Breaking News
Loading...

Foto by: Hidayatullah
Syiahindonesia.com - Lebih dari seperempat juta anak yang tinggal di daerah yang terkepung di Suriah hidup di bawah ancaman “teror,” karena begitu seringnya mereka mengalami serangan bom barel, serangan udara dan pemboman, sebut sebuah kelompok bantuan pada hari Rabu (09/03/2016) dikutip middleeasteye.net.

Menurut sebuah laporan baru oleh Save the Children, setidaknya 250.000 anak-anak tidak memiliki akses makanan, air bersih dan obat-obatan dan tumbuh menjadi anak yang “penyendiri, agresif atau depresi” sebagai akibat dari efek peperangan.

“Anak-anak hidup di ambang kematian. Mereka dipaksa untuk makan dedaunan – bahkan tepung dan susu dilarang di bawa ke dalam (daerah terkepung Suriah), ” ujar Raed, pekerja pemberi bantuan.

The Childhood Under Siege melaporkan, berdasarkan wawancara ekstensif dengan orang-orang yang berada di daerah yang terkepung, menemukan bahwa pembatasan akses dan peperangan semakin memburuk selama enam bulan terakhir. Banyak anak-anak yang menderita gizi buruk dan ada laporan yang telah tersebar luas mengenai jumlah kematian anak sebagai akibat dari pengepungan.

Save the Children mengatakan, warga yang mencoba melarikan diri dilaporkan ditembak mati oleh para penembak jitu, yang telah menjebak banyak warga Suriah di penjara terbuka.

“Seorang anak bayi kerabat meninggal karena kekurangan gizi karena kurangnya formula dan makanan untuk anak-anak. Ibunya tidak bisa menyusuinya karena dia sendiri dalam kesehatan yang sangat buruk,” Um Tarek, seorang ibu di Misraba, pinggiran Damaskus, mengatakan kepada kelompok bantuan tersebut.

Hassan, seorang ayah yang melarikan diri dari kota timur Deir Ezzor, mengatakan bahwa ia sudah putus asa berusaha melindungi keluarganya dari teror di luar sana.

“Ketika penembakan terjadi, anak-anak saya ketakutan … saya melihat empat anak yang terkena bom,” katanya. “Kejadian itu sangat tragis, saya bahkan tidak bisa melihat apa yang terjadi. Beberapa anak-anak kehilangan anggota tubuh mereka. ”

Bahkan jika tidak ada bom, keluarga tersebut juga menghadapi sejumlah tantangan.

“Saya biasa berbohong kepada anak-anak saya dan memberitahu mereka kalau rumput bisa dimakan. Tapi dengan siapa saya bercanda? Rumput tentu tidak bisa dimakan … saya meyakinkan mereka bahwa membeli rumput itu untuk dimakan sama seperti orang lain. Aku makan rumput itu di depan mereka sehingga mereka yakin, ” katanya.

“Saya (menyaksikan) anak-anak saya berkurang berat badannya setiap hari dan saya tidak bisa melakukan apa-apa. Anak-anak saya kehilangan lebih dari seperempat dari berat badan mereka. ”

Analisis terbaru oleh Syrian American Medical Society (SAMS) menemukan bahwa dari 560 kematian yang disurvei, hampir 50 persen dari korban adalah anak di bawah 14 tahun.

Penyebab dari kematian ini kebanyakan dapat dicegah, termasuk menelan racun secara tidak sengaja saat mengais-ngais makanan, atau kurangnya perawatan medis darurat, kata organisasi tersebut.

“Anak-anak meninggal akibat kekurangan makanan dan obat-obatan di bagian Suriah yang hanya beberapa kilometer jaraknya dari gudang berisi bantuan yang menumpuk tinggi. Mereka akan mendapatkan balasanya karena tidak bertindak (dalam permasalahan) dunia,” kata CEO Save the Children, Tanya Steele.

“Keluarga yang diwawancarai untuk laporan ini membicarakan banyaknya bayi yang sekarat di pos pemeriksaan, dokter hewan yang mengobati manusia dan anak-anak dipaksa untuk makan makanan hewan selagi mereka meringkuk di bawah tanah karena ketakutan dengan serangan udara. Cukup adalah cukup. Setelah hampir lima tahun konflik di Suriah, saatnya untuk mengakhiri pengepungan.
Hassan said: "When we didnâÂÂt find food in Deir Ezzor we were eating grass. I used to lie to my children and tell them that the grass is edible. But who am I kidding? The grass wasnâÂÂt edible. I also ate it in front of them so they would be convinced, but it wasnâÂÂt edible. I was watching my kids losing weight everyday and I wasnâÂÂt able to do anything. My children lost more than a quarter of their weight. They were very healthy before. We didnâÂÂt receive any aid in Deir Ezzor and we didnâÂÂt have any other option to leave" Hassan and his family (his wife Razan* and their children Rami*, 10, Taraq*, eight, Firas*, six and one year old Yana*) were living under siege for several months before they were able to flee. They had no food and he and his family, like others, resorted to feeding their children grass, to abate their hunger. It took them two months to reach Lebanon. Hassan* and his wife and two sons are visibly very underweight. He suffers with fatigue and chest pains. He says his children have lost over a quarter of their body weight. He and his family escaped on foot through the mountains. He tells us that there were several times throughout their journey to Lebanon that he did not think his children would survive.

Hassan melarikan diri dari Suriah ke Libanon dengan keluarganya (Nour Wahid / Save the Children)

Bulan Pebruari, dunia dikejutka musibah di Madaya, sebuah kota berpenduduk 40.000 orang di bagian barat laut Suriah, telah terkepung selama lebih dari enam bulan, dan penduduknya terpaksa memakan dedaunan dan serangga untuk bertahan hidup. Aktivis setempat mengatakan bahwa kota tersebut dikelilingi oleh lahan ranjau, dan penembak jitu musuh yang akan menembak siapapun yang mencoba untuk mencari makanan.

Rihab, seorang ibu di Timur Ghouta, yang berbicara dengan badan amal tersebut dalam keadaan namanya aslinya tidak boleh disebut, mengatakan “ketakutan telah mengambil alih kontrol”.

“Anak-anak sekarang menunggu giliran mereka untuk dibunuh. Bahkan orang dewasa hidup hanya untuk menunggu giliran mereka untuk mati, ” katanya.

Timur Ghouta adalah salah satu dari 18 daerah di Suriah yang sekarang dianggap sebagai daerah terkepung oleh PBB, meskipun beberapa kelompok bantuan menyebutkan angka yang lebih tinggi secara signifikan.

Pada awal Februari, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan mereka yakin ada 486.700 orang berada di bawah pengepungan, sementara jaringan pemantauan Siege Watch memperkirakan hampir mencapai satu juta orang. Bahkan LSM Doctor Without Borders (MSF) menempatkan angka yang lebih tinggi, dua juta orang.

Gencatan senjata yang dengan susah payah mulai berlaku akhir bulan lalu, dengan pengiriman bantuan ke daerah-daerah yang terkepung akhirnya diperbolehkan, namun pelanggaran masih berlangsung dan kelompok bantuan menggambarkan pengiriman bantuan sebagai “ad hoc” terbaik dan telah “sering dilucuti persediaan penting termasuk peralatan medis “.

Ahmed, seorang anak di Douma, mengatakan bahwa ia merasa amat sulit melupakan peperangan.

“Ketika saya mendengar suara granat atau pesawat, saya langsung ketakutan dan saya segera melarikan diri dan bersembunyi di bawah tempat tidur saya,” katanya. (hidayatullah)

0 comments: