Breaking News
Loading...

Ritual Asyura Syiah di Iran
Konsep Bada’ Versi Syiah

Syiahindonesia.com -
Bada’ bisa diartikan sebagai “timbulnya pemikiran baru, misalnya, kita telah mengambil satu keputusan, dengan berbagai pertimbangan yang matang. Buah pertimbangan ini selanjutnya dipublikasikan, agar menghasilkan karya yang nyata. Namun tidak lama berselang, terlintas dibenak kita bahwa keputusan yang telah diambil ternyata kurang tepat, sehingga mengharuskan untuk menghapus keputusan tadi dan menggantinya dengan hasil ide yang baru.” Hal semacam ini lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sebab kesalahan dalam mengambil sikap adalah hal yang manusiawi. Tapi bagaimana kalau bada’ dengan arti ini diafiliasikan kepada Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu, akan segala apa yang ada di alam ini, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

“Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar dzarrah (atom) di bumi ataupun di langit.” (QS. Yunus [10]: 61)

لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (سبا ]34[: 3)

“Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar dzarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh al-Mahfuzh).” (QS. Saba’ [34]: 3)

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh al-Mahfuzh).” (QS. Al-An’am [6]: 59)

Bada’ adalah salah satu akidah Syiah yang memiliki tempat tersendiri dalam keyakinan mereka. Betapa akidah ini memiliki urgensitas yang setara dengan akidah-akidah Syiah yang lain, sampai-sampai ada riwayat dalam kitab hadis mereka yang menyatakan sebagai berikut:

مَاعُبِدَ اللهُ بِشَيْءٍ مِثْلَ البَدَاءِ.

“Tidak ada penyembahan kepada Allah yang lebih baik daripada bada’.”[1]

Dalam riwayat lain dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq) As juga disebutkan:

مَاعُظِّمَ اللهُ مِثْلَ الْبَدَاءِ.

“Tidak ada pengagungan kepada Allah seperti bada’.”[2]

Dalam konteks pembahasan ini, al-Kulaini membuat satu bab khusus yang menampilkan hadis-hadis tentang bada’. Dia memasukan bab ini di bawah judul yang menjelaskan Tauhid (Kitab at-Tauhid). Dia menulis tak kurang dari 16 (enam belas) hadis yang diafiliasikan kepada para Imam, diantaranya adalah sebagai berikut:

عَنْ مُرَازِمِ بْنِ حَكِيمٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ الله عَلَيْهِ السَّلامُ يَقُولُ: مَا تَنَبَّأَ نَبِيٌّ قَطُّ حَتَّى يُقِرَّ للهِ بِخَمْسِ خِصَالٍ: بِالْبَدَاءِ وَالْمَشِيئَةِ وَالسُّجُودِ وَالْعُبُودِيَّةِ وَالطَّاعَةِ.

Dari Murazim bin Hakim, dia berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq) As. Mengatakan, ‘Seorang Nabi tidak resmi menjadi Nabi hingga mengakui lima perkara karena Allah, Mengakui bada’, masyi’ah, sujud, ubudiyah, dan taat’.”[3]

Di samping itu ada pula riwayat yang berbunyi demikian:

عَنِ الرَّيَّانِ بْنِ الصَّلْتِ قَالَ: سَمِعْتُ الرِّضَا عَلَيْهِ السَّلامُ يَقُولُ: مَا بُعِثَ نَبِيٌّ قَطُّ إِلا بِتَحْرِيمِ الْخَمْرِ وَأَنْ يُقِرَّ للهِ بِالْبَدَاءِ.

Dari ar-Rayyan bin as-Shalt, dia berkata, “Aku mendengar ar-Ridha As. Mengatakan, ‘Tidak ada satu Nabi-pun yang diangkat menjadi Nabi kecuali mengharamkan Khamr dan mengakui bada’ pada Allah’.”

Arti penting doktrin bada’ bagi penganut Syiah sangat sangat tampak dalam kitab-kitab mereka. Ibnu Babawaih al-Qummi dalam al-I’tiqaadaat, dan at-Tauhiid, begitu juga al-Majlisi dalam Bihaar al-Anwaar. Demikian pula halnya dengan para pemuka Syiah kontemporer, mereka juga mengambil bagian dalam hal ini. Ada sedikitnya 25 (dua puluh lima) buku khusus tulisan tokoh-tokoh Syiah kontemporer yang membahas bada’, sebagaimana disampaikan oleh penulis adz-Dzarii’ah ilaa Tashaanifi asy-Syii’ah (Juz 3, hlm. 56-57).[4] Menurut mereka, akidah ini berlandaskan ayat suci al-Qur’an berikut:

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh al-Mahfuzh).” (QS. Ar-ra’d [13]: 39).

Jika kita cermati lebih lanjut, maka tidak akan kita temukan sangkut paut antara bada’ dengan ayat ke 39 surat ar-Ra’d di atas. Sebab pada masa turunnya wahyu, kaum Muslimin tidak mengenal istilah ini, bahkan seluruh umat Islam tidak mendengar dan tidak tahu apa yang dikehendaki dengan bada’. Istilah bada’ hanya dikenal di kalangan Syiah. Sebenarnya, kata dasar (mashdar) dari badaa – yabduu – badaa’an, artinya azh-Zhuhuur ba’da al-khafaa’ (faham setelah tidak tahu). Atau bisa diartikan nasya’a fiihi ra’yun (munculnya ide baru). Al-Qur’an juga menggunakan kata-kata ini dalam beberapa ayat berikut:

وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ

“Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS. Az-Zumar [39]: 47)

وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

“Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokannya.” (QS. Az-Zumar [39]: 48)

وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا عَمِلُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

“Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokannya.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 33)

قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

“Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (QS. Ali-Imran [3]: 118)

فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا

“Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya.” (QS. Al-A’raf [7]: 22)

Kendati demikian, akan tetapi kata badaa – yabduu yang digunakan al-Qur’an dan diungkapkan oleh para sahabat tidak pernah dipakai sebagai nama untuk menyebut Istilah secara khusus, terlebih untuk arti bagi doktrin yang diyakini oleh Syiah. Dan, yang penting untuk menjadi catatan di sini adalah, bahwa yang menjadi khitaab (mitra dialog) dalam ayat-ayat di atas adalah manusia, bukan Dzat Allah SWT, dan kata badaa – yabduu dalam al-Qur’an tidak ada yang memiliki arti “timbulnya pemikiran baru”.[5]

Memang, dalam ayat ke-35 surat Yusuf, ada kata bada’ yang menggunakan arti timbulnya ide baru:

ثُمَّ بَدَا لَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا رَأَوُا الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّى حِينٍ

“Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf), bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu.” (QS. Yusuf [12]: 35)

Namun, kendati demikian, kalimat bada’ pada ayat tersebut tetap dinisbatkan kepada manusia, bukan pada Allah SWT. Maka adalah benar, bahwa seluruh ulama Islam tidak ada yang berpendapat bahwa Allah SWT. memiliki sifat bada’. Karena bada’ pada hakikatnya adalah pelecehan pada sifat Uluhiyyah, dan bada’ tidak pantas bagi Allah SWT. Sekali lagi, bada’ tidak pernah dikenal pada periode awal Islam. Tampaknya, hanya Syiah dan Yahudi saja yang berpendapat bahwa Allah SWT. bisa memiliki pandangan-pandangan baru yang tak pernah terbesit sebelumnya. Dalam Taurat disebutkan ayat berikut:

رَآى الرَّبُّ أَنَّ شَرَّ الْإِنْسَانِ قَدْ كَثُرَ فِيْ الْأَرْضِ، وَأَنَّ كُلَّ تَصَوُّرِ أَفْكَارِ قَلْبِهِ إِنَّمَا هُوَ شَرِيْرُ كُلِّ يَوْمٍ، فَحَزِنَ أَنَّهُ عَمِلَ الْإِنْسَانَ فِيْ الْأَرْضِ وَتَأَسَّفَ فِيْ قَلْبِهِ. فَقَالَ الرَّبُّ: أَمْحُوْ عَنْ وَجْهِ الْأَرْضِ الْإِنْسَانَ الَّذِيْ خَلَقْتُهُ، الْإِنْسَانَ مَعَ بَهَائِمَ وَدُبَابَاتٍ وَطُيُوْرِ السَّمَاءِ، لِأَنِّيْ حَزِنْتُ أَنِّيْ عَمِلْتُهُمْ.

“Tuhan melihat bahwa tingkah laku manusia semakin menjijikan di muka bumi, dan semua yang terbayang di hatinya tiap hari hanyalah perbuatan-perbuatan jahat, maka Tuhan-pun susah dan merasa bersedih hati karena telah membuat manusia di muka bumi, Dia pun berfirman, ‘Aku akan membersihkan bumi dari manusia yang telah Ku-ciptakan, manusia bersama hewan, binatang dan burung-burung terbang’.”[6]

Dalam Samuel I (15: 10) disebutkan penjelasan sebagai berikut:

“Tuhan pernah berkata pada Samuel: ‘Aku menyesal setelah aku menjadikan Saul sebagai Raja, karena dia telah berpaling muka dan tidak menjalankan perintah-Ku sama sekali’.”

Banyak ayat-ayat lain dalam perjanjian lama yang menjelaskan penyesalan Tuhan karena terlanjur melakukan suatu hal, yang andaikan Dia tahu akan berakibat tidak baik, pasti Dia akan meninggalkannya. Tampak dari kutipan di atas, bahwa bada’ dalam Yahudi dan Syiah diartikan sebagai penyesalan Tuhan karena telah terlanjur mengerjakan hal-hal yang kurang tepat.

Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan kata bada’ yang dinisbatkan kepada Allah SWT:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ ثَلَاثَةً فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى بَدَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا…

“Bahwa Abu Hurairah bercerita pada Abdurrahman bin Abi Amrah, dia (Abu Hurairah) mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya ada tiga orang Bani Israil, salah satunya ditimpa penyakit belang, sedang satunya lagi sakit hingga rambutnya habis dan yang lain buta. Allah menakdirkan untuk mencoba mereka, maka diutuslah pada mereka malaikat…”[7]

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani mengomentari kalimat bada’ dalam hadis di atas sebagai berikut:

قَوْله : ( بَدَا لِلَّهِ ) بِتَخْفِيفِ الدَّال الْمُهْمَلَة بِغَيْرِ هَمْز أَيْ سَبَقَ فِي عِلْم اللَّه فَأَرَادَ إِظْهَاره ، وَلَيْسَ الْمُرَاد أَنَّهُ ظَهَرَ لَهُ بَعْد أَنْ كَانَ خَافِيًا لِأَنَّ ذَلِكَ مُحَال فِي حَقّ اللَّه تَعَالَى، وَقَدْ أَخْرَجَهُ مُسْلِم عَنْ شَيْبَانَ بْن فَرُّوخ عَنْ هَمَّام بِهَذَا الْإِسْنَاد بِلَفْظِ “أَرَادَ اللَّه أَنْ يَبْتَلِيهِمْ”، فَلَعَلَّ التَّغْيِير فِيهِ مِنْ الرُّوَاة… وَأَوْلَى مَا يُحْمَل عَلَيْهِ أَنَّ الْمُرَاد قَضَى اللَّه أَنْ يَبْتَلِيهِمْ، وَأَمَّا الْبَدْء الَّذِي يُرَاد بِهِ تَغَيُّر الْأَمْر عَمَّا كَانَ عَلَيْهِ فَلَا.

Maksud perkataan Rasulullah SAW. bada’ lillaahi dengan huruf Dal tanpa titik dan Alif tanpa Hamzah adalah: Telah tertulis dalam pengetahuan Allah dan hendak ditampakkan. Bada’ di sini tidak berarti: “Tampak pada Allah setelah tidak jelas,” karena hal demikian mustahil terjadi pada Allah. Imam Muslim meriwayatkan hadis ini dari Syaiban bin Farrukh, dari Hammam dengan sanad ini (sama dengan sanad Imam Bukhari), menggunakan kalimat yang artinya “Allah ingin mencoba mereka.” Barangkali perubahan ini muncul dari para Rawi… Yang lebih tepat, kalimat ini diartikan, “Allah menetapkan untuk mencoba mereka.” Bada’ di sini tidak bisa diartikan “merubah hal-hal yang telah ditetapkan.” [8]



By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1] Al-Kafi, Juz 1, hlm. 146.

[2] Ibid

[3] Ibid, Juz 1, hlm. 148.

[4] Al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, Juz 2, hlm. 1134.

[5] Ar-Raddu al-Kafi, hlm. 199-200.

[6] Kitab Kejadian (Bab 6: 5-7), edisi Bahasa Arab.

[7] Shahih Bukhari, hadis No. 3205.

[8] Lihat, Fath al-Bar Syarh Shahih al-Bukhari, Juz 6, hlm. 502.

(sigabah.com/syiahindonesia.com)

0 comments: