Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Organisasi Amnesty International menuding milisi Populer Syiah Irak telah melakukan kejahatan perang dan kemanusiaan di Irak dengan dukungan persenjataan dari 16 negara, termasuk diantaranya buatan Amerika Serikat, Rusia, dan Iran.

“Milisi Syiah Irak memiliki stok senjata dan amunisi yang diproduksi di 16 negara, termasuk diantaranya senjata ringan, sistem artileri roket, kendaraan lapis baja buatan Cina, Eropa, Irak, Iran, Rusia dan Amerika Serikat,” tulis Amnesty dalam laporan yang diterbitkan pada hari Kamis (5/1) dengan judul “Irak: menutup mata dengan mempersenjatai milisi Syiah Populer.

Vehicles of Iraq's pro-government mainly-Shiite Popular Mobilisation force are paraded in the streets of Baghdad on July 12, 2016, during a rehearsal for a military show to be held later this week by the Joint Operations Command to celebrate the recapture of Fallujah from the Islamic State group jihadists. At the end of last month, Iraqi forces recaptured Fallujah, a city 50 kilometres (30 miles) west of Baghdad, in a major setback for IS. / AFP / SABAH ARAR (Photo credit should read SABAH ARAR/AFP/Getty Images)

Amnesty Internasional mendesak negara-negara penyuplai senjata ke Irak menerapkan kontrol yang lebih ketat dan mengawasi transfer senjata untuk mencegah jatuh ke tangan kelompok-kelompok bersenjata, yang digunakan membantai warga sipil.

Sejak tahun 2014 Amnesty Internasional telah berhasil mendokumentasikan ribuan penculikan, penyiksaan serta eksekusi di luar kerangka hukum yang dilakukan milisi Populer Syiah bentukan Iran di Irak.

Organisasi pemantau HAM yang berbasis di ibukota London mencurigai adanya skema perlindungan terstruktur terhadap milisi Populer Syiah oleh pemerintahan Baghdad, terlebih PM Haider al-Abadi kini mendanai dan memfasilitasi operasi genosida massal warga Sunni Irak dengan dalih perang melawan Negara Islam. (Skynewsarabia/Ram)

0 komentar: