Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Syiah, Sahabat, dan Ahlussunnah (2)

Tanggapan

Para sahabat Rasulullah saw. adalah komunitas shalih yang telah dipuji oleh Allah Swt. dalam al-Qur’an al-Karim, dan dibersihkan lahir batin oleh Rasulullah saw. melalui hadis-hadis beliau. Dalam al-Qur’an antara lain dijelaskan:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (التوبة ]9[: 100).

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah [9]: 100)

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا (الفتح ]48[: 18).

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. Al-Fath [48]: 18)

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا (الفتح ]48[: 29).

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. (QS. Al-Fath [48]: 29)

Sementara hadis mengenai keagungan para sahabat, dalam Shahîh Al-Bukhari dinyatakan:

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْأَعْمَشِ قَالَ سَمِعْتُ ذَكْوَانَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Al-Bukhari berkata, “Adam bin Abu Iyas telah bercerita kepada kami, Syu’bah telah bercerita kepada kami, dari Al A’masy, ia berkata, ‘Aku mendengar Dzakwan bercerita dari Abi sa’id al-Khudri Ra. berkata, Nabi Muhammad saw. bersabda, “Janganlah kalian mencaci para sahabatku, andaikan kalian bersedekah dengan emas sebesar gunung uhud, maka hal itu tidak bisa mengimbangi sedekah yang dikeluarkan para sahabat satu mud saja atau separuhnya. [1]

Dalam Musnad Ahmad dijelaskan:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا عَبِيدَةُ بْنُ أَبِي رَائِطَةَ الْحَذَّاءُ التَّمِيمِيُّ قَالَ حَدَّثَنِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زِيَادٍ أَوْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ الْمُزَنِيِّ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِي فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ آذَانِي وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَمَنْ آذَى اللَّهَ فَيُوشِكُ أَنْ يَأْخُذَهُ (رواه أحمد).

Ahmad berkata, “Sa’id bin Ibrahim bin Sa’ad telah bercerita kepada kami, Ubaidah bin Abu Ra’ithah al-Hadza at-Tamimi telah bercerita kepada kami, ia berkata Abdurrahman bin Ziyad atau Abdurrahman bin Abdullah telah bercerita kepadaku, dari Abdullah bin Mughaffal al-Muzani, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: Hati-hatilah terhadap sahabat-sahabatku, hati-hatilah terhadap sahabat-sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai kepentingan setelahku. Barangsiapa yang mencintai mereka, maka berarti mereka telah mencintaiku, dan barangsiapa yang membenci mereka, maka berarti mereka telah membenciku, barangsiapa yang menyakiti mereka, maka berarti mereka menyakitiku, dan barangsiapa yang menyakitiku berarti telah menyakiti Allah, dan barangsiapa yang menyakiti Allah, maka dikhawatirkan mendapatkan siksa-Nya. [2]

Para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar yang telah menyertai Nabi Muhammad saw. dalam melakukan dakwah Islamiyah, menjalani berbagai peperangan dan penaklukan, mengorbankan harta dan jiwa mereka demi tegak dan tersebarnya agama Islam, adalah merupakan pekerjaan besar yang tak ternilai, hingga mendapat pujian dari Allah swt. dan dijanjikan surga, sebagaimana termaktub dalam surat at-Taubah di atas. Akan tetapi orang-orang Syiah justru mengkafirkan mayoritas dari mereka. Jumlah para sahabat Nabi Muhammad saw, baik dari kalangan Muhajirin dan Anshar, yang konon jumlahnya mencapai 124.000 orang,[3] yang tidak dikafirkan oleh Syiah hanya 3 (tiga) orang saja, yakni Miqdad bin Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi.[4]

Selanjutnya, memperjelas ayat 18 surat al-Fath di atas, Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadis bersabda:

لَا يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ بَايَعَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ.

“Tidak akan masuk neraka, para sahabat yang ikut dalam Bai’at Ridhwan.”[5]

Mengenai para sahabat yang ikut serta dalam Bai’at Ridhwan, para sejarawan menyebutkan jumlahnya lebih dari 1000 orang.[6]

­­Selain itu, Nabi saw. juga menjamin surga terhadap sepuluh sahabat beliau, yang kemudian dikenal dengan al-‘Asyrah al-Mubassyarûn bi al-Jannah[7] termasuk di dalamnya adalah Khulafâ’ ar-Râsyidûn yang empat:

حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ مِسْمَارٍ الْمَرْوَزِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ عَنْ مُوسَى بْنِ يَعْقُوبَ عَنْ عُمَرَ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حُمَيْدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ سَعِيدَ بْنَ زَيْدٍ حَدَّثَهُ فِي نَفَرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَشَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ فَعَدَّ هَؤُلَاءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنْ الْعَاشِرِ فَقَالَ الْقَوْمُ نَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا الْأَعْوَرِ مَنْ الْعَاشِرُ قَالَ نَشَدْتُمُونِي بِاللَّهِ أَبُو الْأَعْوَرِ فِي الْجَنَّةِ (رواه الترمذي)

…Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sepuluh orang (telah dijamin) menghuni surga; Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali, Zubair, Thalhah, Abdurrahman, Abu Ubaidah, Sa’ad bin Abi Waqqash.” Perawi berkata, “Maka Sa’id bin Zaid hanya menghitung sampai sembilan dan tidak menyebutkan yang kesepuluh. Lalu orang-orang bertanya: Demi Allah, hai Abu al-A’war, siapakah orang yang kesepuluh?” Kemudian ia berkata: “Kalian bertanya dengan nama Allah; (Rasulullah saw. juga bersabda) “Abu al-A’war di surga.” (HR. Turmudzi)

Lebih dari apa yang telah dikemukakan, bahwa Nabi Muhammad saw. telah menyatakan bahwa 2/3 dari umat beliau akan masuk surga. Dalam al-Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah dinyatakan sebuah hadis berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ نُمَيْرٍ، قَالَ: ثَنَا مُوسَى الْجُهَنِيُّ عَنِ الشَّعْبِيِّ قَالَ: سَمِعْتُهُ يَقُولُ: قَالَ نَبِيُّ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِجُلَسَائِهِ يَوْمًا: أَيَسُرُّكُمْ أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: أَفَيَسُرُّكُمْ أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُلُثَا أَهْلِ الْجَنَّةِ

Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Musa al-Juhani telah menceritakan kepada kami, dari Asy-Sya’bi, ia berkata, saya mendengarnya berkata, ‘Suatu hari Nabi Muhammad saw. bersabda kepada para sahabat yang menjadi teman duduk beliau, “Apakah kalian bahagia jika kalian menjadi sepertiga penduduk surga? Para sahabat menjawab, “Allah Swt. dan utusan-Nya yang mengetahui.” Nabi kembali bersabda, “Apakah kalian bahagia jika menjadi separuh penduduk surga? Para sahabat menjawab, “Allah swt. dan utusan-Nya yang mengetahui.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya umatku di hari kiamat menjadi duapertiga penduduk surga. [8]

Dengan demikian, pemaparan yang telah kami kemukakan sampai di sini, tentunya sudah lebih dari cukup untuk mementahkan tuduhan-tuduhan miring dari Syiah, terkait dengan pelaknatan dan pengkafiran mereka terhadap para sahabat dan Ahlussunnah. Mungkinkah Allah Swt. meridhai orang-orang kafir dan memberi mereka keutamaan dengan memasukan mereka ke dalam surga-Nya? (At-Taubah [9]: 100, Al-Fath [48]: 18 dan 29) Adakah janji-janji Nabi saw. berupa berita gembira (dengan surga) terhadap sekian banyak sahabat dan umatnya adalah meleset atau bahkan dusta? Atau barangkali 2/3 dari umat Muhammad saw. adalah orang-orang Syiah – yang berhak masuk surga? Jawaban dari kesemuanya tentu saja adalah tidak.



By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku:

    Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)
    Hitam dibalik Putih: Bantahan Terhadap Buku Putih Madzhab Syi’ah, karya Amin Muchtar, terbitan al-Qalam, cetakan kedua, Desember 2014



[1] Lihat, Shahîh Al-Bukhârî, hadis No. 3397.

[2] Lihat, Musnad Ahmad, hadis No. 19641.

[3] Lihat, Syekh Nawawi al-Banteni, Sullam al-Munâjât, hlm. 2 dan Zaini Dahlan dalam al-Hujaj al-Qath’iyah, hlm. 34. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki mengatakan: Ibn Shalah mengutip dari Abi Zur’ah, bahwa beliau ditanya mengenai bilangan sahabat yang meriwayatkan hadis dari Nabi saw. Abu Zur’ah lalu menjawab: “Siapa yang dapat menentukan hitungannya? Sahabat yang bersama Nabi dalam Haji Wada’ saja jumlahnya 40.000 orang, sedangkan yang ikut dalam perang Tabuk jumlahnya 70.000 orang.” Karenanya, Sayyid Alawi al-Maliki menyatakan bahwa untuk menentukan jumlah sahabat sangat sulit, sebab mereka terpencar-pencar dalam beberapa wilayah yang berjauhan. Lihat, Manhal al-Lathîf fi Ushûl al-Hadîts asy-Syarif, hlm. 178-179.

[4] Lihat, al-Kâfî, juz 8 hlm. 245 no. 241. Lebih lanjut, lacak dalam Dr. Nashir bin Abdullah bin Ali al-Qifari, Ushûl Madzhab Syî’ah Imâmiyah Itsnâ ‘Asyariyah: ‘Ardh wa Naqdh, juz 2 hlm. 872, Dar ar-Ridha. Mengutip al-Kâfî (juz 2 hlm. 244), al-Qifari juga mengemukakan pernyataan yang jelas tentang hal ini. Bedanya, dalam al-Kâfî pada juz 2 tersebut hanya terdapat isyarat, bahwa yang tidak kafir pasca wafatnya Nabi Muhammad saw. hanya tiga orang sahabat saja, tanpa ada kejelasan nama personalnya. Pendapat ini sebenarnya juga tidak mutlak disepakati Syiah. Di kalangan mereka juga ada yang mengatakan bahwa yang tidak kafir pasca wafatnya Nabi adalah Sayyidina Ali, kedua puteranya dan 13 orang sahabat yang lain. Ada yang bilang jumlahnya hanya 10 orang, dan ada juga yang bilang hanya 7 orang saja. Tapi yang jelas, masih mengutip al-Qifari, jumlah sahabat yang tidak dikafirkan Syiah hanya sebatas hitungan jari (lâ yablugh ‘adada ashâbi’ al-yad). Memang mustahil rasanya untuk tidak menemukan pelaknatan-pelaknatan dan pengkafiran terhadap para sahabat dalam buku-buku Syiah, baik sahabat Muhajirin dan Anshar, Ahl Badr,sahabat yang ikut Bai’at Ridhwan (yang telah diridhai Allah swt. dalam al-Qur’an surat al-Fath [48] ayat 18) dan para sahabat yang lain. Memang, bukan Syiah namanya jika tidak mencaci-maki dan mengkafirkan para sahabat.

[5] Hadis diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abû Dawud, hadis No. 4653, at-Turmudzi dalam Sunan at-Turmudzî, hadis No. 3860.

[6] Lihat, Ibn al-Atsir, Usd al-Ghâbah, juz 1 hlm. 74.

[7] Hadis mengenai al-‘Asyrah al-Mubassyarûn bi al-Jannah diriwayatkan oleh at-Turmudzi, No. 3681 dan 3740, al-Hakim dalam Mustadrak, No. 5391, Imam Nasa’i dalam Sunan an-Nasâ’I, No. 8195, Ibn Hibban dalam Shahîh Ibn Hibbân, No. 7119 dan 7128).

[8] Periksa, Mushannaf Ibn Abî Syaibah, juz 7 hlm. 426.
(sigabah.com/syiahindonesia.com)

0 comments: