Breaking News
Loading...

Demontrasi Massal Pengikut Hautsi dan Awal Mula Peperangan

Syiahindonesia.com - Pada tahun 2004 M, terjadi pemberontakan kelompok Syiah Al Hautsi, atas perintah Husein Badruddin Al Hautsi, mereka menguasai jalan-jalan kota Yaman, dengan satu tuntutan agar ekspansi Amerika terhadap Irak dihentikan, namun penguasa menyambut demontrasi dengan kekerasan. Disebutkan pula bahwa ketika itu Husein Badruddin Al Hautsi mengaku dirinya adalah Imam Mahdi, bahkan menganggap dirinya sebagai Nabi. Akibatnya pemerintah Yaman memutuskan untuk mendeklarasikan perang terbuka terhadap kelompok Syiah Hautsi, sampai-sampai pemerintah Yaman ketika itu mengerahkan 30,000 tentara, pesawat-pesawat tempur, dan tank-tank. Peperangan pun semakin berkobar dengan terbunuhnya pimpinan kelompok Hautsi yaitu Husain Badruddin Al Hautsi, ratusan orang ditawandan persenjataan yang sangat banyak berhasil disita dari orang-orang Hautsi.

Kondisi pun semakin genting, paska terbunuhnya Husain Al Hautsi tampuk kepemimpinan diambil alih oleh ayahnya yaitu Badruddin Al Hautsi.Hal ini semakin memperjelas bahwa secara diam-diam kelompok Syi'ah telah mempersenjatai diri mereka dengan sangat rapi, dimana mereka sanggup menghadapi tentara Yaman hingga bertahun-tahun lamanya.

Pada tahun 2008 M, Qatar mengambil peran sebagai mediator antara pihak Hautsi dengan pemerintah Yaman, yang menghasilkan perjanjian perdamaian sesuai wasiat Yahya Al Hautsi dan Abdul Karim Al Hautsi - saudara kandung Husain Badruddin Al Hautsi- ntk pindah ke Qatar dan menyerahkan persenjataan mereka kepada pemerintah Yaman.Akan tetapi perjanjian damai ini tidak berselang lama, peperangan pun mulai babak baru, bahkan orang-orang Hautsi terang-terang memperluas kekuasaannya ke beberapa provinsi sekitar Sha'dah dan berupaya sampai ke pinggiran pantai laut merah agar dapat menguasai wilayah pesisir, salah satunya adalah pelabuhan supaya dapat menyuplai kebutuhan mereka dari luar Yaman.

Saat ini, seruan mereka sudah semakin jelas, konfrontasinya pun semakin nyata, bahkan pembahasaannya saat ini mengarah kepada ancaman sekelompok orang yang ingin menguasai Yaman secara keseluruhan, bukan hanya sekedar pemisahan sebagian syi'ah dari negeri Yaman.

Sebab-sebab Yang Menopang Kekuatan Syiah Hautsi

Begitu banyak banyak justifikasi yang mencerahkan kita dalam memahami duduk permasalahan tersebut, boleh jadi yang paling menonjol adalah,

Pertama, tidak mungkin kelompok kecil (Syiah Hautsi) yang berada di negeri Yaman, memiliki pertahanan yang sangat kokoh dalam jangka waktu yang relative panjang, melainkan mereka mendapat sokongan dari luar Yaman. Jika persoalan itu dianalisa, kita akan dapati bahwa negara yang berperan dalam upaya menyokong kekuatan Hautsi adalah Iran, yaitu daulahItsna 'Asyariyah yang dengan segala sarana berusaha untuk menyebarkan madzhab mereka, sekiranya gerakan Syiah Hautsi mampu memberi perlawanan untuk menguasai pemerintahan Yaman,niscaya hal ini akan menjadi sebuah kemenangan yang besar bagi Iran, lebih-lebih mereka akan leluasa mengepung salah satu kubu terbesar yaitu Saudi, Saudi pun akan terkepung dari arah utara oleh di Iraq, dari arah timur oleh Kuwait dan Bahrain, begitu juga dari arah selatan oleh Yaman, dari sini Iran akan memberikan tekanan yang luar biasa, baik hubungannya terhadap dunia Islam yang sunni maupun hubungannya terhadap Amerika.

Data ini bukan sekedar teori, akan tetapi berdasar realita yang memiliki penguat yang sangat banyak, salah satunya adalah perubahan yang mengejutkan dari Badruddin Al Hautsi dari pemikiran Zaidiyah yang moderat kepada pemikiran Itsna 'Asyariah yang menyimpang, padahal lingkungan Yaman tidak pernah mengenal pemikiran yang diusung oleh Syiah Itsna 'Asyariyah di sepanjang sejarah Yaman, apalagi Iran telah merangkul Badruddin dengan segala daya upaya, bahkan ia disambut sebagai tamu kehormatan di Teheran selama bertahun-tahun hingga Badruddin mendapatkonsep "Wilayatul Faqih" yang digagas oleh Khameini sebagai solusi tepat untuk merambah kepemerintahan hatta meski tidak dari keturunan Fatimah radhialllahu 'anha, padahal pemikiran ini tidak terdapat dalam ajaran Zaidiyah.

Seperti halnya Iran sebagai negara kuat yang mampu mengulurkan bantuan politik, ekonomi serta militer terhadap Al Hautsi, dan Al Hautsi pun mengokohkan bantuandari Iran dengan membangun berbagai media Syi'ah Iran seperti saluran-saluran tv yang sangat banyak semisal; Al'Alam, AlKautsar dan yang selainnya,demi kepentingan kelompok Hautsi.

Sebagaimana halnya Hautsi sendiri bermediasi dengan Marja' tertinggi syi'ah Iraq Ayatullah AsSistani, seorang Itsna 'Asyari yang masih asing bagi masyarakat Yaman, namun ini hanya sekedar pengukuhan terhadap madzhab mereka.Disamping itu, pemerintahan Yaman menyatakan bahwa sumber persenjataan yang kebanyakan di milikikelompok Hautsi adalah buatan Iran. Pemerintah Yaman sendiri menyinnggung tanpa terang-terangan sehubungan adanya bantuan Iran terhadap pemberontak Hautsi, tentu saja Iran mengingkari perihal bantuan tersebut, namun sudah dimaklumi bahwa demikian ini hanya permainan politik mereka, terlebih pada ranah aqidah "Taqiyyah" Itsna 'Asyariyah yang melegalkan kedustaan tanpa adanya batasan.

Kedua, diantara faktoryang mendukung kelancaran gerakan kelompok Hautsi di Yaman adalah empati sebagian masyarakat karena ikatan nasab kepada gerakan pemberontak, meskipun tidak sampai condong kepada pemikiran menyimpang mereka, yang demikian karena factor buruknya perekonomian dan sosial yang berlaku di masyarakat tersebut. Secara global, Yaman tergolong sangat lemah dalam infrastruktur bangunan, sedangkan kondisi kefakiran yang sangat buruk melanda sebagian besar penduduknya, nampaknya wilayah-wilayah tersebut tergolong lebih banyak (penduduknya) daripada wilayah lain, namun tidak ada perhatian pemerintah terhadap wilayah tersebut sebagaimana perhatian yang tercurahkan atas kota-kota besar lainnya di Yaman.

Lebih ditegaskan lagi bahwa kesepakatan damai yang dimediasi oleh Qatar pada tahun 2008 M, antara pemerintah Yaman dan kelompok Hautsi yang memutuskan bahwa pemerintah Yaman berencana mengembalikan kemakmuran wilayah Sha'dah, sedangkan Qatar akan memberikan modal terhadap proposal kemakmuran tersebut,namun semua ini terhenti karena perang, dan bukti dari realitanya bahwa masyarakat yang hidup dalam kondisi termarginalkan dan ditelantarkan akan melakukan protes bahkan sewenang-wenang meski kepada siapapun yang tidak sesuai dengan keyakinan dan prinsip mereka.

Ketiga, diantara factor yang mendukung berlangsungnya pemberontakan adalah adanya dukungan dari kabilah-kabilah yang mendominasi Yaman. Yaman sendiri merupakan wilayah yang banyak didominasi oleh suku-suku dan kabilah-kabilah, bahkan terdapat keseimbangan yang urgen di berbagai kabilah berbeda, dan banyak sekali refrensi yang menunjukkan bahwa para pemberontak dari kelompok Hautsi mendapat sokongan dari beberapa kabilah yang menolak tatanan kepemerintahan, karena adanya dendam antara mereka dan sistem pemerintahan yang menggeser pandangan terhadap agama atau madzhab.

Keempat, diantara faktor yang mendukung hal ini adalah kondisi alam di Yaman berupa pegunungan, sehingga membuat kekuatan pemerintah untuk menduduki wilayah tersebut menjadi sulit, disamping itu tidak adanya kemampuan pasukan serta banyaknyarelungdan gua-gua,tidak ada penilitian ilmiah yang menjelaskan jalan-jalan di sekitar pegunungan, serta tidak adanya peralatan tekhnis dan satelit buatan yang mampu mengintai pergerakan mereka secara detail.

Kelima,Factor pendukung lainnya adalah sibuknya pemerintahan Yaman dalam menyelesaikan Isu seruan yang menginginkan Yaman Selatan terpisah dari Yaman Utara,sertaadanya demonstrasi yang menyerukan terhadap masalah itu, disertai dengan munculnya mantan presiden Yaman Selatan, Ali Salim AlBedh dari tempat tinggalnya di Jerman yang sama-sama menyerukanpemisahan. Tidak diragukan lagi, kondisi semacam ini semakin mencerai beraikan pemerintahan, pasukan dan intelejen Yaman, sehingga kontrol mereka terhadap kelompok Hautsi semakin melemah.

Keenam, ada beberapa analisa yang menjelaskan tentang keberlangsungan pemberontakan,bahwa pemerintahan Yaman sendiri menginginkan agar permasalahan itu tetap berlangsung! Sebab pemberontakan tersebut dapat dijadikan alasan yang akan menghasilkan berbagai keuntungan negara, diantara kuntungan yang paling besar adalah terjalinnya kerja sama dengan Amerika yang biasa dikenal dengan sebutan ‘perang kontra terorisme’, apalagi Amerika mengisyaratkan adanya kaitan antara tandhim AlQaedah dengan kelompok pemberontak Al Hautsi.

Saya sendiri berpendapat bahwa analisa ini sangat jauh, karena manhaj yang dianut oleh tandhim AlQaedah sangat bertolak belakang dengan manhajyang dianut Itsna 'Asyariah, selain itu tentunya Amerika ingin mengokohkan kuku-kukunya diseluruh dunia Islam dengan beragam alasan guna merealisasikan tujuannya, sementara dari hubungan ini Yaman berupaya memperoleh konsolidasi politik serta ekonomi atau paling tidak mengesampingkan terungkapnya berbagai files tentang HAM dan kediktatoran serta files lain yang hendak diungkap oleh Barat.

Di samping keuntungan yang diperoleh Yaman dari hubungannya dengan Amerika, Yaman juga akan memperoleh keuntungan dari hubungannya dengan Saudi, dimana Saudi akan berupaya membantu Yaman dalam hal politik, militer serta ekonomi dalam rangka melawan gerakan Syi'ah Hautsi, sementara dengan berlangsungnya permasalahan itu akan semakin memperlancar bantuan untuk Yaman, bahkan bukan hanya sokongan dari Saudi yang akan diperoleh Yaman, tapi akan meluas ke Qatar, Emirates dan yang lainnya.

Meskipun faktor-faktor tersebut dapat dialihkan, namun permasalahan masih tetap berlanjut, bahkan kondisi yang saya lihat semakin membahayakan, sudah selayaknyalah Yaman mengambil sikap tegas terhadap peristiwa ini, menyebarkan pemikiran Islami yang shahih dalam rangka menghadapi berbagai pemikiran menyimpang, dan menaruh perhatian yang besar terhadap masyarakatdi wilayah-wilayah tersebut sehingga dapat menghimpun loyalitas mereka secara alamiah kepada Yaman dan pemerintahannya.

Sedangkan bagi dunia Islam global, hendaknya memberikan dukungannya terhadap Yaman di tengah konflik ini, sekiranya tidak, maka mega proyek Syi'ah akan mengepung dunia Islam dari segala penjuru.Dan yang paling urgen adalah mengembalikan nilai-nilai dan kemaslahatan Yaman, sebab kemaslahatan ini akan mengarahkan kepada persatuan, gagasan yang baik, bahkan kepada persatuan kaum Muslimin di atas kitabullah serta sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,dengan begitu kita akan keluar dari segala kemelut dan mendapat solusi dari berbagai permasalahan yang ada. (team/syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.


0 comments: