Breaking News
Loading...

Oleh: Fadh ahmad Arifan

A.    Pendahuluan

Perkembangan Syiah di Indonesia sepanjang 35 tahun belakangan harus kita waspadai. Dulu sebelum tahun 1997, mereka hanya bergerak di jalur pendidikan, penerbitan, sosial dan mempromosikan diri lewat ajaran Tasawuf. Maka setelah runtuhnya Orde baru, mereka mulai berani unjuk gigi melalui jalur politik. Salah satunya dengan mengirim kader terbaiknya duduk di kursi DPR RI. Tokoh Syiah yang pertama kali masuk parlemen ialah Zulfan lindan (IJABI).

Pria Kelahiran Aceh ini adalah dulunya kader dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan di periode 1999-2004 pernah bertugas menjadi Anggota DPR-RI dari PDIP di Komisi IX yang membidangi keuangan, perencanaan pembangunan dan perbankan. Di periode 2004, Zulfan diduga terlibat kasus korupsi kasus aliran dana suap Bank Indonesia ke sejumlah anggota DPR di Komisi IX periode 1999-2004 untuk pemilihan Deputi Gubenur Bank Indonesia Miranda Goeltom. Mulai dari 2013, Zulfan pindah partai dan bergabung di Partai Nasdem. Zulfan diangkat sebagai Ketua DPP Bidang Organisasi & Industri Tenaga kerja oleh Partai Nasdem (Baca profil Zulfan lindan di wikidpr.org).

Bukan hanya zulfan, masih ada Jalaluddin Rakhmat yang kini duduk di kursi DPR RI. Jalal sempat diisukan akan dijadikan Menteri Agama RI. Namun pada akhirnya yang terpilih Lukman hakiem saifuddin. Pengikut Syiah di akar rumput juga meresahkan umat. Di Sampang, Bangil dan Bogor mereka bikin onar.

Baru-baru ini isu Syiah kembali mencuat, tepatnya di kebijakan pemblokiran 22 situs Islam. Yang dikatakan kepada masyarakat awam bahwa usulan pemblokiran situs ke Kominfo datang dari BNPT. Lucunya BNPT cuci tangan dan salahkan Kominfo yang blokir situs-situs tersebut (jpnn.com, 5 April 2015). Jangan lupa satu hal, aliran Syiah patut kita curigai. Bila pembaca membuka situs syiahaliwordpress.com, disitu terpampang tulisan “Mendukung Kominfo dan BNPT Memblokir Situs Radikal anti Syiah”.

Dari berbagai situsnya, Syiah berusaha membangun “citra palsu” sebagai Ahlu bait, dekat dengan kultur NU dan mengklaim bagian dari Islam. Bahkan tak segan mengutip statemen tokoh-tokoh beken seperti Said aqil siraj, Hasyim muzadi, Quraish shihab, Sir Azyumardi azra, Syafii ma’arif, hingga Buya Hamka. Tujuan dari itu semua adalah ingin memberitahukan kepada khalayak umum bahwa Syiah bukan aliran sesat seperti yang difatwakan MUI Jatim.

Mengacu pada judul artikel ini, yang akan diulas lebih lanjut adalah Buya hamka. Dimana statemen maupun pandangan beliau dipajang dibeberapa situs dan terkadang digambarkan memihak Syiah. Mungkinkah Buya Hamka seperti demikian? Artikel ini menggunakan pendekatan kepustakaan dengan merujuk langsung ke buku-buku Buya Hamka dan dilengkapi dengan buku-buku yang relevan.

1.    Syiah dan Sempalannya

Hamka menyentil Syiah sebagai kelompok “Yang hormat berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain itu tidak pernah berdosa, dan kalau berbuat dosa segera diampuni Allah adalah ajaran (dari suatu aliran-penulis) kaum Syi’ah yang berlebih-lebihan.” (Baca Panji Masyarakat edisi 15 Februari 1975)

Di era modern, Iran dikenal negeri mayoritas penganut Syiah. Iran mengadopsi Syiah sejak dinasti Shafawi berkuasa (1502 M). Kepercayaan tentang imam yang Ghaib, mengatur dunia dan agama disuatu tempat yang rahasia menjadi kepercayaan yang merata dan mendalam di sana. Jika Asy-syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal, membagi Syiah ke dalam 5 kelompok besar, yaitu Kisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, Syiah ghulat dan Isma’iliyah. Maka Hamka membagi Syiah menjadi 4 kelompok besar,  yaitu Kisaniyah, Isma’iliyah, Itsna ‘Asyariyah dan Zaidiyah (Hamka, Pelajaran Agama Islam, th 1989, hal 237).

Zaman sekarang Syiah Kisaniyah sudah tidak ada lagi. Sedangkan Ismailiyah di era modern diteruskan oleh Aga khan. Masih menurut Hamka, hanya Syiah zaidiyah yang agak dekat dengan Sunni. Mereka tidak begitu meyakini Imam ghaib yang amat dinanti-nanti kedatangannya oleh Syiah Itsna ‘Asyariyah. Istna ‘Asyariyah punya doktrin bahwa tidak sah menjadi Syiah kalau tidak percaya Imam ghaib datang kembali (Hamka, hal 238).

Di dalam buku Pelajaran agama Islam, Hamka punya argument yang menarik. Saking getolnya menunggu Imam yang ghaib, muncul sempalan-sempalan di tengah Syiah Itsna ‘Asyariyah. Mulai dari Syaikhiyah, Babiyah hingga Bahaiyah. Baik Babiyah maupun Bahaiyah sama-sama mengadopsi doktrin “Allah menjelma dalam dirinya” (Hamka, hal 241-242).

2.    Hasyasyin (Assassin)

Terkait Assassin, Hamka menulis, kelompok yang dikendalikan Hasan Sabah ini tidak mau mengakui segala macam kekuasaan termasuk menentang Khalifah di Baghdad. Pengikut setianya direkrut dari  orang-orang melarat dan didoktrinkan kepada mereka perasaan anti-kekuasaan. Dan dijanjikan kepada mereka bahwa Imam yang ghaib itu sudah dekat datangnya untuk membawa keadilan sejati. Pengikut Hasan Sabah harus taat atas perintah, orang-orang yang diperintahkannya dibunuh mesti mati. Baik di jalan raya maupun di dalam istananya sendiri dengan tidak diketahui siapa pembunuhnya. (Hamka, Sejarah umat Islam, hal 423-424).

Kisah kelompok Hasyasyin atau yang di Barat dikenal dengan Assassin sempat muncul kembali di film Prince of Persia: The Sands of time (2010). Di dalam film tersebut, kelompok Assassin berpakaian serba hitam, ahli bergerilya dan mempraktekkan sihir. Michael Bradley memasukkan Assassin ke dalam daftar 21 Secret society  perusak dunia bersama Freemasonry, Illuminati, Templar, Opus dei, Triad dan lain-lain. Lebih lanjut Bradley menulis, Assassin sebagai kelompok rahasia sekaligus para penghisap ganja. Mereka berusaha merebut tahta kepemimpinan Islam dengan cara-cara kekerasan.  Pemimpin Assassin punya kebiasaan minum anggur hingga mabuk, lebih fatal lagi, menghalalkan membunuh umat Islam dengan dalih Jihad. Pada abad 16 M, pertahanan terakhir Assassin di Syria berhasil ditumpas oleh Turki Usmani (Michael Bradley, th 2008, hal 19-27).(nisyi/syiahindonesia.com)

Penulis adalah alumni S2 Studi Islam, Pascasarjana UIN Malang.

0 comments: