Breaking News
Loading...

Seorang pendeta syi'ah yang bernama "Wail Ar-Radhawi" yang berdusta atas nama Imam Al-Baihaqi 
Syiahindonesia.com - Bukan syi’ah kalau tidak berdusta dan bukan syi’ah pula kalau tidak bermain licik. Imam Mahdi syi’ah yang dimaksud adalah Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari. Dan yang sangat menggelikkan adalah salah satu bahits syi’i “Sayyid Wa’il Ar-Radhawi” menyatakan bahwasanya Imam Baihaqi -rahimahullah- dalam kitabnya “Syu’abul Iman” mengatakan bahwa Imam Mahdi sudah dilahirkan dan sudah ada wujudnya dan Imam Mahdi itu ialah Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari.

Kedustaan ini dilakukan olehnya dalam sebuah perdebatan bersama syaikh Khalid Al-Wushabi hafidzahullah. Akhirnya dia ketahuan berdusta dan terpojokkan dan mau tidak mau pendeta syiah inipun harus minta maaf kepada para penonton karena telah berani berdusta di hadapan mereka. Memang begitu memalukan jika harus berdusta demi membela agama konyol dan mendukung agama yang penuh dusta.

Dan yang sangat lucu Sayyid Wa’il Ar-Radhawi bukannya berhujjah dari kitab Imam Baihaqi secara langsung yakni “Syu’abul Iman”, namun justru mengambil nukilan dari sebuah kitab “Al-Mahdi Al-Mau’ud Al-Muntadzar ‘Inda Ulamaa As-Sunnah Wa Al-Imamiyyah” karangan Sayyid Najmuddin Ja’far bin Muhammad Al-Askari. 

Saya katakan: Sangat-sangat mustahil jika Imam Al-Baihaqi menyatakan bahwasanya Imam Mahdi syi’ah adalah Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari yang sudah dilahirkan sejak dahulu kala yang hidup bertahun-tahun lamanya. Mustahil Imam Al-Baihaqi menyatakan seperti itu. 

Mari kita lihat teks yang ada dalam kitab “Al-Mahdi Al-Mau’ud ‘Inda Ulamaa As-Sunnah Wa Al-Imamiyyah”:


    منهم العلامة الشيخ أبو بكر أحمد بن الحسين بن علي البيهقي النيسابوري الفقيه الشافعي المتوفي سنة 458 ه فإنه ذكر في كتابه شعب الإيمان وقال: اختلف الناس في أمر المهدي فتوقف جماعة وأحالوا العلم إلى عالمه واعتقدوا أنه واحد من أولاد فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم يخلقه الله متى شاء يبعثه نصرة لدينه وطائفة يقولون: إن المهدي الموعود ولد يوم الجمعة منتصف شعبان سنة خمس وخمسين ومائتين وهو الإمام الملقب بالحجة القائم المنتظر محمد بن الحسن العسكري وأنه دخل السرداب بسر من رأى وهو مختف عن أعين الناس, منتظر خروجه ويظهر ويملأ الأرض عدلا وقسطا كما ملئت جورا وظلما

    “Diantara mereka (ulama ahlusnnah) adalah syaikh Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain bin Ali Al-Baihaqi An-Naisaburi Al-Faqih Asy-Syafi’i yang wafat pada tahun 458 H. Sesungguhnya beliau menyebutkan dalam kitabnya ‘Syu’abul Iman’, beliau berkata: ‘Orang-orang berselisih dalam perkara Imam Mahdi. Maka sebuah jama’ah bertawaqquf dan menyerahkan ilmunya kepada yang mengetahuinya. Dan mereka meyalkini bahwasanta Mahdi adalah salah satu dari anak keturunan Fathimah bintu Rasulillah shallallallahu alaihi wa sallam yang Allah ciptakan kapan saja Dia kehendaki. Yang Allah bangkitkan untuk menelong agamaNya. Dan sebagian kelompok menyatakan: Sesungguhnya Mahdi yang dijanjikan lahir pada hari jum’at pertengahan sya’ban pada tahun 255 H. Dan beliau adalah Al-Imam yang diberi gelar dengan Al-Hujjah Al-Qa’im Al-Muntadzar Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari. Dan bahwasanya beliau masuk ke dalam gua dan beliau tidak terlihat oleh mata orang-orang. Yang ditunggu-tunggu keluarnya beliau dan beliau akan muncul mengisi muka bumi dengan keadilaan sebagaimana muka bumi telah diisi dengan kedzaliman”.  (Al-Mahdi Al-Mau’ud Al-Muntadzar ‘Inda Ulamaa As-Sunnah Wa Al-Imamiyyah 1/182)

Hal ini sangat mudah untuk kita jawab  dari berbagai segi:

Pertama: Ini adalah uslub dan metode yang sangat tidak ilmiyyah dan memalukan. Seharusnya ketika seseorang ingin menyatakan bahwa Imam Al-Baihaqi mengatakan seperti ini dan seperti ini, maka dia harus mendatangkan langsung dari kitab Imam Al-Baihaqi. Bukan malah mendatangkan teks sebagai nukilan yang tidak jelas dari sebuah kitab yang bukan karangan dari Imam Al-Baihaqi itu sendiri.

Adapun yang tertera dalam kitab Al-Mahdi Al-Mau’ud ‘Inda Ulamaa As-Sunnah Wa Al-Imamiyyah, itu adalah sebuah perkataan dusta yang dinisbatkan dan disandarkan kepada Imam Al-Baihaqi yang mana mustahil bagi seorang ulama Ahlussunah mengatakan hal tersebut.

Saya tantang seluruh orang syi’ah rafidhi untuk mendatangkan langsung teks dari kitab Imam Al-Baihaqi terkhsusunya Syu’ab Al-Iman yang menyatakan bahwa Imam Mahdi adalah Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari yang sudah dilahirkan. Kita tantang orang syi’ah untuk mendatangkannya. Maka merekapun tidak akan mampu karena pada asalnya sama sekali tidak ada Imam Al-Baihaqi mengatakan hal seperti itu.

Maka begitulah cara untuk membuktikan sebuah perkataan dengan membaca kitabnya langsung dari penulisnya bukan mengambil dari nukilan-nukilan semata terlebih kalau yang menukil tersebut adalah syi’i, maka jelas di situ sangat mungkin terjadi kedustaan dan pembohongan kepada para pembaca.

Maka kita tantang mereka untuk mendatangkan buktinya kalau mereka adalah orang-orang yang jujur.

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Katakanlah: ‘Datangkanlah bukti kalian, jika kalian adalah orang-orang yang jujur’” (QS. Al-Baqarah: 111)

Kedua: Terlebih yang sangat tidak ilmiyyah adalah buat apa mengambil nukilan dari orang yang tidak jelas dan ternyata itupun dia menukilnya dari pendeta syi’ah dan bukan langsung dari Imam Al-Baihaqi langsung. Dan ternyata pula dalam kitab tersebut tidak tertera siapa penerbitnya kitab Syu’abul Iman tersebut,  dan cetakan ke berapa maupun tahun berapa, halaman berapa dan jilid ke berapa.

Adakah Sayyid Najmuddin Ja’far Al-Askari mencantumkan sumbernya. Kitab Syu’abul Iman, penerbit apa itu? Cetekan ke berapa? Dan halaman serta jilid keberapa?

Maka begitulah syi’ah yang hanya ikut membeo tanpa jelas arah kebenarannya dan fakta ilmiahnya. Cukuplah seseorang dikatakan berdusta dengan menukil sebuah perkataan tanpa mau dicari dulu fakta kebenarannya.

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta dengan menyampaikan seluruh apa yang ia dengar” (HR. Muslim)

Ketiga: Kita tekankan kepada para pembaca. Kalau ada orang syi’ah yang menyatakan bahwasanya ada ulama sunnah yang mengatakan bahwa Imam Mahdi adalah Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari yang saat ini sudah lahir dan sudah ada wujudnya, maka hanya akan ada 4 kemungkinan:

- Itu adalah perkataan dusta yang dinisbatkan kepada salah seorang ulama ahlussunnah seperti yang dinisbatkan kepada Imam Al-Baihaqi rahimahullah. Yang pada asalnya, nash ataupun teks tersebut sama sekali tidak ada wujudnya.

- Mereka melakukan talbis dan tadlis. Mereka memotong perkataan salah seorang ulama ahlussunnah dan ternyata sama sekali tidak bermaksud apa yang mereka maksud. Yang mana mereka hanya melakukan talbis dan penipuan saja.

- Mereka hanya bersandar kepada kitab-kitab ulama syi’ah dan belum memeriksanya langsung dari kitab-kitab ahlussunnah.

- Atau mereka bersandar kepada kitab-kitab mutasyyi’ orang yang berpindah kepada agama syi’ah. Kemudian dengan sesuka hati mereka menyatakan: ‘Lihat, inilah ulama ahlusunnah mengatakan seperti ini dan itu’. Padahal dia bukanlah sunni melainkan syi’ah.

Sehingga yang tersisa untuk mereka hanyalah kedustaan yang telah diancam oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

إِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kedustaan membawa kepadakan kefajiran. Dan kefajiran membawa kepada neraka. Dan sesungguhnya seseorang akan selalu berdusta sampai ditulis di sisi Allah bahwa dia adalah seorang pundusta” (HR. Muslim)

Semoga pemaparan yang sedikit ini bermanfaat, wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad. (alamiry)

0 comments: