Breaking News
Loading...

Dewan Pakar Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Ustadz Farid Okbah mengatakan ajaran Syiah cenderung melancarkan gerakan pemberontakan. Seperti yang dilakukan oleh Ayatullah Khomeini terhadap kekuasaan Syah Reza Pahlevi di Iran dengan jalan revolusi.

“Mereka berangkat dari ajaran Abdullah bin Saba’ yang memberontak kekuasaan Utsman bin Affan,” katanya pada saat mengisi kajian ‘Mewaspadai Makar Syiah di dunia dan Indonesia’, di Masjid Darus Salam, Griya Tugu Asri, Depok, pada Sabtu (7/3/2015).

Dalam persitiwa revolusi di Iran, ada kesaksian presiden pertama Bani Sadr yang mengejutkan, Presiden Bani Sadr yang mendapat suaka di Perancis pernah memberikan kesaksian tentang Khomeini. Presiden Bani Sadr ini masih hidup ketika revolusi menjatuhkan Syah Iran dan pernah menemani Khomeini di Perancis.

“Menurut kesaksian presiden Bani Sadr, Khomeini saat kembali ke Iran dengan menggunakan pesawat Air France mendapat persetujuan dari Amerika Serikat,” ungkap Ustadz Farid.

Selanjutnya pada tahun 1980, Khomeini menyerukan ekspor revolusi Syiah ke seluruh dunia. Kemudian, Iran banyak kedatangan utusan-utusan dari dunia Islam, di antaranya dari Indonesia terutama dari kota Bangil.

“Namanya Ustadz Hussein Al-Habsyi, dia berbaiat kepada Khomeini dan berjanji akan memperjuangkan Syiah di Indonesia,” tuturnya.
Imam Khomeini (kiri) dan Habib Husein Al-Habsyi pendiri YAPI Bangil (kanan).

Dari situ kemudian banyak anak-anak muda dikirim ke Iran. Anak-anak muda ini, kemudian di masa sekarang menjadi tokoh-tokoh Syiah di Indonesia.

Lanjutnya, ada keterangan menarik dari Imam Hussein Al Musawi. Menurut Musawi, selama 10 tahun Khomeini berkuasa di Iran, Khomeini menjalankan politik dengan besi dan api, banyak orang yang digantung oleh Khomeini.

“150.000 orang yang menentang keinginan Khomeini digantung, ini pengakuan ulama Syiah” tegasnya.

Lebih dari itu, pada masa Khomeini berkuasa sebanyak tiga juta kaum Syiah meninggalkan Iran karena ketakutan, mereka menyebar keberbagai dunia Islam dengan membawa ajaran Syiah meski tidak sejalan dengan Khomeini.

Bahkan, ada sekira 50 orang Syiah di Iran yang tidak mendapat kebebasan politik dan sosial. Terkait nasib Ahlusunnah di Iran lebih mengerikan lagi, banyak ulama Sunni dibunuhi dan ditangkapi. Kemiskinan hebat juga merajalela di Iran pada masa Khomeini.

“Jangan tanya Ahlussunah di Iran, penderitaan mereka sangat berat, padahal Ahlussunnah ikut menjatuhkan Syah Iran, karena Ahlussunnah ikut tertekan oleh Syah Iran,” kata Ustadz Farid.
Reporter: Bilal Muhammad

0 comments: