Breaking News
Loading...

Oleh: Fadh Ahmad Arifan


Syiahindonesia.com - Siapa pun yang pernah mencicipi bangku kuliah, saat menyelesaikan tugas Akhir, terkadang dosen pembimbing skripsi maupun Tesis menganjurkan supaya seorang mahasiswa membuat “Tipologi”. Tipologi bukan bertujuan untuk mengkotak-kotak atau memecah belah, melainkan supaya orang yang membaca hasil penelitian kita, bisa dengan mudah menangkap temuan-temuan unik dalam hasil penelitian kita.

Saat ini, ditengah masifnya pergerakan Syiah, tak jarang kita melihat suatu kalangan yang kritis dan istiqomah mengingatkan bahaya Syiah terhadap keutuhan NKRI. Namun tak jarang kita dapati ada pemuka agama dari kalangan tertentu yang berkasih-kasihan dengan elit-elit Syiah. Terhadap kalangan Liberal, penyikapan kelompok islam menjadi terbelah. Ada yang anti liberal, mendukung misi jahat mereka dan mirisnya ada yang tidak tahu menahu. Dalam artikel ini, yang dibedah lebih lanjut ialah Nahdlatul Ulama. Ternyata Ormas yang punya akar kuat dari Pesantren ini memiliki dinamika tersendiri terutama menyikapi Syiah, Liberalisme bahkan dakwah Salafi. Orang NU atau warga Nahdliyin terbagi 4 tipologi, tipologi ini mengadopsi milik facebooker bernama “As-sundawy suuni”. Penjelasan tipologi yang dibuat beliau saya edit dan ditambah dengan data-data yang relevan dengan judul artikel ini.

1. Orang NU yang Anti Syi'ah, Anti Liberal dan Tidak Anti dakwah salafi

Yang masuk tipologi pertama ialah Habib Zein Al-kaff dkk (pengurus PWNU jawa timur). Beliau anti syi'ah, anti liberal tapi tidak memusuhi kalangan salafi. Dalam setiap ceramah dan dakwahnya selalu mengatakan jika salafi/wahabi itu masih saudara muslim kita, kalau syi'ah bukan. Dengan memiliki pandangan yang obyektif seperti ini, tak heran bila Habib zein dapat diterima kalangan Salafi dan Muhammadiyah.

Di kota Malang pernah saya ketahui Habib Zein al-Kaff menjadi pembicara utama dalam Pengajian di aula PDM Muhammadiyah. Beliau mengulas dengan detail bahaya Syiah bagi NKRI. Selain Habib zein, masih ada sosok KH Chalil nafis PhD dan pakar hadits Prof ali Mustafa ya’qub.

2. Orang NU yang Anti Syi'ah, Anti Liberal dan Anti dakwah salafi

KH. Idrus Ramli dkk masuk tipologi kedua. Alumnus pesantren Sidogiri ini dikenal Anti syi'ah, anti liberal. Beliau berani mengkritik paham liberalnya Gus dur, Gus nuril dan Ulil. Namun disisi lain anti dakwah salafi, pernyataannya suka menyudutkan kalangan Salafi meskipun sama-sama anti Syi'ah. Pemikiran-pemikiran KH Idrus Ramli sering menjadi rujukan kelompok bernama “NU Garis Lurus”.

3. Orang NU yang yang Akrab dengan Syi'ah, Liberal namun Anti dakwah salafi

Di tipologi ketiga terdapat sosok Prof KH Said Aqiel siraj (ketua PBNU Pusat). Guru besar ilmu Tasawuf ini akrab dan cenderung memihak pemikiran syi'ah dan liberal. Banyak bukti pernyataanya baik di media sosial dan ceramahnya di situs Youtube. Pandangan Prof Said aqiel sama saja dengan Gus dur. Satu lagi, pernah pula dia menyatakan “Di universitas Islam mana pun tidak ada yang menganggap syiah sesat. Wahabi yang keras saja menggolongkan Syiah bukan sesat,” (Lihat situs Tempo.co tgl 27 Januari 2012). Kiai-kiai model begini perlu dieliminasi dari NU karena mengkhianati founding father NU yaitu KH Hasyim asy’ari.

4. Orang NU yang Belum tahu Hakekat Syi'ah, Liberal dll

Tipologi terakhir ialah Orang-orang NU di kampung dan pedesaan yang pada umumnya kurang mengikuti perkembangan dunia islam. Mereka hanya mengandalkan informasi dari tausyiah para kiai. Yang terakhir ini rawan berganti aqidah. Contohnya yang menimpa warga Nahdliyin di Sampang, Madura. Mereka adalah kalangan yang kurang disentuh dakwah Kiai. Sehingga Tajul muluk datang dan berhasil menggaet mereka.

Bukan cuma Syiah, mereka rawan sekali dengan infiltrasi misionaris gereja. Saya pikir, inilah Pekerjaan Rumah (PR) bagi Kiai-Kiai NU. Mudah-mudahan dalam Muktamar ke 33 di Tebu ireng, Jombang, para Kiai harus bersatu padu mengatasi problem ini. Dan kita berharap, organisasi besar sekelas NU tidak dipimpin oleh kiai-kiai Liberal dan memihak kepada Syiah. Wallahu’allam bishowwab.



*Penulis adalah Alumni MAN 3 Malang

(nisyi/syiahindonesia.com)

0 comments: