Breaking News
Loading...

Anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat, Dr. Abdul Chair Ramadhan
Syiahindonesia.com - Maraknya gerakan Syiahisasi di berbagai negara berupa gerakan militer maupun nirmiliter terkhusus di negara-negara yang mayoritas Sunni termasuk di Indonesia, anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI, DR Abdul Choir Ramadhan mengatakan, kepentingan idiologi Syiah Imamah Iran ini adalah ekstansi. Ekstansi itu bersifat peran nasional lintas batas atas negara dan mengandung nilai-nilai transedental.

“Maksudnya, Iran mengembangkan paham Imamah yang masuk ke dalam suatu negara. Dalam hal ini, termasuk di Saudi melalui pendekatan keagamaan yakni untuk mengelabui umat. Jelas ini merupakan tindakan terorisme terselubung yang mengancam kedaulatan suatu negara. Hal yang sama dilakukan Syiah ini juga terjadi di Indonesia,” ujar Abdul Choir kepada Kiblat.net, Kamis (07/01).

Terorisme itu kan bermacam-macam, ada yang secara langsung melakukan perlawanan dan ada yang tidak langsung dengan ancaman nirmiliter, semuanya intinya sama mengancam kedaulatan negara.

“Perlu diketahui, gerakan Syiahisasi wajib diwaspadai, kejadian di Saudi menjadi pelajaran bagi seluruh negara khususnya negara yang mayoritas Ahlus Sunnah wal Jamaah karena mereka telah berani memberikan ancaman-ancaman terhadap suatu kedaulatan negara,” tegasnya.

Abdul Choir menjelaskan, Syiah kini sudah tidak Taqiyah lagi, melainkan berani muncul. Perlu diketahui bahwa Syiah di Indonesia ini indikasinya gerakan-gerakan politik dan gerakan strategis berupa gerakan nirmiliter mereka kini telah nyata. Syiah di Indonesia akan berupaya mendirikan sistem pemerintahan sebagaimana sistem pemerintahan di Iran, jelas ini harus diperhatikan. Menjadi perhatian bagi pemerintah bahwa Syiah ini ingin menguasai kekuasaan pemerintah baik legislatif maupun eksekutif dan elit pemerintahan.

“Namun, kini Syiah di Indonesia belum mungkin menggunakan perlawanan militer melainkan menggunakan gerakan ancaman nirmiliter. Akan tetapi justru ancaman ini lebih berbahaya dari gerakan militer,” katanya.

Lanjutnya, sehingga apabila hal ini mereka lakukan dengan kuat baik melalui aktor keamanan, pertahanan, elit pemerintahan baik legislatif maupun eksekutif, maka mereka akan mampu mengambil kekuasaan secara politik dan ini akan sangat bahaya ketika tokoh-tokoh mereka sudah berada pada posisi-posisi strategis, atau mereka telah bersinergi dengan pemerintah yang telah mengikuti idiologinya.

“Nah, ancaman ini harus diwaspadai oleh pemerintah, bahwa ancaman Syiah ini berupa ancaman nirmiliter. Ancaman ini sama seperti bahayanya dengan ancaman PKI dan Komunis, maka perlu diwaspadai,” pungkasnya. (kiblat.net)

0 comments: