Breaking News
Loading...

Illustrasi
Syiahindonesia.com - Ada sekelompok orang yang mengambil bagian harta dari Baitul-Maal, shalat bersama orang-orang lainnya, namun mereka menyembah berhala secara diam-diam. Maka didatangkanlah mereka ke hadapan ‘Ali bin Abi Thalib, lalu menempatkan mereka di masjid – atau di penjara – .

‘Ali berkata, “Wahai sekalian manusia, apa pendapat kalian tentang satu kaum yang mengambil bagian harta dari Baitul-Maal bersama kalian, namun mereka menyembah berhala-berhala ini?”

Orang-orang berkata, “Bunuhlah mereka!”

Ali berkata, “Tidak, akan tetapi aku melakukan sesuatu kepada mereka sebagaimana mereka dulu (yaitu para penyembah berhala) melakukannya kepada ayah kita Ibrahim.”

Lalu ia membakar mereka dengan api. Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 10/142 & 12/392; sanadnya shahih.

Dari Suwaid bin Ghafalah: Bahwasannya ‘Ali pernah membakar orang-orang zindiq di pasar. Ketika ia membakarnya, ia berkata, “Allah dan Rasul-Nya benar.”

Kemudian ia berpaling dan akupun mengikutinya. Ia menengok kepadaku dan berkata, “Suwaid?”

Aku berkata, “Benar,”

Aku lalu berkata, “Wahai Amiirul-Mukminiin, aku telah mendengarmu mengatakan sesuatu.”

Ali berkata, “Wahai Suwaid, sesungguhnya aku tinggal bersama kaum yang bodoh. Jika engkau mendengarku mengatakan, ‘Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka itu benar.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 10/141 & 12/391-392; dan sanadnya hasan,

Syiah yang Dibakar

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Barri 12/270 mengatakan:

“Abul Mudhaffar Al Isfirayini mengatakan dalam Al-Milal wan-Nihal bahwa yang dibakar oleh ’Ali itu adalah orang-orang Rafidlah yang mengklaim sifat ketuhanan pada diri ’Ali. Dan mereka itu adalah Saba’iyyah. Pemimpin mereka adalah ’Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang menampakkan keislaman. Dia membuat bid’ah berupa ucapan seperti ini.

Dan sangatlah mungkin asal hadits ini adalah apa yang kami riwayatkan dalam juz 3 dari hadits Abu Thaahir Al-Mukhlish dari jalan ’Abdullah bin Syariik Al-’Aamiriy, dari ayahnya ia berkata: Dikatakan kepada ’Ali, “Disana ada sekelompok orang di depan pintu masjid yang mengklaim bahwa engkau adalah Rabb mereka.”

Lantas beliau memanggil mereka dan berkata kepada mereka, “Celaka kalian, apa yang kalian katakan?”

Mereka menjawab, “Engkau adalah Rabb kami, pencipta kami, dan pemberi rizki kami.”

Ali berkata, “Celaka kalian, aku hanyalah seorang hamba seperti kalian. Aku makan makanan sebagaimana kalian makan, dan aku minum sebagaimana kalian minum. Jika aku mentaati Allah, maka Allah akan memberiku pahala jika Dia berkehendak. Dan jika aku bermaksiat, maka aku khawatir Dia akan mengadzabku. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah dan kemballah.”

Tetapi mereka tetap enggan.

Ketika datang hari berikutnya, mereka datang lagi kepada ’Ali, kemudian datanglah Qanbar dan berkata, “Demi Allah, mereka kembali mengatakan perkataan seperti itu.”

Ali pun berkata, “Masukkan mereka kemari.”

Tetapi mereka masih mengatakan seperti itu juga.

Ketika hari ketiga, beliau berkata,”Jika kalian masih mengatakannya, aku benar-benar akan membunuh kalian dengan cara yang paling buruk.”

Tetapi mereka masih berkeras masih menjalaninya. Maka ’Ali berkata, “Wahai Qanbar, datangkanlah kepadaku para pekerja yang membawa alat-alat galian dan alat-alat kerja lainnya. Lantas, buatkanlah untuk mereka parit-parit yang luasnya antara pintu masjid dengan istana.”

Beliau juga berkata, “Galilah dan dalamkanlah galiannya.”

Kemudian ia memerintahkan mendatangkan kayu bakar lantas menyalakan api di parit-parit tersebut.

Ia berkata, “Sungguh aku akan lempar kalian ke dalamnya atau kalian kembali (pada agama Allah).”

Maka ’Ali melempar mereka ke dalamnya, sampai ketika mereka telah terbakar, ia pun berkata :

Ketika aku melihat perkara yang munkar

Aku sulut apiku dan aku panggil Qanbar

Ini adalah sanad yang hasan.”

Bantahan Ibnu Abbas

Diriwayatkan juga oleh Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya, no. 3017, bahwasannya ‘Ali radhiyallaahu ‘anhu pernah membakar satu kaum.

Sampailah berita itu kepada Ibnu ‘Abbas, lalu ia berkata, “Seandainya itu terjadi padaku, niscaya aku tidak akan membakar mereka, karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah menyiksa dengan siksaan Allah’. Dan niscaya aku juga akan bunuh mereka sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barangsiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah ia.’”

Maka sampailah perkataan Ibnu Abbas itu pada ‘Ali, dan ia berkata, “Benarlah Ibnu ‘Abbas.”

Perkataan Ali bin Abi Thalib ini diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi no. 1458; dengan status shahih.

Dengan demikian, Ali bin Abi Thalib membenarkan pendapat Ibnu Abbas serta mengoreksi pendapatnya terdahulu. (firmadani)

0 comments: