Breaking News
Loading...

Ahlul Bait

Syiahindonesia.com - Ahlulbait berarti orang-orang yang bermukim dan bertempat tinggal dalam rumah, berdasarkan firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya…”[1]

 Sebagaimana perkataan saudari Musa kepada Fir’aun:

"Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?".[2]

Ahlurrajuli (Keluarga seseorang)

Raghib Al Ashfahani berkata: pada dasarnya “Ahlur Rajuli” berarti orang yang berkumpul bersama dalam satu tempat tinggal, dikatakan; Ahlulbait seseorang adalah yang berkumpul bersamanya dari garis keturunan.

Pada dasarnya, Ahlu Rajuli atau Ahlubait adalah orang yang berkumpul bersamanya dalam satu rumah, berdasarkan hal ini terdapat nash Al Qur’an sebagaimana difirmankan Allah;

“Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.”[3]

Sebagaimana perkataan saudara-saudara Yusuf ‘alaihi salam;

“Dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami…”[4]

“Kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan…”[5]

Yusuf ‘alaihi salam berkata;

“Dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku".[6] Mereka adalah ayah ibu dan saudara-saudaranya, sebagaimana diceritakan Allah dalam ayatNya;

“Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata: "Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman".

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana, dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf, berkata Yusuf: "Wahai ayahku Inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; Sesungguhnya Rabbku telah menjadikannya suatu kenyataan…”[7]

Anda dapat melihat semua bukti-bukti Al Qur’an ini, bahwa yang dimaksud dengan lafazh “Ahlu” adalah penghuni rumah yang tinggal bersamanya dalam rumah tersebut.

Istri termasuk Ahlulbait seseorang, bahkan ia termasuk anggota keluarga pertama

Ahlu (keluarga) seorang laki-laki adalah istrinya berdasarkan dalil bahasa, syara’, kebiasaan dan akal sehat, tidak ada lagi dalil lainnya setelah keempat ini.

1.        Dalil Lughawi (Bahasa)

 Ar Raghib Al Ashfahani berkata: “Ungkapan Ahli (keluarga) laki-laki dari istrinya, dan seseorang disebut berkeluarga jika ia telah beristri, sebab itu dikatakan; Ahlakallahu fil jannah (Semoga Allah menjadikanmu berkeluarga di Surga) maksudnya: Allah menikahkanmu di surga dan memberimu seorang istri (dengannya) Allah mengumpulkanmu dengan mereka.”

Dalam “Mukhtar Ash Shahah” Ar Razi mengatakan: “Ahala Ar rajulu” (berkeluarga) maknanya adalah seseorang yang menikah, bertempat tinggal dan bersama dengannya, kata “Ta’ahala” juga sama. Ini adalah dalil lughawi (bahasa).

2.      Dalil Syara’

 Renungkanlah ayat berikut:

“Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya.”[8] Ketika itu, tidak ada yang bersamanya kecuali istrinya.

“Istrinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?”[9] ini adalah perkataan Sarah istri Nabi Ibrahim, maka apa jawaban Malaikat? Bagaimana Malaikat mensifatinya?

“Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, Hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah."[10]

Sekiranya istrinya bukan termasuk Ahlulbait Ibarahim, niscaya Allah tidak akan merahmatinya dengan mukjizat tersebut dan tidak memberkahinya dengan mengandung Ishaq álaihi salam, jadi tidak ada sesuatu yang mengherankan.

 Saudara perempuan Musa berkata kepada Fir’aun;

Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat Berlaku baik kepadanya?".[11]

Siapa ahlu bait pertama yang dimaksud oleh saudaa perempuan Musa? Bukankah yang dimaksud adalah ibunya, karena pertama kali yang dituju oleh orang yang memelihara bayi adalah ibu yang menyusuinya, dan dalam ayat ini adalah Ibu Musa, karena itu Allah berfirman:

“Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita”[12]

 Bahkan istri Al Aziz mengatakan kepada suaminya:

"Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan ahlimu..”[13] Maksudnya adalah dengan istrimu.

 Berikut beberapa ayat sehubungan dengan Nabi Luth dan istrinya yang diistilahkan dengan “Ahlu” di beberapa ayat yang menjelaskan keinginan Luth untuk menyelamatkan mereka, jika tidak niscaya Allah tidak akan mengecualikannya dari mereka.

“Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).”[14]

“Para utusan (malaikat) berkata: "Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Rabbmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu.”[15]

“Maka Kami selamatkan dia beserta keluarganya, kecuali istrinya. Kami telah mentakdirkan dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).”[16]

“Lalu Kami selamatkan ia beserta keluarganya semua, Kecuali seorang perempuan tua (istrinya), yang termasuk dalam golongan yang tinggal.”[17]

“Berkata Ibrahim: "Sesungguhnya di kota itu ada Luth". Para Malaikat berkata: "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).”[18]

"Janganlah kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya Kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)".[19]

 Istisna’ (pengecualian) dua ayat diatas selalu disebut berulang-ulang, meskipun kedua ayat tersebut sangat berdekatan, dan tidak ada yang memisahkan antara keduanya kecuali satu ayat dalam konteks ayat.

 “Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul.  (ingatlah) ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya (pengikut- pengikutnya) semua, kecuali seorang perempuan tua (istrinya yang berada) bersama-sama orang yang tinggal.”[20]

Jelas, bahwa pengukuhan istisna’ (pengecualian) terhadap istri Luth dibeberapa ayat disebutkan dengan lafazh “Ahlu”, tidak ada gunanya (pengecualian) jika orang-orang Arab yang Al Qur’an turun kepada mereka, dapat memahami lafazh “Ahlu” tidak seorang istri.

 3.      Dalil ‘Uruf (kebiasaan)

Secara mutlak, lafazh “Al Ahlu” maksudnya adalah istrinya, ini adalah perkara yang sudah diakui hingga hari ini, misalnya seseorang berkata; “Keluargaku datang bersamaku” maksudnya adalah istriku, dan orang sudah paham masalah itu.

4.      Dalil Akal

 Setiap laki-laki, dalam rumahnya pasti dimulai dari istrinya, dan setiap keluarga pasti diawali dengan ayah dan Ibu atau laki-laki dan istrinya. Disini kata “Ahlu” secara mutlak diperuntukkan untuk istri, meskipun belum adanya anak-anak atau laki-laki itu tidak bersama ibu, ayah atau saudaranya yang lain. Sosok istri adalah orang yang pertama berada dalam rumah, secara mutlak juga disebut dengan “Ahlu”, dan merupakan orang pertama Ahlubaitnya laki-laki tersebut.

 Karena itu seorang istri disebut “Rabbatulbait”(pengatur rumah), ia bukan hanya sekedar Ahlulbait, disamping itu ia juga orang yang mengatur rumah tersebut.

Karena itu, istri merupakan Ahlulbait seseorang, namun dengan alasan apa para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari Ahlulbaitnya, bahkan dikatakan bahwa mereka bukan dari keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? atau bagian dari Ahlulbaitnya? Istri Musa termasuk Ahlulbaitnya, istri Ibrahim juga bagian dari keluarganya, istri Imran juga termasuk dari keluarganya, bahkan Istri Luth sekalipun juga termasuk keluarganya serta istri Al Wazir yang fasik pun termasuk keluarganya dan setiap laki-laki di dunia sejak diciptakan hingga meninggal akan dikatakan bahwa istri mereka adalah Ahlulbait mereka, lantas bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang suci dan istri-istri beliau sebagai ummahatul mukminin yang ditetapkan berdasarkan Al Qur’an bukan Ahlulbaitnya? Dengan bahasa apa mereka menyatakan demikian?? (Team syiahindonesia.com)

[1] QS AN Nuur; 27

[2] QS Al Qashash; 12

[3] QS Huud; 40

[4] QS Yusuf; 65

[5] QS Yusuf; 88

[6] QS Yusuf; 93

[7] QS Yusuf; 99-100

[8] QS Al Qashash; 29

[9] QS Huud; 72

[10] QS Huud; 73

[11] QS Al Qashash; 12

[12] QS Al Qashash; 13

[13] QS Yusuf; 25

[14] QS Al A’raf; 83

[15] QS Huud; 81

[16] QS An Naml; 57

[17] QS Asy Syu’ara’; 170-171

[18] QS Al Ankabut; 32

[19] QS Al Ankabut; 33

[20] QS Ash Shafat; 133-135

0 comments: