Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Masyarakat dunia Islam memprotes kekejaman yang dilakukan terhadap rakyat Suriah saat konvoi pemindahan warga sipil dan tentara oposisi yang terluka meski sudah ada kesepakatan gencatan senjata.

Emir Qatar, Syekh Tamim bin Hamad bin Khalifa al-Tsani menyatakan rasa simpatinya pada Aleepo hingga mengumumkan pembatalan perayaan Hari Nasional negara itu pada pekan depan sebagai bentu solidaritas kepada rakyat Suriah di wilayah bergolak itu.

“Kami turut merasakan kesedihan yang dialami warga Aleppo yang kini menghadapi penyiksaan dan pembantaian,” lapor Kantor Berita Qatar.

Sementara itu, lampu-lampu di Menara Eiffel di Paris sempat dimatikan menandai kekejaman yang dilakukan terhadap warga sipil oleh tentara Bashar dengan dukungan Rusia, Iran dan milisi Syiah di wilayah itu.

Lampu di puncak menara Eiffel Tower sempat dimatikan pada hari Rabu, 14 Desember 2016 seagai bentuk solidaritas kemanusiaan kota yang tengah terkepung  Rezim Bashar.

Menara Eiffel biasanya menyalakan lampunya mulai pukul 01.00 dan 02.00 dan menjadi simbol persatuan, kutip The Independent, Kamis (15/12/2016).

Beberapa demonstran juga berkumpul di dekat menara tersebut dengan memakai pakaian berwarna merah yang melambangkan pertumpahan darah di kota kedua Suriah itu.

Di Kuwai,  sekitar 2000 demonstran berbaris di luar Kedutaan Rusia, mengutuk dukungan Moskow kepada tentara Suriah.

“Hari ini, rakyat Suriah yang berperang dengan Rusia. Mayat orang awam bergelimpangan di jalan-jalan raya di Aleppo.

“Kami menyerukan kepada Turki dan negara-negara Teluk untuk mengusir duta Rusia dan memutuskan hubungan diplomatik dengan Moskow,” tegas anggota parlemen Kuwait, Jamaan al-Harbash yang menyertai protes tersebut.

Kuwait juga telah meminta Liga Arab agar mengadakan pertemuan darurat Senin ini untuk membahas tentang Aleppo.

Jerman menuduh rezim Bashar dan pendukungnya telah melakukan kejahatan berat dan menyerukan penghentian perang dengan segera.

“Kita tahu bahwa para tentara Iran serta milisi Syiah dibiayai oleh Iran terlibat dalam semua ini,” kata  juru bicara Kanselir Angela Merkel Steffen Seibert Steffen saat konferensi pers sebagaimana dilansir Anadolu Agency, Rabu (14/12/2016).

Stasiun Televisi Orient TV milik kelompok oposisi melaporkan, konvoi pertama membawa penduduk yang terluka terpaksa mundur setelah ditembak kelompok pro-Bashar al Assad saat mendekati area Ramousah.

“Konvoi itu ditembak oleh tentara rezim, menyebabkan tiga orang terluka termasuk seorang anggota pertahanan sipil. Mereka kemudian terpaksa dibawa pulang ke daerah yang telah dikepung, “kepala layanan ambulans di daerah tersebut, Ahmed Sweid.

Menteri Luar Turki, Mevlut Cavusoglu menegaskan bahwa Turki, Rusia dan Iran akan mengadakan pertemuan di Moskow pada 27 Desember ini untuk mencari solusi konflik selama hampir lima tahun di Suriah.

“Kami sedang berusaha untuk melakukan gencatan senjata di seluruh negara dan mengadakan negosiasi untuk memulai jalan solusi politik,” katanya kepada stasiun televisi TGRT Haber sambil berjanji bahwa Ankara akan melanjutkan upaya menyelamatkan warga Suriah dalam waktu dekat.

Sebagaimana diketahui, evakuasi warga sipil dan kelompok oposisi Suriah yang sebelumnya direncanakan dimulai Rabu pagi (14/12/2016) di Aleppo mengalami penundaan.

Gencatan senjata di kota itu tak bertahan setelah adanya penembakan dan serangan di kawasan-kawasan yang masih dikuasai oposisi.

Para pegiat HAM Suriah, mengakui, evakuasi warga yang seharusnya dimulai Rabu pagi waktu setempat di Aleppo tidak berjalan.

Di saat kecemasan dan ketakutan menghantui banyak pihak akan nasib warga sipil yang terjebak, Presiden Suriah Bashar al-Assad hari Rabu (15/12/2016), justru mengatakan pasukannya akan terus melancarkan serangan terhadap kelompok pembebasan dan oposisi. (hidayatullah)

0 komentar: