Breaking News
Loading...


Oleh: Alwi Alatas

IDUL GHADIR yang dirayakan oleh Syiah itu mengacu pada peristiwa Ghadir Khum yang terjadi saat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam dan para Sahabat pulang haji dari Makkah ke Madinah pada pertengahan Dzulhijjah tahun terakhir kenabian.

Ketika itu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam dan para sahabat berhenti di sebuah tempat bernama Khum (Ghadir Khum). Di situ Nabi berkhutbah dan antara lain mengatakan, “Barangsiapa yang menganggap saya sebagai mawla-nya, maka Ali adalah mawla-nya.”

Kalangan Syiah menganggap peristiwa tersebut sebagai penunjukkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam kepada Ali sebagai penggantinya kelak sebagai pemimpin sepeningalnya (setelah wafat,red). Karena itulah, kalangan Syiah merayakannya setiap tahun dan menganggap para sahabat telah khianat terhadap pengangkatan Ali sebagai khalifah. Sebab, selepas wafatnya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam mereka memilih Abu Bakar sebagai khalifah.

Pandangan Syiah ini memiliki beberapa masalah mendasar dan karenanya tidak bisa diterima oleh kalangan Ahlus Sunnah.

Pertama, kata ‘mawla’ dalam bahasa Arab memang antara lain bermakna ‘pemimpin’. Tapi itu bukan satu-satunya arti kata tersebut. Kata mawla juga bisa berarti ‘sahabat’ atau ‘kekasih’. Jadi, kata tersebut tidak hanya memiliki satu arti seperti ‘pemimpin’

Kedua, jika saat itu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam memang bermaksud menunjuk Ali sebagai pemimpin, tentu beliau akan menggunakan kata yang lebih tegas dan jelas, seperti ‘khalifah’, ‘amir’, atau ‘imam’. Tetapi Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam tidak menggunakan kata-kata tersebut, melainkan menggunakan kata ‘mawla’. Ini yang terdapat di dalam riwayat-riwayat yang sahih.

Mungkin ada versi riwayat lain, tetapi kita mesti ingat tidak semua riwayat yang ada bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, terlebih yang berasal dari kalangan Syiah.

Jika khutbah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam ketika itu adalah berkenaan kepemimpinan dan merupakan hal yang sangat penting sebagaimana yang diinginkan Syiah, sehingga mereka menjadikannya sebagai hari raya, tentu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam akan memilih kata-kata yang lebih tegas dan tidak menimbulkan interpretasi.

Ketiga, jika yang dimaksud oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam dengan kata ‘mawla’ adalah pemimpin, dalam arti pemimpin tertinggi yang harus ditaati. Maka, berarti sejak saat itu ada dua pemimpin yang di tengah umat yang harus ditaati. Padahal, peristiwa tersebut berlaku sekitar tiga bulan sebelum Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam wafat.

Jadi, selama masa-masa itu, siapa yang sejatinya harus ditaati oleh umat? Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam atau Ali bin Abi Thalib.

Dalam Islam tidak dikenal adanya dua pemimpin (kenegaraan,red) di satu wilayah pada waktu bersamaan. Dalam khutbahnya itu, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam tidak mengatakan “Siapa yang mengganggap saya sebagai mawla, maka Ali adalah mawla-nya SETELAH SAYA WAFAT.”

Kalimat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam itu bersifat umum, tidak mengacu pada proses suksesi kepemimpinan atau konteks waktu tertentu. Karena itu, memaknainya sebagai pemimpin (kenegaraan,red) dan yang semakna dengan itu akan menimbulkan problem dan ketidaksesuaian.(Bersambung)

Pemerhati sejarah Islam, penulis buku “Shalahuddin Al-Ayyubi dan Perang Salib III"

(Hidayatullah.com/syiahindonesia.com)

0 comments: