Breaking News
Loading...

Oleh:  Abu Husein At-Thuwailibi.

Baru-baru ini tersebar fitnah yang isinya merendahkan Ustadz Arifin Nugroho, yang dilakukan oleh sejumlah situs Syi'ah (baik syiah yang terang-terangan, maupun syiah yang pura-pura jadi NU) terkait program Khalifah di televisi swasta Trans 7.

Ada kemungkinan mereka ingin membentuk opini negatif di masyarakat tentang Stasiun TV TRANS 7 yang selama ini tayangannya membongkar ajaran-ajaran sesat dan kufur semisal menyembah kubur, dan lain-lain yang notabennya ajaran tersebut bersumber dari Syiah.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya bahwa salah satu program keislaman di Trans 7 “Khalifah” menuai banyak pujian dari masyarakat muslim di indonesia lantaran dianggap telah melakukan banyak pencerahan terhadap muslim indonesia terkait sejarah islam. Namun tampaknya image itu ingin dirusak dengan cara mengkritik Sang Ustadz yang menjadi narasumber saat membahas Imam Al-Ghazali dan mengangkat isu "wahabi" ke permukaan. Seperti biasa, de vide it impirea, politik adu domba.

Sebenarnya Imam Al-Ghazali itu hidup pada masa keemasan. Karena sejatinya, Ulama yang tidak benar-benar menonjol tentu tidak akan populer. Beliau berhasil membangun generasi yang menumpas kerajaan Syi'ah Fathimiyah di Mesir dan mengusir pasukan Salibis dari Palestina.

Beliau juga berhasil gemilang memberantas liberalisme yang dikemas dalam filsafat Yunani. tidak seperti tokoh muda nusantara bernama Idrus Romli yang mengaku bermazhab asy'ari namun pemahaman keagamaannya justru banyak diwarnai oleh ajaran filsafat Yunani.

Para ulama ahli tafsir dan ahli hadits semuanya memujinya setinggi langit. Beliau satu-satunya ulama yang berhak menyandang gelar HUJJATUL ISLAM.

Gelar-gelar keilmuan pada masa silam itu bukan hanya gelar kosong tanpa makna, tapi memang gelar yang sesuai dengan kapasitas keilmuan yang dicapainya. Sekarang ini kita kadang diberi gelar "ustadz" dan "ulama muda", seperti Idrus Romli misalnya, padahal secara keilmuan ia sangat tidak pantas dengan gelar itu.

Karya Imam Al-Ghazali yang berjudul al-Mustashfa fi Ushul al-Fiqh menjadi sumber utama tiga mazhab fiqih, Maliki, Syafi'i dan Hanbali.

Semua kitab Ushul Fiqih dari ketiga mazhab tersebut hanya ringkasan (ikhtishar) dari kitab tersebut.

Ustadz Arifin Nugroho yang membahas mengenai sosok Imam Al-Ghazali lantas di rendahkan dan di cekal oleh fihak-fihak yang punya kepentingan. Menurut Ustadz Abu Muhammad Waskito, ini merupakan contoh sikap beragama yang tidak baik. Emosional, marah-marah, dan kurang menjaga akhlak. kelihatan sekali gaya-gaya Syi'ah Rafidhah.

Coba periksa masalahnya: Imam Al Ghazali itu seorang ulama ahli tasawuf, masuk jadi tema acara Khalifah di Trans7. Tentu beliau dipuji-puji sepanjang acara. Lalu diberikan sedikit kritik padanya. Namun, tiba-tiba kaum Syi'ah yang berpura-pura menjadi pendukung beliau marah-marah. Ngomong apa saja. Termasuk menyerang "Salafi/Wahabi" yang tak ada kaitannya dengan acara itu.

Inti kritiknya begini: Al-Ghazali disebut kurang mendalam ilmu Al Qur'an dan Hadits-nya. Di akhir hayat, wafat sambil memeluk kitab Shahih Bukhari. ini sebenarnya hanya tentang REDAKSI KRITIK saja. Semua ulama juga begitu posisinya, punya segudang kebaikan, ada kekurangan pada hal-hal tertentu. Wajar kan. Toh, seorang imam bukan Nabi yang bebas dari kesalahan/kekurangan. Malah dalam "ilmu jurnalistik" tidak boleh isinya MEMUJI DOANG, itu tidak seimbang. Harus cover both side. Dua sisi plus minus ditampilkan. Kalau bagus semua, bukan jurnalistik namanya, tapi PROPAGANDA.!

Sebenarnya ini hal sepele, hal kecil, tapi dibesar-besarkan. Tujuannya membentuk opini buruk tentang tayangan acara Khalifa di Trans7 agar masyarakat menilainya jelek. Ini sudah biasa. Kalau memang mereka NU tulen dan pecinta Imam Al-Ghazali, seharusnya mereka TERIMA KASIH ke Trans7 karena sudah menayangkan acara "full pujian" untuk Iman Al-Ghazali. Masyarakat jadi tahu, siapa itu Imam Al-Ghazali. Kalau mereka tulis 1000 artikel memuji Iman Al-Ghazali, belum tentu akan dibaca orang awam tentunya.

Dibandingkan kritik Umam Ibnu Qudamah & Imam Ibnul Jauzy kepada Al-Ghazali dalam kitab Minhajul Qasidin; kritik acara Khalifah itu sangat sopan. Hanya SALAH REDAKSI DOANG. Sedangkan kedua ulama itu (yakni Imam Ibnu Qudamah dan Imam Ibnul Jauzy) sudah memvonis kitab Imam Al-Ghazali Ihya' 'ulumuddin tidak boleh jadi rujukan. Sebagai gantinya, mereka datangkan kitab Minhajul Qasidin.

Atau kalau mau, mereka itu masuklah ke TV-TV itu. Lalu bikinlah acara yang memuji ulama-ulama idola. Tapi tetap harus obyektif, karena jurnalistik beda dengan PROPAGANDA. Bahkan dalam ilmu hadits juga ada: jarh wa ta'dil (kritik & pujian). Lha ini gimana, mendahulukan emosi & amarah. Super sensi dan sok latah. Ada sedikit saja kesalahan orang, langsung "radar anti wahabi" menyala. Apa saja bisa dihubung-hubungkan ke "Wahabi".

Seharusnya kita lebih responsif. Nun di sana, di Suriah, di Yaman, di Libia, bahkan Mesir; kaum Aswaja (Asy'ariyah) sedang dibantai para mujrimun. Itu lebih baik & afdhal diperhatikan daripada "perang komen" dan "perang picture" di sini.

Mari kita sayangi diri, agama, dan kehidupan ini. Bagaimana cara kita menyayangi diri dan agama ?? Tentunya dengan menyatukan langkah, menjauhi perpecahan, dan basmi Syi'ah Rafidhah. (nisyi/syiahindonesia.com)

Sumber: Fb Abu Husain Ath Thulaibi

0 comments: