Breaking News
Loading...

Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia Umar Shahab.
Syiahindonesia.com - Dalam lanjutan sesi tanya jawab antara panelis dan peserta diskusi bertajuk ‘Syiah, Sektarianisme dan Geopolitik’, Direktur Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Muhammad Amin Jamaluddin mendebat Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia Umar Shahab.

Amin Jamaludin menukil sebuah buku terbitan kaum syiah berjudul ‘Mafatihul Jinan’ yang ia bacakan sendiri di hadapan peserta diskusi di Aula KH Ahmad Dahlan, Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, tadi malam (16/02). (Baca juga: Diskusi Jurnal Maarif, Ketua Dewan Syuro ABI: Ali Itu Manifestasi Tuhan di Muka Bumi)

“Shalat Rasul dua rakaat dan di setiap rakaat bacalah surah Al-Fatihah satu kali dan ‘Inna Anzalnahu’ dalam surah Al-Qadr lima belas kali. Bacalah juga surah Al-Qadr tersebut ketika rukuk, bangun dari rukuk, sujud pertama, bangun dari sujud pertama, baca juga di sujud kedua, dan bangun dari sujud kedua yang dari masing-masing tersebut dibaca lima belas kali. Sehingga dalam satu rakaat sebanyak 90 kali membaca surah Al-Qadr dan jika dua rakaatnya membaca 180 kali membacanya,” ujar Amin saat membacakan isi buku tersebut.

“Dalam buku ini semua imam syiah itu membuat tata cara shalat sendiri-sendiri,” lanjutnya.

Amin juga mengutarakan buku syiah yang berjudul ‘Mafatihul Jinan’ (Kunci-Kunci Surga) ini seolah ingin menyampaikan kalau mengikuti buku ini maka sudah memiliki kunci surga. Padahal isi-isinya sangat menyimpang dengan ajaran Islam.

Menanggapi hal itu, Ketua Dewan Syuro ABI Umar Shahab mengatakan kitab ‘Mafatihul Jinan’ merupakan kumpulan buku tentang doa-doa yang diriwayatkan oleh imam-imam syiah.

“Catatannya ini buku doa bukan buku fiqh. Doa hanyalah sekedar doa yang riwayatnya bisa lemah bisa tidak,” bantahnya.

Terkait riwayat shalat-shalat itu, Umar menegaskan, bukan berarti bahwa imam-imam syiah membuat shalat masing-masing.

“Jujur sebenarnya jikalau mau jadi orang syiah benar itu susah. Kaki pegal karena banyak sunah-sunah rawatibnya. Rawatib di kalangan Syiah itu 51 rakaat jadi 34 rakaat sehari-hari. Belum lagi yang 100 rakaat. Kalau mau jujur susah jadi syiah itu, saran saya lebih baik gak usah masuk Syiah lah. Memang jadi Syiah juga ada enaknya,” tuturnya.

Umar melanjutkan penjelasannya soal hadits yang dipajami oleh sekte syiah itu tidak terbatas pada perbuatan, perkataan dan ketetapan (takrir) Rasulullah SAW. Hadits Syiah itu yakni “Qaulul ma’sum wa fi’luhu wa takriruhu” jadi lebih melebar bukan hanya kepada Rasulullah SAW melainkan kepada 14 imam yang dianggap suci oleh kaum Syiah.

Dosen STFI Sadra ini juga secara terus terang membuka diri bahwa konsepsi ketuhanan antara Syiah dan Islam (Sunni) memang beda. Umar menuding konsep ketuhanan Ahlusunnah cenderung pada konsep mujassimah (cenderung memfisikkan).

“Sedangkan konsepsi Tuhan Syiah, ‘la haraka‘ (tidak berbentuk) jadi memang beda konsepsi Syiah dengan Sunni. Kalau Syiah memahami Tuhan dengan hal-hal yang berhubungan kepada keyakinan, lebih condong kepada argumen yang rasional ketimbang argumen tekstual. Adapun Sunni sebaliknya lebih meyakini beragumen dengan tekstual ketimbang argumen rasional,” sebutnya.

Amin yang telah lama berkiprah sebagai peneliti aliran sesat ini menjelaskan, landasan dasar antara Islam (Sunni) dengan Syiah memang sangat jauh berbeda sehingga hal ini menyebabkan persatuan antara Islam dan Syiah adalah hal yang mustahil.

Ia bercerita pernah dipanggil oleh Kemenko Polhukam dan anggota DPR untuk menjelaskan perbedaan hadits-hadits umat Islam Ahlusunnah yang bersumber hanya dari Nabi Muhammad SAW, sedangkan di Syiah semua perkataan imam-imam mereka itu adalah hadits.

“Jadi menurut saya tidak mungkin antara Syiah dan Sunni tidak akan bisa bersatu, sebab tuhannya saja berbeda,” ungkapnya. (kiblat.net)

0 comments: