Breaking News
Loading...

Kondisi salah satu masjid di kota Miqdadiyah [foto: Al-Araby Al-Jadid]
Syiahindonesia.com - Tak terdengar lagi suara adzan ke telinga Abu Bilal (57), warga Iraq yang tinggal di pinggiran kota Al-Miqdadiyah, provinsi Diyala, setelah seluruh masjid di kota yang sebelumnya dikontrol ISIS tersebut dihancurkan dan dijarah. Kondisi tak jauh berbeda juga terjadi di pusat kota.

Haji Burhanudin Abdullah, lansia yang bertugas membersihkan dan menjaga salah satu masjid di pusat kota Al-Miqdadiyah, kepada harian online Al-Araby Al-Jadid mengaku sangat sedih saat ini hanya bisa melaksanakan shalat lima waktu di rumah. Kesedihan itu semakin mendalam ketika memasuki bulan Ramadhan seperti ini. Saya tidak bisa lagi membersihkan masjid dan melayani para jamaah.

“Sudah enam bulan masjid yang saya rawat selama tiga dekade ditutup setelah sebuah bom memporak-porandakan masjid. Saya pun kini takut melintas di depan masjid itu,” ujar Abdullah.

Memasuki bulan Ramadhan tahun ini, kakek 60 tahun itu berharap ada umat Islam di belahan bumi lainnya ikut membantu dan merasakan penderitaan kami yang hidup di kota Muslim, namun tanpa masjid. Akan tetapi, keluhnya, harapan itu seakan sirna. Bisa dikatakan, kota Miqdadiyah saat ini menjadi “Kota Hancur”.

Haji Abdullah menunjukkan, terdapat sejumlah masjid di kota Miqdadiyah yang masih kokoh berdiri. Akan tetapi, warga tak bisa mendatangi masjid itu bahkan hanya sekedar melintas atau berbicara di jalan di depannya. Militan-militan Syiah menjaga masjid tersebut dan tak segan-segan mengeksekusi warga yang mencoba memasuki masjid.

Mantan Anggota Badan Wakaf Sunni di Diyala, Syaikh Umar Adil, menuturkan sebenarnya pihaknya ingin membangun kembali masjid-masjid di Miqdadiyah yang hancur akibat pertempuran. Akan tetapi, milisi-milisi Syiah melarang membangun kembali masjid-masjid yang telah hancur dan membuka masjid-masjid yang masih kokoh berdiri.

Adil menjelaskan, terdapat lebih dari 130 masjid di kota Miqdadiyah. Seluruhnya hancur atau disegel atau dijarah. Hanya ada sejumlah masjid yang masih berdiri di pinggiran Miqdadiyah namun tak ada berani yang mendekat.

Perdana Menteri Haidar Al-Abadi dan Ketua Parlemen Iraq Salim Al-Jabur pernah berjanji menyeret milisi-milisi Syiah ke pengadilan setelah penyerangan jamaah shalat jumat di Miqdadiyah yang menewaskan 80 jamaah. Namun, janji itu tak pernah direalisasikan meski sudah setahun berlalu peristiwa itu.

Awal tahun ini, milisi Syiah menghancurkan 8 masjid di Miqdadiyah setelah sebuah bom meledaki di sebuah cafe di wilayah mayoritas Syiah di dekat Miqdadiyah. Bom tersebut mereka jadikan alasan legal untuk menghancurkan masjid dan melakukan penangkapan serta pembunuhan warga Sunni. (kiblat)

0 comments: