Breaking News
Loading...

Tentara Teroris “Israel” dan Syiah Assad Saling Melindungi
Tentara Teroris “Israel” dan Syiah Assad Saling Melindungi

Oleh : Dr. Faisal Al-Qasim

Syiahindonesia.com - Media corong Partai Ba’ath di Suriah ahli dalam berbohong dan berpropaganda untuk kepentingan rezim. Selama bertahun-tahun, mereka telah berhasil menanam banyak benih-benih mitos dalam pikiran jutaan rakyat Suriah.

Rezim, misalnya, telah diproklamirkan ke orang-orang Suriah dan dunia Arab sebagai “pemain kunci” dalam perjuangan melawan “entitas Zionis”. Hal ini juga mendorong slogan bahwa “tidak ada yang lebih penting daripada pertempuran”, sehingga mereka berkuasa di bawah “hukum darurat” dan menindas oposisi dengan dalih bahwa “negara dalam keadaan perang” dengan apa yang mereka sebut sebagai “musuh Zionis”. Rakyat Suriah telah hidup selama empat dekade tanpa bisa berkumpul di jalanan dengan kelompok beranggotakan lima orang atau lebih, karena “hukum darurat” mencegah perkumpulan tersebut, yang dianggap merupakan “ancaman bagi keamanan nasional dan proses menghadapi ‘Israel'”. Itulah yang badan-badan intelijen fasis ingin semua orang agar percaya, meskipun bagi kebanyakan dari mereka, selama empat puluh tahun rezim berkuasa belum pernah sekali pun melepaskan tembakan tunggal terhadap terduga “musuh”, meskipun berkuasa dengan mentalitas dan hukum yang diorientasikan untuk perang.

Yang lebih buruk adalah bahwa rezim membuat rakyat percaya bahwa mereka adalah ujung tombak bangsa Arab terhadap proyek Zionis dari “Israel”. Setiap warga Suriah yang diduga memiliki hubungan, bahkan meskipun jauh, dengan “Israel” bisa berakhir di penjara selama bertahun-tahun. Ribuan warga Suriah telah gugur di penjara rezim atas tuduhan bahwa mereka berkomunikasi, bahkan secara tidak langsung, dengan negara Zionis. Saya mengenal seseorang yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di penjara atas tuduhan “mengirim salam secara elektronik” kepada sanak saudaranya di Palestina. Seseorang lainnya bertemu kerabatnya yang tinggal di Palestina saat ia berada di Yordania, dan akhirnya menghabiskan setengah hidupnya di penjara. Rakyat Suriah percaya bahwa rezim adalah musuh terburuk “Israel” di wilayah tersebut, dan dengan demikian mereka mengambil posisi permusuhan terhadap tetangga mereka, sejalan dengan rezim.

Tentara Suriah belajar untuk membenci “Israel” sejak keluarga Assad mengambil alih kekuasaan pada tahun 1970, sehingga doktrin perang selalu difungsikan untuk menghadapi Zionis. Namun sungguh aneh, bahwa tentara ini hanya berperang dalam satu pertempuran melawan “Israel” selama era Assad; selama empat puluh tahun mereka telah menghabiskan tujuh puluh persen dari anggaran nasional Suriah sambil duduk di baraknya. “Israel”, sementara itu, telah menyerang Suriah puluhan kali, menghancurkan nuklir dan lokasi strategis; jet tempur “Israel” telah terbang di atas istana Assad di pantai dan di Damaskus sebagai provokasi, tapi rezim tidak memungkinkan tentaranya untuk menembak bahkan satu pun rudal anti-pesawat ke arah mereka.

Dengan kata lain, doktrin tentara Suriah adalah satu hal, tapi kenyataannya sama sekali berbeda. Ini jelas bahwa “Israel” memahami permainan dengan jelas, dan tahu bahwa retorika “anti-Zionis” dari rezim itu hanya untuk dikonsumsi oleh khalayak domestik saja; bahwa tentara Suriah tidak berada untuk menghadapi “Israel”, tapi untuk mengontrol rakyat Suriah.

Pertimbangkan fakta bahwa Istana Republik dan Garda Republik dengan senjata strategis ditemukan di kaki Gunung Qassioun, dalam jangkauan pandang Gunung Hermon, yang diduduki oleh “Israel” dan di mana pasukan “Israel” bisa melihat mobil bergerak di jalan-jalan Damaskus. Jika rezim Assad benar-benar takut “Israel”, mereka tidak akan menempatkan Garda Republik dan senjata dalam visibilitas penuh dari musuh. Ini telah menjadi jelas sejak awal revolusi bahwa senjata berat yang berlokasi di Gunung Qassioun, yang menghadap Damaskus, berada untuk meneror ibukota jika rakyat bergerak “melawan pemerintah”. Pada kenyataannya, ini telah terjadi; peluru yang dilepaskan ke Damaskus dan daerah sekitarnya selama revolusi semuanya berasal dari Gunung Qassioun.

Revolusi Suriah telah menguak fakta bahwa peran utama tentara adalah untuk melindungi rezim dan, memang, “Israel” dari rakyat Suriah. Ketika mereka mengarahkan senjata pada lawan rezim, hal itu dilakukan dengan restu “Israel”. Assad cukup banyak mengaku pada awal revolusi ketika dia mengatakan bahwa “Israel” tidak akan membiarkan rezimnya jatuh dan bahwa mereka telah memberinya lampu hijau untuk menghancurkan lawan-lawannya.

Dengan semua kebohongan terungkap, rakyat Suriah sekarang bertanya-tanya mengapa “Israel” tidak mengambil keuntungan dari kelemahan tentara Suriah, yang menurut rezim adalah ancaman terbesar bagi “Israel”. Mengapa tidak mengambil keuntungan dari kelemahan ini, dan menghancurkannya sekali dan untuk selamanya? Sebaliknya, “Israel”, bersama dengan AS, bersikeras mempertahankan jasa tentara dan pasukan keamanan Suriah.

Sungguh ironis bahwa “Israel” selalu menuntut perlindungan dari institusi militer Suriah, yang telah menguras kekayaan nasional Suriah selama setengah abad terakhir dengan dalih menghadapi “Israel”. Jika Anda masih tidak percaya, baca apa yang wartawan Amerika Seymour Hersh – teman dari Presiden Suriah – katakan : “Kepala Staf Gabungan AS selama bertahun-tahun menyediakan informasi intelijen tentang kelompok-kelompok oposisi untuk tentara Suriah. Adalah ‘Israel’ yang mengirim secara khusus informasi AS langsung ke tentara Suriah, terduga musuh dari ‘Israel’.” (antiliberalnews.com)

0 comments: