Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Wakil Ketua MUI Jember, KH. Abdullah Syamsul Arifin dalam acara Silaturahmi Nasional ‘Penguatan Aswaja’ menilai aksi caci-maki terhadap sahabat Nabi SAW yang kerap dilakukan oleh kelompok Syiah bukan persoalan besar ketika mereka mengaku tidak sebagai Islam, namun sebaliknya menjadi persoalan besar ketika mereka mengaku sebagai Islam.

“Kalau mereka tidak menganggap dirinya bukan Islam, sebetulnya selesai umat Islam. Tidak akan sakit hati dengan Syiah, Tapi, ketika mereka mengaku sebagai Islam kemudian mencederai keyakinan mainstream mayoritas, ini akan muncul masalah,” kata pengurus Nahdlatul Ulama Kabupaten Jember ini di Ponpes Mahasiswa Al-Hikam, Depok pada Ahad, (07/12).

Karena, menurut pria yang akrab disapa Gus Aab ini, persoalan menghormati sahabat bukan sekedar menghormati pribadinya. Namun, itu berkaitan dengan legitimasi sumber keagamaan umat Islam. Berarti, Syiah mengkafirkan para sahabat dengan tujuan untuk menghancurkan otoritas keagamaan dalam Islam.

“Persoalannya apa, ketika mencaci sahabat, bukan hanya persoalan kita harus menghormati sahabat Nabi SAW. Kita harus ingat, jalur transmisi keagamaan kita melalui para sahabat,” ucapnya.

“Ketika sahabat sudah dikafirkan, darimana kita akan mendapatkan sumber otoritatif keagamaan? Hadis menjadi tidak ada karena hadis melalui jalur sahabat,” tambah tokoh yang akrab dipanggil Gus Aab.

Jadi, kata Gus Aab, tidak bisa dianggap sederhana, bukan sekedar satu pihak menghormati dan satu pihak lainnya mencaci maki para sahabat radhiyallahu anhum.

“Kita tidak akan pernah mendapatkan Kutubus Sittah kalau bukan karena jalur perentetan melalui para Sahabat, Ketika Sahabat dibongkar dan semuanya dikafirkan maka secara otomatis semua kitab-kitab hadis sudah tidak dapat dipakai,” tegasnya kembali. (kiblat.net/syiahindonesia.com)

0 comments: