Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Karena itu, setelah keterangan-keterangan di atas (baca artikel: Inilah Alasan Mengapa Ajaran Syiah Sangat Berbahaya), maka bagaimana sikap kita terhadap Syiah?

Pertama: Jumhur ulama berpendapat bahwa penganut Syiah Itsna ‘Asyariah, adalah muslim, namun mereka adalah muslim yang menyimpang dan berbuat bid’ah dalam ajaran Islam. Karena itu, berlaku bagi mereka hukum-hukum Islam pada umumnya, seperti hukum pernikahan, pembagian harta waris, pengurusan jenazah, adab-adab makan dan bentuk-bentuk muamalah lainnya. Juga diizinkan untuk berhaji, umrah, dan masuk dalam dua tanah haram (Mekah dan Madinah) yang diharamkan bagi non muslim. Namun tetap saja harus diingat banyaknya penyimpangan mereka dari ajaran Islam yang sesungguhnya, dan membutuhkan perbaikan dan pembinaan bahkan memerlukan aturan-aturan khusus, dan ini merupakan ruang bagi para ulama untuk menjelaskannya secara rinci.

Dan jumhur ulama juga berpendapat bahwa ada beberapa sekte dalam Syiah yang sudah benar-benar kufur, seperti sekte Syiah Ismailiyah, Nushairiyah, dan selainnya yang berpaham atheis.

Kedua: Karena banyaknya penyelewengan yang dilakukan oleh penganut paham Syiah, maka kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa mustahil kita melakukan pendekatan terhadap mereka melalui akidah dan fikih, antara Sunni dengan Syiah yang disebut “Taqribul Madzahib”. Syiah bukanlah salah satu mazhab (dalam Islam) sebagaimana dikatakan sebagian orang, akan tetapi Syiah merupakan penyelewengan dari jalan yang lurus (islam). Maka pendekatan apalagi yang harus dilakukan jika satu berada pada jalan kebenaran sementara lainnya menyimpang? Tentu saja penyimpangan juga yang akan terjadi walau dalam kadar lebih rendah. Dan hal ini tidak bisa diterima sama sekali dalam syariat Islam.

Apa gunanya kita berupaya mengadakan “Taqrib”, sementara kita diminta menerima cacian terhadap sebagian para sahabat, tanpa yang lain? Apa gunanya berupaya untuk “taqrib” jika imam yang diakuinya hanya 12 imam bukan yang lainnya?  Apa gunanya berupaya untuk “Taqrib” jika hanya mengambil  hadis Imam Bukhari dan Muslim dengan mengabaikan Tirmidzi dan Abu Daud? Apakah ini yang dimaksud “taqrib” jika kita diminta menerima menghalalkan nikah mut’ah? Apakah ini yang dimaksud “taqrib” jika kita diminta mendiamkan penindasan terhadap kaum Sunni di Iran, Irak, Lebanon, Suriah, dan tempat lainnya?
Wahai saudara saudariku, sesunguhnya jalan ini adalah jalan buntu….
Jadi segala bentuk upaya pendekatan antara Syiah dengan Sunni baik dalam masalah akidah maupun fikih merupakan upaya untuk merubah agama Islam, dan ini tidak boleh kita lakukan. Mari kita melihat kembali segenap upaya yang dilakukan para ulama kita yang berusaha keras untuk melakukan taqrib dengan Syiah, yang pada akhirnya semua sadar bahwa usaha ini mustahil dilakukan. Disini coba kita perhatikan pengakuan Ulama Besar Suriah Syaikh Dr. Musthafa As Siba’i rahimahullah yang ia tulis dalam bukunya, “As Sunnah wa Makanatuha fi as Tasyri’ al Islami”, beliau menyatakan; “Seluruh upaya untuk mengadakan pendekatan Sunni-Syiah adalah sia-sia,” bahkan beliau menyatakan secara tegas, bahwa “Seakan-akan pendekatan yang mereka inginkan adalah mendekatkan Ahlus Sunnah kepada madzhab Syiah!”

Sebagaimana halnya jalan yang pernah ditempuh oleh Dr. Yusuf Qardhawi, dan kesimpulannya sama seperti yang dikemukakan Dr. Musthafa Assiba’i.

Ketiga: Tidak cukup bagi kita hanya sebatas mengingkari akidah Syiah, akan tetapi seharusnya kita juga membentengi pengikut Ahlussunnah dengan ilmu yang bermanfaat, agar dapat menjaga mereka jangan sampai terjerumus kepada akidah yang rusak. Dan semestinya para ulama serta para dai dengan sungguh-sungguh memberi pelajaran mengenai akidah ahlisunnah dengan benar, menceritakan sejarah nabi dan para sahabat yang mulia, serta mengambil pelajaran dari buku-buku sejarah yang benar, supaya mereka tahu bahwa generasi yang tidak mengetahui sejarah adalah generasi yang akan hilang masa depannya.

Keempat: Kita juga harus berani untuk mengungkap beragam tuduhan dan syubhat yang dilontarkan oleh Syiah. Kita tidak boleh menundukkan kepala ke tanah, karena mengira bahwa diam dari membicarakan permasalahan Syiah akan menjadikan lisan terjaga. Namun kita harus berbicara dengan lantang, karena ini adalah persoalan akidah, dan urusan ini adalah urusan meluruskan yang salah dan membina akhlak.

Karerna itu kita harus kemukakan segala hal yang berhubungan dengan sejarah yang dijadikan bahan kritikan Syiah, kita juga berkewajiban menjelaskan hal itu sesuai dengan sudut pandang Islam yang benar. Sebagaimana keharusan menerangkan kecintaan Ahlusunnah terhadap Ahlul bait dan pandangan mereka terhadap Ahlul bait. Sebagaimana pula kita harus menjelaskan propaganda Syiah terhadap persepsi manusia yang mengaku bahwa merekalah yang mengagung-agungkan ahlul bait, tapi dengan cara berlebih-lebihan dan dusta.

Kelima: Kita juga harus berani berhadapan langsung terhadap orang-orang Syiah dengan dakwah yang benar dan nasihat yang ikhlas, supaya mereka kembali kepada ilmu yang benar dengan menelaah kembali buku-buku sejarah mereka tentang akidah mereka, supaya mereka tahu dengan jelas bahwa riwayat-riwayat yang mereka jadikan sandaran adalah riwayat yang sangat lemah dan terputus, juga bahwa manhaj dan pemikiran mereka telah dipalsukan pada abad ketiga Hijriyah, serta tidak memiliki dasar apapun sebelum itu. Kita yakin, orang-orang yang ikhlas diantara mereka akan ditunjuki Allah ke jalan yang benar, sesungguhnya Allah Maha kuasa atas hal itu.

Keenam: Teruntuk negara-negara Arab dan nengera-negera Islam, bahkan kaum minoritas Islam yang berada di negara-negara barat, agar selalu waspada dari pengaruh penyebaran ajaran Syiah yang sedang tumbuh dengan pesatnya. Sebagaimana yang kami jelaskan, bahwa ajaran Syiah merupakan penyimpangan dari ajaran yang benar, karena itu seharusnyalah ada perhatian yang sangat besar mengenai masalah ini, terkhusus bagi negara-negara yang menjadi target penyebaran ajaran Syiah yang sangat pesat, seperti Bahrain, Uni Emirat, Arab Saudi dan Yordania.

Ketujuh: Teruntuk umat Islam Ahlisunnah yang berdomisili di Irak, Iran, dan Lebanon, agar selalu waspada, bersatupadu, dan menjalin hubungan dengan saudara-saudara mereka dari kalangan Ahlisunnah di negara-negara Islam. Bersama-sama dalam melindungi jiwa-jiwa mereka dari bahaya yang ditujukan kepadanya, selalu memberikan informasi demi menjelaskan keadaan dan kondisi mereka, serta cara mudah dalam memberikan pertolongan kepada mereka.

Kedelapan: Kita tidak mempermasalahkan hidup berdampingan dengan kaum Syiah tanpa saling bermusuhan dan saling mengganggu, bahkan tanpa saling mencampuri urusan dalam masalah ajaran dan keyakinan yang menyebabkan konflik, sebagai timbal balik dari dua kelompok. Namun bukan berarti memberi kebebasan seluas-luasnya kepada Syiah di Irak untuk menyingkirkan Sunni, sama saja di Irak maupun Iran.

Kesembilan: Adanya upaya pendekatan politik antara sebagian kelompok Ahlisunnah dengan Syi’ah, namun harus disertai dengan sikap waspada dari terjadinya penyimpangan dalam masalah “Taqrib” seperti yang biasa terjadi dalam sejarah yang berkaitan dengan masalah ini, sebagaimana keharusan untuk berhati-hati dari berbagai macam tuntutan yang berkaitan dengan dasar-dasar akidah dan syariat. Semestinya upaya taqrib seperti ini terpenuhi syarat-syarat yang khusus dan untuk mencapai kemaslahatan bersama, namun tidak bersifat mutlak, yang akan menimbulkan kebingungan dan kesalahpahaman.

Kesepuluh: Teruntuk para penguasa kaum Muslimin, supaya menjalankan tanggungjawab besar yang diamanahkan diatas pundak mereka, sesungguhnya umat Islam Sunni tidak terpengaruh dengan seruan taqriib, dan tidak pula kagum terhadap slogan-slogan Syiah kecuali karena tidak adanya campur tangan para penguasa kaum Muslimin dari medan.

Sungguh kita telah menyaksikan betapa besarnya simpati kaum Suni sehubungan dengan sikap Erdogan terhadap Yahudi dan Perdana Menteri Denmark, ini menunjukkan bahwa kaum Muslimin Ahlisunnah sangat memerlukan sosok pemimpin sebagai symbol yang mereka berdiri dibelakangnya. Semoga Allah memperlihatkan kebenaran kepada kalian sebagai sesuatu yang benar dan menganugrahkan untuk mengikuti-Nya, serta memperlihatkan kesesatan kepada kalian sebagai kesesatan dan menganugrahkan kalian untuk menjauhinya.

Inilah kesepuluh point pandangan kita dalam menimbang bahaya ajaran Syiah….

Dan kita yakin kalau masih terdapat sepuluh atau seratus atau bahkan seribu masalah yang tidak mungkin kita jelaskan dalam makalah singkat ini, namun tujuan kita disini hanya sekedar membuka bab-babnya dan menjelaskan pandangannya saja, sementara untuk merinci, menjabarkan dan mendetailkannya membutuhkan permbahasan secara ilmiah. Kita memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada para ulama kaum muslimin supaya mereka tetap memberikan penjelasan kepada semua manusia, “sehingga tidak terjadi fitnah (musibah) dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah”. (QS Al Anfaal: 39).

Semoga Allah menjaga umat Islam dari setiap keburukan, menerangi jalanNya yang lurus dan menganugerahinya kebaikan, di dunia dan akhirat.

Kita memohon kepada Allah, semoga Dia memuliakan Islam dan kaum Muslimin….
(nisyi/syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh Dr. Raghib As Sirjani

0 comments: