Breaking News
Loading...

Foto by: Antiliberalnews
Syiahindonesia.com - Menurut Nahimunkar, produk (dari Iran) yang ada di Indonesia dan harus diboikot berupa kurma, karpet, sajadah juga barang tambang. Memboikot produk negara yang memerangi umat Islam merupakan bentuk jihad ekonomi memerangi kaum yang mendzalimi Muslimin. Contoh konkret aksi boikot yang berdampak cukup signifikan misalnya terhadap produk Denmark atas kasus penghinaan melalui kartun Nabi Muhammad yang pernah dimuat di media. Seluruh produk Denmark seperti susu, keju dan lain-lain ditarik dari pasar-pasar di Timur Tengah. Alhasil, itu membuat jera negara tersebut agar tidak berbuat seenaknya terhadap ajaran Islam dan kaum Muslimin.

Selain itu, Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat, Ustadz Fahmi Salim, Lc, MA, telah mengungkapkan bahwa aksi boikot produk Syiah Iran merupakan keputusan ijma’ ulama Ahlus Sunnah di Kairo, Mesir.

“Untuk memboikot produk Iran yang mendukung Bashar Al-Assad itu kan sudah menjadi ijma’ ulama Ahlus Sunnah di Kairo. Produk (dari Iran) yang ada di Indonesia ini yang kelihatan ada kurma, karpet, sajadah kemudian barang tambang tapi tidak terlalu banyak,” kata ustadz Fahmi Salim kepada voa-islam, Rabu (17/7/2013).

Sebagai bentuk protes atas dukungan Syiah Iran terhadap rezim diktator Bashar Al-Assad, maka aksi boikot produk Syiah Iran menurut ustadz Fahmi adalah senjata ekonomi yang memiliki dampak signifikan.

“Senjata ekonomi itu cukup signifikan, memboikot produk negara yang memerangi umat Islam itu didasari karena mereka kan mendapatkan income dari produk yang dijual ke seluruh dunia. Kalau bisa kita boikot, kita tidak membelinya, itu akan menurunkan volume devisa perdagangan mereka di dunia internasional,” jelasnya.

Ia pun menyampaikan, contoh konkret aksi boikot yang berdampak cukup signifikan adalah terhadap produk Denmark lantaran penghinaan melalui kartun Nabi Muhammad yang pernah dimuat di media. Seluruh produk Denmark seperti susu, keju dan lain-lain ditarik dari pasar-pasar di Timur Tengah. Akhirnya pemerintah Denmark pun meminta maaf dan meminta dibuka kembali hubungan dagang.

Untuk diketahui, Muktamar ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dunia menggelar muktamar Internasional Islamic Coordination Council (IICC) dengan pembahasan “Sikap Ulama Umat Terhadap Konflik Suriah”  telah mengeluarkan sebelas poin resolusi yang mereka sepakati.

Acara yang berlangsung di Kairo Mesir tersebut, telah diselenggarakan pada 4 Sya’ban 1434 H/13 Juni 2013 M dan dihadiri oleh lebih dari 500 tokoh dan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dari 50 negara yang masing-masing berafiliasi kepada 65 organisasi dan yayasan Islam di dunia. Berikut ini sebelas poin resolusi tersebut:

  1.     Kewajiban syar’i  umat muslim berjihad di Suriah.
  2.     Perang di Suriah adalah perang terhadap Islam.
  3.     Menyerukan persatuan umat muslim (ahlusunnah)-Syiah bukan Islam.
  4.     Apresiasi terhadap peran pemerintah Turki dan Qatar, dan seruan terhadap para pemimpin Arab dan  Organisai Negara Teluk (CCASG) untuk membantu perjuangan rakyat Suriah.
  5.     Seruan terhadap umat Islam untuk memboikot produk-produk Iran.
  6.     Optimalisasi peran para ulama dan cendekiawan muslim untuk menyadarkan umat perihal hakikat konflik Suriah.
  7.     Mengingatkan tentara Suriah akan haramnya darah kaum muslimin.
  8.     Mengingatkan PBB dan DK PBB akan peran yang seharusnya ditempuh dalam menangani konflik di Suriah.
  9.     Mengecam kepada segenap pihak yang mengklasifikasi dan menilai sebagian organisasi pejuang kebebasan rakyat Suriah sebagai aksi teroris dan terorisme.
  10.     Maksimalitas upaya dan peran organisasi-organisasi kemanusian dunia Islam dalam membantu perjuangan rakyat Suriah, khususnya dalam menangani para eksodos dan pengungsi Suriah.
  11.     Pembentukan tim khusus untuk memantau segala upaya dan realisasi dari hasil yang telah dicapai melalui muktamar ini.

Demikian sebelas poin resolusi tersebut yang penting untuk diketahui oleh  kaum Muslimin di seluruh dunia agar mereka menyatukan sikap terhadap revolusi Suriah.

kimia dates iran

Mengapa Selain Produk Zionis, Produk Syiah juga harus Diboikot?
Aksi boikot produk Syiah Iran telah menjadi resolusi yang disepakati (ijma’) ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam muktamar di Kairo, Mesir yang diselenggarakan pada 4 Sya’ban 1434 H/13 Juni 2013 M dan dihadiri oleh lebih dari 500 tokoh dan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dari 50 negara.

Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat, Ustadz Fahmi Salim, Lc, MA, mengungkapkan Aksi boikot merupakan senjata ekonomi yang ampuh.

Aksi boikot pernah diserukan oleh Raja Faishal terhadap Amerika agar tidak memberikan dukungan terhadap negara Zionis saat terjadi perang Arab-“Israel”.

Hal serupa pun pernah diserukan saat Denmark membiarkan pelecehan terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat kartun yang dipublish sebuah media di negara tersebut.

“Dulu kita kan pernah memboikot produk Denmark, karena ada kasus penghinaan, dengan kartun Nabi Muhammad. Produk Denmark seperti susu, keju, butter dan semacamnya sampai ditarik di pasar-pasar seluruh Timur Tengah, sebagai bentuk protes. Akhirnya mereka meminta maaf dan minta dibuka lagi hubungan perdangan, itu artinya aksi boikot itu efektif,” kata ustadz Fahmi Salim kepada voa-islam, Rabu (17/7/2013).

Namun, masih ada saja yang bertanya-tanya, mengapa produk Syiah Iran yang diboikot, bukan produk Zionis?

Zionis dan Syiah itu sama, memerangi umat Islam. Iran mengintervensi dalam permasalahan Suriah.

Ia pun menjawab dengan tegas, bahwa alasan boikot tersebut, karena Zionis dan Syiah sama-sama memerangi Islam. “Zionis dan Syiah itu sama, memerangi umat Islam,” tegasnya.

Ia menjelaskan, Syiah Iran telah mengintervensi permasalahan Suriah dengan mendukung rezim Bashar Al-Assad yang membunuhi kaum Muslimin di sana.

“Iran mengintervensi dalam permasalahan Suriah. Umat Islam yang mayoritas Sunni di sana menuntut adanya kebebasan, reformasi politik yang mana rezim Bashar ini berkoalisi dengan Syiah Iran kemudian Rusia dan Cina. Oleh sebab itu kita juga harus berfikir memboikot produk Cina dan Rusia,” pungkasnya. (antiliberalnews)

0 comments: