Breaking News
Loading...

Kelompok pembela dan pendukung Syiah seringkali mengklaim sebagai pecinta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan menuduh kelompok yang anti terhadap aliran sesat itu sebagai ancaman NKRI. Padahal sejatinya ideologi Syiah adalah ancaman pasti bagi negara.

“Yang pasti ancaman ideologi imamah itulah ancaman NKRI,” kata Anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat Dr. Abdul Chair Ramadhan, seusai menjadi pembicara dalam sebuah diskusi di Jakarta pada Sabtu (28/02).

Abdul Chair menambahkan bahwa ideologi imamah yang menjadi rukun iman Syiah itu tidak bisa diadaptasikan dengan ideologi manapun. Pasalnya ideologi imamah itu mewajibkan berbaiat kepada wali al faqih yakni Rahbar Ali Khamenei, yang mengaku sebagai wakilnya imam mahdi yang keberadaan masih ghaib. Keberadaan wali al faqih sendiri telah dikuatkan dalam konstitusi Iran, yang menjadi pusat kebangkitan dan penyebaran Syiah.

“Jadi wali al faqih itu tidak akan hilang, tidak akan hapus sebagaimana diatur di dalam konstitusi Iran,” imbuhnya.

“Keberadaaan wilayatul faqih tidak dapat dihapuskan karena wilayatul faqih di dalamnya ada Rahbar sebagai wali Imam Mahdi yang dalam masa ghaib,” terang Abdul Chair.

Imamah merupakan salah satu diantara rukun iman Syiah. Rukun iman Syiah yang berjumlah lima itu adalah At Tauhid, An Nubuwwah, Al Imamah, Al Adlu, dan Al Ma’ad.

Dengan demikian, lanjut Chair, ideologi Imamah tidak dapat diadaptasikan dengan ideologi yang berlaku di Indonesia. Selain itu paham yang menjadi bagian akidah Syiah itu sangat berbahaya bagi NKRI.

Bagi penganut Syiah, lanjut Chair, kapan pun dimana pun mereka berada wajib menegakkan Imamah. Kewajiban itu tidak bisa dinegasikan dan tidak bisa dihilangkan.

“Ideologi imamah tidak dapat digantikan dengan sistem politik apapun. Karena ideologi imamah semua mengacu kepada Iran, maka kalau bicara ke Iran berarti sistem kepemimpinannya sistem imamah,” pungkasnya. (kiblat.net)

0 comments: