Breaking News
Loading...

Ketua Umum Aliansi Ulama Madura KH. Ali Karrar Shinhaji
Syiahindonesia.com - Puluhan kiai dan ulama sepuh dari Madura dan Jember Jawa Timur mendatangi Ketua Majelis Ulama (MUI) KH Ma’ruf Amin di kantor MUI di Jakarta. Para kiai itu minta agar Kiai Ma’ruf Amin mengawasi dan bahkan memecat pengurus MUI dan Nahdlatul Ulama (NU) yang diindikasikan berpaham di luar Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja).

”Kami sampaikan kepada Kiai Ma’ruf Amin agar mengawasi dan bahkan kalau perlu memecat pengurus MUI dan NU yang ditengarai berpahamSyiah, Islam Liberal, Wahabi dan sebagainya,” kata Ketua MUI Bangkalan KH Syarifuddin Damanhuri Jumat (6/11/2015).

Rombongan kiai yang mendatangi Kiai Ma’ruf Amin, antara lain: KH Nuruddin A. Rahman (Bangkalan), KH Makki Sarbini (Bangkalan), KH Sadid Jauhari (Jember), KH Ali Karrar (Pamekasan), KH Syarifuddin Damanhuri (Bangkalan), KH Busyro Damanhuri, KH Fauzi Tijani (Sumenep), KH Taufiqurrahman (Sumenep), KH Jazuli Nur (Bangkalan), KH Buchori (Sampang), KH Mahrus Abdul malik (Sampang), dan KH Ali Rahbini (Pamekasan).

Kiai Syarifuddin yang juga Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangkalan itu menuturkan bahwa dirinya sempat mengungkap kasus kerjasama KH Said Aqil Siradjdengan Universitas Al-Muthafa Al-Alamiyah Qom Iran.

”Kami sempat menyampaikan kepada Kiai Ma’ruf Amin soal kerjasama PBNU dengan Universitas di Iran. Kami minta agar kerjasama itu diputus,” kata Kiai Syarifuddin Damanhuri.

Sebelumnya diberitakan, KH Syech Ali Akbar Marbun, Pengasuh Pondok Pesantren Al Kautsar Al Akbar Medan Sumatera Utara (Sumut), minta agar Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding-MoU) antara KH Said Aqil Siradj selaku Ketua Umum PBNU periode 2010 – 2015 dengan Jami’ah Al-Musthafa Al-Alamiyah (Al-Musthafa International University – MIU) Republik Islam Iran dicabut.

”Pencabutan tersebut harus dilakukan secara terbuka,” kata Syech Ali Akbar dalam keterangan tertulisnya yang diterima dan Sebelumnya, Dr KH Kholil Nafis yang saat itu menjabat Ketua MUI Pusat Bidang Dakwah mengungkapkan bahwa Ketua Umum PBNU KHSaid Aqil Siradj membuat nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas al-Musthafa al-’Alamiyah, Qom, Iran. Qom adalah sebuah kota yang merupakan ibukota Provinsi Qom di Iran. Qom menjadi sebuah kota suci bagi penganut Islam Syi’ah. Kota ini merupakan pusat pendidikan Syi’ah terbesar di dunia.
Menurut Kiai Cholil Nafis, dokumen kerjasama di bidang pendidikan, riset dan kebudayaan itu dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan Rais Am Syuriah PBNU yang saat itu dijabat KHA Sahal Mahfudz. Dokumen tertanggal 27 Oktober 2011 itu dibuat dalamdua bahasa, Persia dan Indonesia.

”Saya kopi yang berbahasa Indonesia karena saya gak begitu paham bahasa Persia,”katanya.

Menurut Cholil Nafis, Kiai Said Aqil tak bisa mengelak karena sudah ada dokumen resmi yang dia temukan. ”Di PBNU ada, di Universitas al-Mustafa juga ada,” tegas dosen Universitas Indonesia (UI) itu ketika ditanya dapat dari mana dokumen tersebut.

Ia mengaku pernah sekali berkunjung ke Universitas al-Mustafa al-‘Alamiyah.”Saya kesana mewakili UI dalam urusan akademik,” katanya.

Kiai Syarifuddin Damanhuri juga mengungkapkan bahwa para kiai se-Madura menolak dan bahkan anti Syiah. Karena itu ia bersama para kiai lainnya mendesak Kiai Ma’ruf Amin mengawasi para pengurus MUI dan PBNU yangSyiah untuk dipecat.Menurut dia, respon Kiai Ma’ruf Amin cukup positif.

”Kiai Ma’ruf minta agar para kiai mengawasi dan menjaga pengurus yang berpaham Syiah, Liberal dan Wahabi,” tutup Kiai Syarifuddin Damanhuri. (nugarislurus.com/syiahindonesia.com)

0 comments: