Breaking News
Loading...

Oleh: Moh Pizaro

REVOLUSI Suriah telah menyedot perhatian banyak pihak dalam kurun lima tahun terakhir ini. Di samping, problem kemanusiaan, revolusi Suriah juga telah memunculkan istilah baru,  Wahabi Takfiri.

Sejatinya istilah ini jarang kita dengar pada satu dekade lalu. Namun meletusnya konflik Suriah membuat istilah ini menjadi wacana sekaligus problematika baru yang sarat dengan unsur politis dengan menargetkan sentimentkepada Ahlussunnah wal Jamaah.

Kamus Wikipedia sendiri mendefinisikan istilah takfiri sebagai, “A Sunni Muslim who accuses another Muslim (or an adherent of another Abrahamic faith) of apostasy.Accusing other Muslims of being takfiris has become a sectarian slur, particularly since the outbreak of the Syrian Civil War in 2011.”

Lantas siapakah pihak yang gencar mempromosikan istilah ini, apa maksudnya, dan mengapa mencuat?

Takfiri adalah istilah baru. Muncul pasca gerakan tsaurah (Revolusi Suriah) 25 Januari 2011, dimana gerakan rakyat untuk perobahan yang justru dilawan Rezim Bashar al Assad dengan gerakan bersenjata.

Adalah Phillip Smyth, peneliti dari University of Maryland dalam laporannya yang dimuat laman jurnal  washingtoninstitute.org berjudul, The Shiite Jihad in Syria and Its Regional Effect, 2 Februari 2015, menjelaskan, Iran dan proksinya sejak musim gugur 2012 terlibat dalam kampanye estensif di media untuk menyudutkan kelompok pembebasan Suriah dan kalangan mujahidin yang didominasi Ahlussunnah. Bagi Iran, oposisi Suriah yang mau melawan Bashar dengan segenap keyakinannya adalah “takfiri”.

Iran dan proksinya, lanjut Smyth,  telah menggunakan isu “ancaman Takfiri” untuk menarik perhatian kelompok minoritas di Bumi Syam guna mendukung tindakan milisi Hizbullah yang dikenal Syiah. Kelompok-kelompok inilah yang menjadi sasaran empuk propaganda keterlibatan Hizbullah memerangi kelompok perlawanan Sunni di Suriah.

Dalihnya: lautan Sunni akan menguasai Suriah dan membahayan eksistensi minoritas.

Salah satu kampanye secara massif dilakukan Jaringan Televisi Hizbullah, al-Manar. Dalam satu siarannya, al-Manar mengklaim bahwa warga Kristen dipaksa dengan todongan senjata untuk masuk Islam oleh “pemberontak takfiri.” Selain itu, Iran’s Islamic Revolutionary Guard Corps(IRGC) atau Tentara Pengawal Revolusi Iran- yang memiliki link dengan Fars News Agency-juga menggunakan istilah “pemberontak takfiri” menyerang desa-desa Kristen di Homs dan membunuh warga sipil Kristen.

Belakangan, dunia dikejutkan pada tahun 2014 dengan pengakuan 13 biarawati yang ditawan Jabhah Nushrah sejak Desember 2013. Yang rupanya, mereka mengaku mendapatkan perlakuan yang baik.

Istilah takfiri jelas stima politik yang secara baik dimanfaatkan Syiah untuk melemahkan perlawanan kelompok pembebasan Suriah dan mujahidin yang sejak 2011 head to head melawan tangan besi Bashar yang mendapat dukungan penuh Iran, Rusia dan milisi Syiah Hizbullah Lebanon.

Pada 25 Mei 20013, misalnya, sekjen Hizbullah, Hasan Nashrallah, meluncurkan pidatonya mengenai keterlibatan Hizbullah dalam pertempuran di al-Qusayr, Suriah. Nasrallah berdalih, masuknya Hizbullah di Qusayr berada dalam ‘misi memerangi kelompok takfiri’ (maksudnya mujahidin Ahlus Sunnah). Ia pun mengadu-domba dengan mengatakan,  Sunni telah menjadi korban kelompok takfiri.

“Pikiran takfiri ini telah membunuh lebih (banyak) Sunni daripada sekte Muslim lainnya … Kami tidak sedang mengevaluasi masalah ini dari perspektif Sunni atau Syiah, tetapi dari erspektif gabungan muslim dan Kristen bersama-sama, karena mereka semua terancam oleh proyek takfiri ini.” [Lihat:Phillip Smyth, The Shiite Jihad in Syria and Its Regional Effect, The Washington Institute for Near East Policy: 2015]

Penyematan istilah Wahabi–Takfiri juga digunakan Syiah memanfaatkan sentimen anti Barat. Ayatullah Khamenei tampaknya jeli membidik opini ini dengan menudingwahabi takfiri adalah aliansi antara oposisi Suriah dengan Barat.

“Curigalah pada jenis Islam yang menguntungkan Washington, London, Paris, dan kebarat-kebaratan, kaku, dan suka kekerasan,” tukas Khamenei dalam pidato pada Februari 2012 lalu, seolah ingin medelegetimasi perlawanan kelompok Sunni (khususnya kalangan mujahidin di Syuriah) sekaligus mencitrakan seolah-olah rezim Bashar Assad, Syiah dan Iran sebagai pihak paling anti Barat.

Sayangnya, apa yang diucapkan Khamenei berbanding terbalik dengan kenyataan. Iran dan Suriah akhirnya bekerjasama dengan AS yang leluasa melakukan serangan di Aleppo, Idlib, dan kota-kota lainnya.

Begitu juga dengan Rusia yang justru berjabat tangan dengan Israel. Kedua negara setidaknya bertemu dua kali di Tel Aviv dan Moskow untuk melancarkan serangan Rusia ke Suriah pada akhir September 2015.

Meskipun banyak yang menjadi korban kekerasan adalah anak-anak, tidak ada kritik berarti dari Khamenei.

Kelompok HAM di Suriah, Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mencatat, sejak Rusia menyerang Suriah pada tanggal 30 September 2015 hingga 20 November 2015, 403 penduduk sipil telah tewas, termasuk di antaranya adalah anak-anak.

Namun alih-alih mengoreksi invasi militer Rusia yang banyak membunuh warga sipil, komandan Pasukan Al-Quds Iran, Jenderal Qasim Sulaimani justru dikirim ke Moskow untuk memohon pada Putin bersedia meningkatkan intervensinya di Suriah.

Lalu, pertanyaannya, mengapa istilah takfiri dilekatkan dengan Wahabi?

Syiah memahami betul adanya sentimen anti Wahabi di kalangan Ahlussunnah. Cara dakwah sebagaian da’i yang mudah menyalahkan amalan pada ranah furu’, akhirnya dimanfaatkan Syiah untuk menggandeng sebagian kalangan Sunni. Tidak jarang muncul kalimat yang populer kalangan Syiah kepada sejumlah tokoh Sunni, “Daripada ente tidak diakui Sunni, lebih baik gabung sama kita (Syiah).”

Karenanya, perbedaan di tubuh Ahlussunnah yang belakangan cukup memanas sebenarnya juga harus jeli dilihat umat Islam sendiri. Selama Ahlussunnah terus-menerus membesar-besarkan masalah furu’ di kalangan Ahlussunnah, dan selama Ahlusunnah masih suka mencari-cari kelemahan diantara mereka, maka di situlah Syiah biasanya mengeruk keuntungan dengan memecah kebersamaan.

Sikap mudah membid’ahkan dan merasa paling benar sendiri dalam hal furu’ diantara bahan bakar bagi Syiah untuk mengadu domba Ahlussunnah wal Jamaah, yang bagi Syiah dan dimasukkan bagian dari ciri-ciri kelompok Takfiri.

Ado domba seperti ini sudah dicium Ketua Rabithah Ulama Syam, Syeikh Usamah Ar Rifai. Meski berpaham Asy’ari, Syeikh Usamah tidak mau terbawa dengan isu-isu pertentangan seperti itu. Menurutnya, tudingan seperti ini banyak dihembuskan oleh milisi Syiah untuk mengadu domba.

“Alhamdulillah, seluruh komponen kaum Muslimin, baik dari Sufi, Salafi dan lain sebagainya dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah bersatu dalam menghadapi rezim Assad. Dan majelis pertemuan saat ini (Muktamar Ulama Suriah) merupakan perwakilan dari seluruh ulama, dai, dan para imam dari seluruh Suriah dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah,” pungkas ulama yang sangat disegani di kalangan ulama Mazhab Imam Syafi’i ini.

Pernyataan Syaikh Usamah terkait persatuan ulama menjadi menarik. Sebab majelis ini benar-benar menjadi wadah bersatunya berbagai kelompok umat Islam di Suriah baik Asy’ari, Ikhwani, maupun Salafi.

Padahal Ahlussunnah wal jamaah adalah pemahaman tawassuth yang jauh dari kesan takfiri sebagaimana yang kerap digunakan oleh Syiah. Ahlussunnah adalah ajaran yang menghargai sesama muslim, bertoleransi dalam fiqh, namun bersatu dalam akidah. Ia berdiri kokoh di atas ukhuwah Islamiyah dengan menghargai Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi Thalib. Bukan ideologi yang berani menumpahkan darah kaum muslimin, dan mengkafirkan para sahabat, istri nabi, dan tidak mau berbaiat kepada dua belas imam.

Semoga masalah ini membuat kita makin bijak dan berfikir cerdas di era zaman penuh fitnah ini. Wallahu a’lam.*

Penulis jurnalis peliput Suriah, penulis buku “Zionis-Syiah Bersatu Hantam” (hidayatullah)

0 komentar: