Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Syiah dan Al-Qur’an (2)

Pada edisi sebelumnya telah disampaikan sekitar 30 ulama Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah (12 imam) yang secara tegas menyatakan terjadinya tahrif al-Qur’an. Bahkan, salah seorang pemukan Syiah, an-Nuri ath-Thabrisi dalam pendahuluan kitabnya, Fashl al-Khitab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabb al-Arbab, menyebut sekitar 40 nama dari para pemuka Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang menyatakan pendapat tersebut (tahrif al-Qur’an) dengan tegas.[1]

Dengan demikian, pernyataan bahwa tahrif al-Qur’an merupakan ijma’ (konsensus) ulama Syiah bukanlah hal yang aneh. Terlebih, dalam kitab hadits induk yang mereka anggap paling shahih dengan riwayat yang mutawatir, yakni al-Kafi, penjelasan tentang distorsi, penambahan dan pengurangan dalam al-Qur’an memang sangat banyak:

مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ ابْنِ مَحْبُوبٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي الْمِقْدَامِ عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلام يَقُولُ: مَا ادَّعَى أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ أَنَّهُ جَمَعَ الْقُرْآنَ كُلَّهُ كَمَا أُنْزِلَ إِلَّا كَذَّابٌ، وَمَا جَمَعَهُ وَحَفِظَهُ كَمَا نَزَّلَهُ اللهُ تَعَالَى إِلا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلام وَالاَئِمَّةُ مِنْ بَعْدِهِ عَلَيْهم السلام.

Muhammad bin Yahya, dari Ahmad bin Muhammad, dari Ibnu Mahbub, dari Amr bin Abu al-Miqdam, dari Jabir, ia berkata, ‘Saya mendengar Abu Ja’far AS (Muhammad al-Baqir, diklaim sebagai Imam ke-5) berkata: “Tidak seorang pun yang mengaku telah mengumpulkan semua al-Qur’an sebagaimana yang telah diturunkan oleh Allah SWT, melainkan ia adalah pembohong besar. Dan tidak ada yang mengumpulkan serta menghafalnya persis seperti yang diturunkan oleh Allah SWT kecuali Ali bin Abi Thalib AS dan imam-imam setelahnya.[2]

مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِنَانٍ، عَنْ عَمَّارِ بْنِ مَرْوَانَ، عَنِ الْمُنَخَّلِ عَنْ جَابِرٍ، عَنْ اَبِي جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلام أَنَّهُ قَالَ: مَا يَسْتَطِيعُ أَحَدٌ أَنْ يَدَّعِيَ أَنَّ عِنْدَهُ جَمِيعَ الْقُرْآنِ كُلِّهِ ظَاهِرِهِ وَبَاطِنِهِ غَيْرُ الاَوْصِيَاءِ.

Muhammad bin al-Husen, dari Muhammad bin al-Hasan, dari Muhammad bin Sinan, dari Ammar bin Marwan, dari al-Munakhhal, dari Jabir, dari Abi Ja’far AS, bahwa beliau berkata: “Tidak seorang pun yang bisa mengaku bahwa padanya terdapat kumpulan lengkap al-Qur’an, zahir dan batin, selain para Imam yang telah mendapatkan wasiat.”[3]

عَلِيُّ بْنُ الْحَكَمِ، عَنْ هِشَامِ بْنِ سَالِمٍ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الله عَلَيهِ السَّلام قَالَ: إِنَّ الْقُرْآنَ الَّذِي جَاءَ بِهِ جِبْرِيْلُ (عَلَيهِ السَّلام) إِلَى مُحَمَّدٍ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِه) سَبْعَةَ عَشَرَ أَلْفَ آيَةٍ.

Ali bin al-Hakam, dari Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah AS (Ja’far ash-Shadiq, diklaim sebagai Imam ke-6), beliau berkata: “Sesungguhnya ayat-ayat al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril AS kepada Nabi Muhammad SAW adalah sebanyak 17000 ayat.”[4]

Dengan pemaparan data yang sangat valid ini, adakah argumen kuat yang mampu meruntuhkan kenyataan bahwa Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah dan Syiah-syiah yang lain memang meyakini jika al-Qur’an yang dibaca umat Islam hari ini bukanlah al-Qur’an yang sebenarnya, karena terdapat banyak pembuangan dan distorsi? Maka, upaya yang dilakukan para penulis kontemporer, semacam Dr. Quraish Shihab, dengan mengutip tulisan Syiah Imamiyah kontemporer, Syekh Muhammad Husain al-Kasyif al-Ghitha’ (1876-1954 M) atau Muhammad Husain ath-Thabathaba’i (penulis Tafsir al-Mizan), masih terlalu jauh untuk dikatakan dapat menentang suara Syiah mayoritas (ijma’ ulama Syiah).

Dengan mengutip dua sampai tiga saja dari pernyataan ulama Syiah kontemporer, lalu menyimpulkan bahwa Syiah tidak berpendapat dan tidak pula meyakini adanya tahrif dalam al-Qur’an, sebetulnya merupakan pengkaburan dan cacat secara ilmiah. Suara minoritas dan berstatus sebagai pengikut atau muqalid (Syiah kontemporer) tidak akan dapat mewakili apalagi mengganti suara mayoritas dan pendahulu yang diikuti (Syiah klasik dan para pengikutnya yang mayoritas). Malah, pengikut (Syiah kontemporer) yang tidak sejalan dengan yang diikuti (Syiah klasik), telah memposisikan diri sebagai penentang.

Jadi, usaha yang dilakukan para penulis kontemporer itu sebetulnya hanyalah kesia-siaan belaka, baik untuk menutupi celah maupun untuk ber-Taqiyyah. Bukti paling tampak yang menunjukan bahwa para penulis tersebut hanya menutup-nutupi celah adalah, bahwa dalam melontarkan pendapat dan perspektif baru tentang Syiah, mereka tidak pernah mengutip kitab-kitab rujukan Syiah yang paling otoritatif, yakni al-Kafi, al-Istibshar, Man la Yahdhuru al-Faqih dan Tahdzib al-Ahkam, kecuali apa yang dapat dijadikan sebagai tameng Taqiyyah[5], sebab kitab-kitab tersebut memang seringkali kontradiktif.

Padahal ulama Syiah menyatakan, bahwa “kitab-kitab ini (al-kafi, al-Istibshar, Man la Yahdhuruhu al-Faqih, dan Tahdzib al-Ahkam) telah sampai kepada kita (pengikut Syiah) dengan cara mutawatir, sedangkan isi yang dikandungnya adalah shahih dan bisa dipertanggung-jawabkan tanpa keraguan sedikitpun.[6]

Sebagai tambahan data, berikut ini kami lampirkan beberapa contoh penambahan kalimat atau ayat dalam Al-Qur’an versi Syiah yang dapat dijumpai dengan mudah dalam kitab-kitab hadis mereka. Berbagai tambahan ayat Al-Qur’an di sini bukan sebagai penafsiran, sebab setiap ada tambahan untuk suatu ayat, dalam riwayat hadisnya selalu dibubuhi penegasan dengan “Haakadzaa nazala” artinya, demikianlah ayat itu diturunkan.



Daftar Contoh Penambahan Al-Qur’an versi Syiah
No     Al-Qur’an Syiah     Keterangan
1    

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ وَلَا نَبِيٍّ وَلَا مُحَدَّثٍ
    Al-Kafi, juz 1 hlm. 176 no. 1
2    

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فِي وِلَايَةِ عَلِيٍّ وَوِلَايَةِ الْاَئِمَّةِ مِنْ بَعْدِهِ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
    Al-Kafi, juz 1 hlm. 414 no. 8
3    

أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ مُحَمَّدٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُكُمْ بِمُوَالَاةِ عَلِيٍّ فَفَرِيْقًا مِنْ آلِ مُحَمَّدٍ كَذَّبْتُمْ وَفَرِيْقًا تَقْتُلُوْنَ
    Al-Kafi, juz 1 hlm. 418 no. 21
4    

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فِي وِلَايَةِ عَلِيٍّ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنًّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِيْنَ آلَ مُحَمَّدٍ نَارًا
    Al-Kafi, juz 1 hlm. 434 no. 64
5    

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فِي عَلِيٍّ فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِنْ مِثْلِهِ
    Al-Kafi, juz 1 hlm. 417 no. 26
6    

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْكِتَابَ أَمِنُوْا بِمَا نَزَّلْنَا فِي عَلِيٍّ نُوْرًا مُّبِيْنًا
    Al-Kafi, juz 1 hlm. 417 no. 27
7    

وَلَقَدْ عَهِدْنَا اِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ كَلِمَاتٍ فِي مُحَمَّدٍ وَ عَلِيٍّ وَ فَاتِمَةَ وَ الْحَسَنِ وَ الْحُسَيْنِ وَ الْأَئِمَّةِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ مِنْ ذُرِّيَّتِهِمْ فَنَسِيَ
    Al-Kafi, juz 1 hlm. 416 no. 23
8    

سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ لِلْكَافِرِيْنَ بِوِلَايَةِ عَلِيٍّ لَيْسَ لَهُ دَافِعٍ
    Al-Kafi, juz 1 hlm. 422 no. 47
9    

وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيْلاً وَ ذُرِّيَّتِيْ يَا مُحَمَّدُ وَالْمُكَذِّبِيْنَ بِوَصِيِّكَ أُولِى النِّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيْلًا
    Al-Kafi, juz 1 hlm. 434 no. 91
10    

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ بِعَلِيٍّ صِهْرَكَ . . . فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ نُبُوَّتِكَ فَانْصَبْ عَلِيًّا وَصِيًّا وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ فِي ذَلِكَ
    Fashl al-Khitab, hlm. 136
11    

اَللهُ لَا اِلَهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَ مَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَ الشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
    Tafsir al-Qummi, juz 1 hlm. 84



By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1] Ibid.

[2] Lihat, al-Kafi, juz 1 hlm. 228 atau al-Hujjah min al-Kafi, juz 1 hlm. 26, hadits No. 1.

[3] Ibid, hadits No. 2.

[4] Al-Kafi, juz 2 hlm. 634. Hal ini juga ditegaskan oleh ath-Thabrisi dalam Fashl al-Khitab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabb al-Arbab, hlm. 211.

[5] Dr. Quraish Shihab agaknya masuk dalam kategori ini. Dalam bukunya “Sunnah Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?” (hlm. 102), beliau sama sekali tidak mengutip sumber rujukan utama Syiah, kecuali apa yang dapat membantu kepentingannya. Ketika membahas Imamah, beliau antara lain menulis: “Sayyid Murtadha al-Askary, salah seorang ulama Syiah, mengutip dari buku andalan madzhab Syiah Imamiyah, yaitu al-Kafi, riwayat yang dinisbatkan kepada Musa bin ja’far…” Akan tetapi selanjutnya Dr. Quraish Shihab tidak pernah menyinggung al-Kafi kembali, termasuk dalam pembahasan tahrif al-Qur’an ini. Ada apa dengan Dr. Quraish Shihab?

[6] Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi, al-Muraja’at hlm. 419, Jam’iyah Islamiyah Beirut, cetakan ke-2 (1402-/1982), tahqiq Husain ar-Rakhin.

(sigabah.com/syiahindonesia.com)

0 comments: