Breaking News
Loading...

Buya Hamka Bicara Tentang Syiah (Bag. 2)
Oleh: Fadh ahmad Arifan

3.    Dinasti penyokong Syiah

Di dalam lembaran sejarah peradaban Islam tercatat salah satu sebab masih bertahannya aliran Syiah karena disokong kekuatan politik. Kekuatan politik yang dimaksud disini yaitu Dinasti syafawiyah dan Fatimiyah. Syafawi ini menurut Hamka berasal dari Tarekat sufi yang didirikan Syeikh haidar. Dia membuat lambang baru untuk pengikut Tarekatnya, yaitu sorban merah mempunyai 12 jambul, sebagai lambing 12 Imam yang diagungkan di dalam Syiah Itsna ‘Asyariyah. Haidar punya putera bernama Ismail. Ismail ini, oleh Hamka ditetapkan sebagai pendiri Dinasti syafawiyah.
Ismail ditetapkan sebagai Raja besar dari negeri Iran dan pembela ajaran Syiah di usia 15 tahun. Syiah diadopsi menjadi mazhab resmi dan diperintahkannya kepada Khatib-khatib Jum’at supaya memaki-maki khalifah yang tiga: Abu bakar, Umar dan Usman. Ismail meski fanatik Syiah, dia sering gagal menaklukkan Sultan Salim. Dia tidak terpaksa mengikat perdamaian dan tidak berani memerangi Turki usmani, sampai Sultan Salim wafat (Hamka, Sejarah Umat Islam, hal 439-441)

4.    Saya bukan syiah

Ketika Hamka berkunjung ke Najaf dan Karbala (Oktober 1950), penunjuk jalan menanyakan datang dari mana dan mazhab apa. Lalu Hamka menjawab dirinya dari Indonesia dan bermazhab Syafi’i.  Muzawwir, sang penunjuk jalan tadi mengatakan, “Mazhab Syafi’i adalah mazhab yang paling dekat dengan Syiah dan paling cinta kepada Husain”. “Maaf, saya tidak bermazhab Syiah, tetapi saya mencintai Husain!” Jawab Hamka. (Kata pengantar buya Hamka dalam buku “Al-Husain bin Ali: Pahlawan besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya”, karya M. al-Hamid al-Husaini, th 1978, hal xi)

Pendirian Hamka terhadap Syiah maupun isu Revolusi islam, ditegaskan lagi dalam artikelnya di harian Kompas (1980), “Saya tetap seorang Sunni yang tak perlu berpegang pada pendapat orang Syiah dan ajaran-ajaran Ayatullah”. Beliau menasehati kepada 4 pemuda yang berencana ke Indonesia dan mengajarkan Revolusi islam Syiah, “Boleh datang sebagai tamu, tetapi ingat, kami adalah Bangsa merdeka dan tidak menganut Syiah.” Ujar Hamka (Buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia, th 2013, hal 139).

B.    Penutup

Sikap Hamka terhadap Syiah sudah jelas. Tidak ada pandangan atau statemen beliau yang memihak Syiah. Bukan soal Syiah saja nama Hamka dicatut. Dalam isu Pluralisme agama, pendapat Hamka di dalam Tafsir al-Azhar pun dimanipulasi sedemikian rupa dan disimpulkan keliru oleh pemuja proyek Liberalisme (Baca tulisan Dr Adian husaini, “Hamka dan Pluralisme Agama”, Uhamka Press, 2008, hal 313-318).

Sebelum menutup artikel ini, selain Syiah dan Pluralisme agama. Nama besar seorang Buya Hamka dicatut juga oleh pengikut Tarekat di Suryalaya. Dikatakan Hamka telah dibaiat oleh Abah Anom. Namun anehnya tidak ada bukti kuat, yang ada hanya foto Hamka bersama Abah anom saja yang dijadikan argumen. Salah seorang putra Hamka, Ust Afif Hamka membantah keras bahwa seseorang yang bergelar Buya (khususnya yang berlaku di ranah Minang) tidak bakalan ikutan Tarekat-tarekat sufi (lihat Fadh ahmad arifan, “Buya Hamka dibaiat Abah Anom?”, Islampos tgl 3 Desember 2014). Wallahu’allam bishowwab. (nisyi/syiahindonesia.com)

Penulis adalah alumni S2 Studi Islam, Pascasarjana UIN Malang. 

0 comments: