Breaking News
Loading...

Aleppo menangis
Syiahindonesia.com - Sekitar 50 serangan udara menghantam wilayah yang dikuasai oposisi di kota Aleppo dan sekitarnya, pada hari Minggu, atau sehari menjelang bulan suci Ramadhan umat Islam di seluruh dunia.

Menurut sumber lokal dan kelompok pemantau HAM Suriah, SOHR, rangkaian serangan ini menjadi salah satu yang terberat akhir-akhir ini oleh pesawat pemerintah Assad dan Rusia.

Seorang pekerja pertahanan sipil mengatakan bahwa sedikitnya ada 32 orang terbunuh di bagian Aleppo yang dikontrol oposisi setelah terjadinya serangan.

18 mayat dievakuasi dari bangunan yang rata dengan tanah. Sementara kawasan Qatrji menjadi yang paling parah.

SOHR menyebut ada puluhan bom Birmil atau drum yang diisi bahan peledak telah dijatuhkan secara bebas dari helikopter ke pemukiman padat penduduk.

"Serangan pengeboman dalam seminggu ini sangat intensif, dari hari ke hari makin mengerikan... Menjadi yang terburuk yang kami saksikan dalam beberapa waktu belakangan", jelas Bebars Mishal, seorang petugas pertahanan sipil di bagian Aleppo yang dikuasai oposisi.

Di sisi lain, pejuang oposisi dilaporkan menyerang wilayah Aleppo yang dikuasai rezim Assad dengan serangan mortir.

Media pro Assad mengklaim bahwa serangan oposisi telah membunuh puluhan orang, di distrik-distrik sisi barat kota Aleppo.

Aleppo, salah satu kota terbesar di Suriah, telah terbagi 2. Bagian timur atau Aleppo tua berada di tangan oposisi, serta bagian barat dikuasai rezim Assad.

Sementara itu, sebuah pesawat tempur tak dikenal jatuh di kawasan selatan pinggiran Aleppo, yaitu di daerah pertempuran pejuang oposisi Islamis melawan tentara Assad yang didukung Iran dan milisi Syi'ah asing. Tidak ada informasi rinci tentang insiden itu.

Serangan udara Assad/Rusia yang terjadi jelang Ramadhan ini juga dilaporkan mengguncang provinsi Idlib.

Media pro oposisi, Orient-news, melaporkan ada 12 serangan di kota Idlib dan membunuh banyak warga sipil, setelah pengeboman mengguncang pasar dan pemukiman penduduk. (Reuters/SOHR/Orient-news)

0 comments: