Breaking News
Loading...

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Syahrul Qur’ani

Keempat, Allah Ta’ala mengampuni dan menyayangi para sahabat, sebaliknya Syiah mengafirkan dan melaknat mereka
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman

لَقَد تَّابَ الله عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِن بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

(artinya), “Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka (sahabat).” (QS. at-Tawbah: 117).

Ayat di atas turun berkaitan dengan Perang Tabuk. Para sahabat yang turut serta dalam Perang Tabuk disebut Jaisyul ‘Usrah, karena sulitnya kondisi kaum muslimin saat itu. Wajar jika akhirnya ada di antara mereka yang merasa berat dan hampir saja berpaling dari perintah Allah.
Utsman bin Affan menginfakkan 950 unta dan 50 ekor kuda lengkap dengan muatannya untuk biaya perang. Umar bin Khatthab menginfakkan setengah hartanya yang tak sedikit, sementara Abu Bakar ash-Shiddiq menginfakkan seluruh hartanya. Sayangnya, justru ketiga sahabat mulia inilah yang paling dikafirkan oleh Syiah. Aneh, mereka mengaku muslim tapi akidah mereka menyelisihi firman-firman Allah.

Kelima, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memaafkan kesalahan para sahabatnya bahkan memohonkan ampun bagi mereka
Allah berfirman (artinya), “Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imran: 159).

Sejarah membuktikan bahwa para sahabat radhiyallahu anhum yang telah mendampingi perjuangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terkadang jatuh dalam kesalahan. Apakah Allah melaknat mereka atau memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mencela dan menuduh para sahabatnya kafir?

Ternyata Allah ‘Azza wa Jalla justru memerintahkan Rasul-Nya untuk memaafkan dan memintakan ampunan bagi para shahabatnya. Bahkan lebih dari itu, beliau pun senantiasa mengajak para sahabatnya untuk bermusyawarah tentang urusan-urusan perang, politik, ekonomi, kemasyarakatan, dan lain-lain.

Sekali lagi, bandingkan dengan Syiah. Mereka sangat berat menerima kesalahan para sahabat. Apakah mereka merasa lebih mulia dari Allah dan Rasul-Nya? Hanya Allah yang tahu kemudian orang-orang Syiah itu.

Keenam, Para sahabat adalah penolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

وَإِن يُرِيدُواْ أَن يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللّهُ هُوَ الَّذِيَ أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ

“Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin.” (QS. al-Anfal: 62).

Para mukmin, siapakah mereka? Tentu saja mereka adalah para sahabat yang telah mempersembahkan harta, jiwa dan raga mereka untuk membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Subhanallah!

Para sahabat adalah manusia-manusia pilihan yang dipilih Allah untuk mendampingi perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika hari ini, kehormatan para sahabat terus direndahkan oleh orang-orang Syiah, maka itu tak ada artinya jika dibandingkan dengan sederet pembelaan Allah Azza wa Jalla terhadap mereka.

Ketujuh, Istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ibunda kaum muslimin
Allah Jalla Jalaluh berfirman

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ

(artinya), “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka…” (QS. al-Ahzab: 6).

Istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ibunda kita kaum muslimin. Sementara Syiah melecehkan, menuduh berzina, bahkan mengafirkan Ibunda kaum Mukminin Aisyah binti Abi Bakar dan Hafshah binti Umar radhiyallahum.

Apakah Syiah tidak menganggap bahwa Aisyah dan Hafshah radhiyallahu ‘anhuma itu sebagai ibunda mereka—dengan konsekuensi ingkar terhadap firman Allah di atas? Ataukah mereka adalah anak-anak durhaka terhadap ibundanya? Atau itukah pengakuan bahwa mereka memang bukan bagian dari kaum muslimin? Wallahu A’lam.

Setidaknya, ketujuh ayat di atas—dan masih banyak ayat lainnya—yang menyebabkan saya hingga saat ini tidak kepincut oleh ajaran Syiah, seindah apapun ia dikemas oleh para pengikutnya. Semoga Saudaraku Pembaca yang mulia pun demikian. Wallahu al-Hadi ilaa aqwam ath-thariq.* (hidayatullah.com/syiahindonesia.com)

Penulis tinggal di Makasar, Sulawesi Selatan

0 comments: