Breaking News
Loading...

Khumaini, Ayatullah Syiah
Syiahindonesia.com - Al-Qasim al-Musawi, salah satu tokoh terpandang di kalangan Syiah, dalam kitabnya Minhaj ash-Shâlihîn (juz 1, hlm. 116) berkata, “Barang najis jumlahnya ada sepuluh… sedangkan yang kesepuluh adalah orang kafir… Tidak ada bedanya antara orang murtad, kafir asli, harbi, dzimmi, khawarij dan nâshibi (Ahlussunnah dan anti-Syiah).” Dalam penjelasan yang cukup panjang, dalam kitab tersebut ditulis sebagaimana berikut:

فِي عَدَدِ الأعْيَانِ النَّجَسَةِ وَهِيَ عَشْرَةٌ.. العَاشِرُ الكَافِرُ… وَلَا فَرْقَ بَيْنَ المُرْتَدِّ وَالكَافِرِ الأَصْلِيِّ الحَرْبِيِّ وَالذِّمِّيِّ وَالخَارِجِيِّ وَالنَّاصِبِ.

Pernyataan senada banyak diungkapkan oleh tokoh-tokoh Syiah yang lain, seperti Muhammad Kazhim at-Thabathabai dalam kitab al-‘Urwat al-Wutsqâ (juz 1, hlm. 68), Ayatullah al-Hasan bin Ma’ruf yang terkenal dengan al-‘Allamah al-Huli dalam kitab Nihâyât al-Ihkâm fî Ma’rifat al-Ahkâm (juz 1, hlm. 274), Ayatullah Khomaini dalam kitab Tahrîr al-Wasîlah (juz 1, hlm. 118).

Ni’matullah al-Jazairi kembali menulis dalam kitabnya al-Anwâr al-Nu’mâniyyah sebagai berikut:

وَأمَّا النَّاصِبُ وأحْوَالُهُ، فَهُوَ يَتِمُّ بِبَيَانِ أمْرَيْنِ: الأوَّلُ: فِي بَيَانِ مَعْنَى النَّاصِبِ الَّذِيْ وَرَدَ فِي الأخْبَارِ أَنَّهُ نَجِسٌ، وَأَنَّهُ أشَرُّ مِنَ اليَهُودِيِّ وَالنَّصْرَانِىِّ وَالمَجُوْسِيِّ، وَأَنَّهُ نَجِسٌ بِإجْمَاعِ عُلَمَاءِ الإمَامِيَّةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ.

“Penjelasan tentang nâshib dan keadaannya dapat dijelaskan dengan dua perkara: Pertama, maksud nâshib yang ada di dalam hadis-hadis adalah najis, mereka lebih jahat daripada Yahudi, Nasrani dan Majusi, dan mereka najis menurut konsensus ulama Imamiyyah.”[1]

Apa yang dinyatakan oleh tokoh-tokoh Syiah tersebut benar-benar menjadi landasan hidup dalam keseharian orang-orang Syiah masa kini. Jadi bukan hanya tertuang dalam literatur-literatur Syiah klasik dan ditinggalkan oleh Syiah kontemporer, sebagaimana banyak dikatakan oleh orang-orang Syiah masa kini. Dalam Lillâh Tsumma li at-Târîkh, Sayyid Husain al-Musawi berkisah sebagai berikut:

“Suatu ketika ada seorang tamu dari pelosok kota Samarra bertemu dengan ayah Sayyid Husain al-Musawi di pasar, lantas ayah al-Musawi mempersilahkan tamunya untuk menginap di rumahnya. Dari pembicaraan setelah shalat Isya’, barulah ayah al-Musawi tahu bahwa tamunya itu bermadzhab Sunni. Pagi harinya, setelah diberi sarapan, tamu tersebut akan memberikan uang kepada ayah al-Musawi sebagai ungkapan terimakasih, namun dia menolaknya, dengan alasan tamunya lebih membutuhkannya dalam perjalanan. Setelah mengucapkan terima kasih sang tamu pun pergi. Setelah ia pergi, ayah al-Musawi memerintahkan untuk membakar kasur tempat sang tamu tidur, dan membersihkan bejana yang dipakai untuk makan dengan cara sebersih-bersihnya.[2]

[1] Lihat, Ni’matullah al-Jazairi, al-Anwâr al-Nu’mâniyyah, juz 2, hlm. 306.

[2] Lihat, Sayyid Husain al-Musawi, Lillâh Tsumma li at-Târikh, hlm. 107-108.

0 comments: