maka penggunaan Ali sebagai model orang yang faham tentang beriman kepada rasul-rasul Allah juga orang yang memiliki perilaku terpuji dengan membantu kesulitan orang lain, dapat menguatkan propaganda Syiah yang hendak memaksa umat Islam agar meyakini Ali memiliki keutamaan daripada manusia yang lain hingga diyakini Ali paling berhak menjadi imam setelah Nabi saw.

Dengan demikian, jika para kontributor dan penelaah naskah bukan penganut Syiah, maka pencantuman dua nama ini langsung atau tidak langsung akan menimbulkan persepsi yang keliru di benak para guru dan siswa tentang derajat Ali di satu pihak dan derajat para sahabat Nabi saw. Di pihak yang lain. Apalagi jika mereka (kontributor dan penelaah) penganut Syiah, tentu saja pencantuman dua nama ini merupakan propaganda Syiah secara terselubung.

Bukti 3.

A. Identitas Buku
Judul:
Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
untuk SMK kelas XI kurikulum 2013

Penyusun:
a. Dra. Hj. Iim Halimah
b. Drs. Abd. Rahman, MA
c. Drs. HA. Sholeh Dimyati, MF, MM
d. Drs. H. Ridhwan, MS, MM
Editor:
a. Suci Nurul Khairiyah S. Kom. I
b. Sani Nurlatifah S.S
Konsultan:
Sobari Sutarip, Lc, MA
Penerbit: Erlangga
Setting & Layout: Tim Bupel SMP/A/K Dept. Desain-Setting
Desainer Sampul: Suprapto Ari Bowo
Percetakan: PT Gelora Aksara Pratama, Cetakan: 17.

C. Indikator Faham Syiah:
Makna “ulil amri” dalam Surat An Nisa ayat 59, dijelaskan oleh para penulisnya sebagai berikut:
“Para ulama berbeda pendapat tentang maknanya. Ada yang berpendapat bahwa maksud kata ‘penguasa’ adalah imam-imam di kalangan ‘ahlul bait’ (keluarga Nabi saw. Dari keturunan Ali dan Fatimah), ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah ‘penyeru-penyeru’ pada kebaikan dan ada pula yang berpendapat ‘pemuka-pemuka agama yang diikuti kata-katanya’.” (Bab 1: Taat pada aturan, subbab: A. Kajian QS. An-Nisa/4: 59 tentang Ketaatan, A.4.c. Makna Kosakata, halaman 5)
C. Kritik dan Argumentasi:

Keterangan makna Ulil Amri pada buku terbitan penerbit Kristen tersebut (Erlangga) berbeda dengan keterangan pada buku siswa yang diterbitkan Kemendikbud, tahun 2014. Karena pada buku terbitan kemendikbud ini hanya dicantumkan tiga pendapat ulama Islam: Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Thabari; Al-Mawardi; Ahmad Mustafa al-Maraghi. Selain itu, tidak ada satu pun yang berpendapat bahwa maksud kata ‘penguasa’ adalah imam-imam di kalangan ‘ahlul bait’ (keluarga Nabi saw. dari keturunan Ali dan Fatimah). (Lihat, Buku Siswa terbitan Kemendikbud, cetakan 1, tahun 2014. Bab Memperkaya Khazanah, subbab: A. Pentingnya Taat kepada Aturan, halaman 90-91)

Dengan demikian, infiltrasi faham Syiah ke dalam buku siswa SMK kelas XI merupakan inisiatif dari para penulis buku terbitan Erlangga itu, tanpa hubungan langsung dengan tim penulis buku terbitan Kemendikbud.

Kesimpulan

Terdapat benang merah antara buku terbitan kemendikbud dengan buku pengayaan buku teks pelajaran terbitan non pemerintah yang ditulis oleh penganut Syiah atau yang pro Syiah. Di mana para penulisnya hendak menjadikan Ahlul Bait versi Syiah (Ali, Fatimah, dan keturunannya) sebagai model agar dicintai, diikuti, dan dijadikan panutan oleh para siswa di berbagai jenjang pendidikan.

Adapun disisipkan pada pada jenjang pendidikan tertentu (kelas I & IV SD dan kelas XI) juga bukan kebetulan. Hal itu dapat dianalisa berdasarkan teori ilmu perkembangan otak dan pendidikan anak.

Teori tentang ini dianut dan diperkenalkan di Indonesia oleh pakar pendidikan Syi’ah yang juga “staf ahli menteri pendidikan” dan Tim Penyusun kurikulum 2013 Kemendikbud, yaitu Munif Chatib, di dalam bukunya berjudul “Orang tuanya manusia” (halaman 18-22). Di dalam buku itu, dia menjelaskan fase perkembangan anak berdasarkan sabda Rasulullah riwayat Syiah dalam membagi tahap kehidupan seseorang:
1. fase 7 tahun pertama, adalah raja kecil yang punya ruang lingkup khas yaitu bermain. Buku kelas 1 SD yang terindikasi Syi’ah masuk ke fase 7 tahun pertama ini dengan menampilkan sosok Ali dan Fatimah yang rajin belajar.
2. fase 7 tahun kedua, adalah pembantu. Punya hak dan kewenangan dalam ruang lingkup pendidikan dan bimbingan. Pendidikan adalah penanaman pengetahuan atau menanamkan isi sebuah kurikulum. Bimbingan adalah pengasuhan untuk membentuk kepribadian pada jalan yang di inginkan. Buku kelas IV SD yang terindikasi syi’ah masuk pada fase perkembangan 7 tahun ke dua ini.
3. 7 tahun ke tiga adalah wazir, punya hak dan ruang lingkup kewenangan musyawarah dan bersama menjalankan tugas atau kerja sama. Buku pelajaran kelas XI yang terindikasi Syi’ah masuk pada fase perkembangan 7 tahun ke tiga ini.
Teori ini diambil dari teori pendidikan Islam versi syi’ah dengan merujuk kepada kitab-kitab karya pakar pendidikan Syi’ah, antara lain Ibrahim Amini, dalam kitab-nya At-Ta’lim wa at-Tarbiyyah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Syi’ah Al-Huda ICC Jakarta dengan judul Asupan ilahi (lihat, jilid 2 halaman 35-38).

Sumber: Hasil investigasi Tim Sigabah Waspada, sigabah.com

0 komentar: