Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Kebanyakan kaum muslimin merasa simpati dalam menghukumi berbagai perkara, tokoh, organisasi, dan negara. Mereka tidak meneliti apa yang ada di balik itu semua, tidak membaca apa yang tertulis dalam buku-buku, dan tidak menelusuri asal-usulnya. Hal ini menjerumuskan mereka dalam berbagai kekeliruan dan salah persepsi yang berakibat fatal, yang baru disadari setelah musibah dan bencana yang diakibatkannya terjadi… dan ketika itu, penyesalan mungkin tiada berguna lagi.

Setelah kami paparkan awal lahirnya Hizbullah Syi’ah secara rinci, kami juga paparkan tentang Lebanon, dan kali ini kami akan mencoba untuk melanjutkan. Saya percaya bahwa saya sedang menelusuri jalan yang penuh duri. Usaha saya untuk memberikan gambaran yang benar bagi kaum muslimin pasti menghadapkan saya kepada gelombang penolakan dan kritikan dari kaum muslimin yang bersimpati kepada tokoh mana saja yang dianggap sukses di masa-masa yang sensitif dalam sejarah umat ini; meskipun tokoh tersebut adalah pengikut Syi’ah yang rusak, yang meyakini kebebasan berpendapat dalam mengritik, mencela, menentang dan bahkan menjatuhkan para sahabat yang mulia.

Saya yakin bahwa saya akan menghadapi perlawanan serius dari pihak Syi’ah sendiri, yang mendorong media-media massa Sunni agar menyerukan supaya ‘masalah ini’ ditutup dan jangan dibicarakan sama sekali, sembari memalingkan mereka kepada Zionis Israel dan Amerika saja. Padahal di saat yang sama Syi’ah terus melanjutkan skenario mereka. Kaum muslimin baru akan tercengang, saat Syi’ah berhasil mendirikan sebuah Daulah besar, yang setara dengan Daulah Buwaihiyyah tempo dulu, atau lebih besar lagi!!

Perpecahan Harakah AMAL Pasca Ash Shadr

Setibanya Musa Ash Shadr dari Qum (Iran) dan Najaf (Irak), ia berusaha merekrut orang-orang Syi’ah Lebanon menjadi sebuah eksistensi yang saling melengkapi, yang bisa diajak mendirikan sebuah daulah di masa depan. Ia begitu perhatian dengan sisi religius dan madzhabiyah kelompok ini, hingga pada tahun 1969 M, ia mendirikan Dewan Tinggi Syi’ah. Ia juga perhatian dengan sisi militer mereka, hingga mendirikan Harakah AMAL, yang merupakan singkatan dari Afwaajul Muqaawamah Al Lubnaaniyyah. Ia juga menjalin hubungan diplomasi dengan pihak Nashrani Maronis, demikian pula dengan Amerika Serikat dan Suriah, di samping tentunya dengan pihak-pihak yang mengirimkannya ke Lebanon, yang tokoh dari itu semua adalah Al Khumaini, yang saat itu masih berada di Irak.

Bersamaan dengan semakin bertambahnya kekuatan Ash Shadr, konflik kepentingan pun mulai muncul, terjadilah perselisihan antara dirinya dengan pemimpin revolusi Iran (sebelum berdirinya), juga dengan salah seorang tokoh pendukungnya yaitu Presiden Suriah Al Alayiyyah Hafizh Asad.Peristiwa ini berakhir pada tnggal 25 Agustus 1978 M secar tiba-tiba, dengan menghilangnya Musa Ash Shadr di Libya ketika kunjungan resminya.

Musa Ash Shadr meninggalkan kekosongan besar, sementara orang-orang Syi’ah berusaha menertibkan kembali organisasi mereka, akhirnya jabatan Dewan Tertinggi Syi’ah diambil alih oleh Abdul Amir Qublan, yang sebelumnya adalah wakil Musa Ash Shadr. Abdul Amir Qublan masih menjabat sebagai wakil ketua Dewan, padahal jabatan ketua sampai saat ini masing kosong! Sedangkan marja’ mereka di Lebanon merujuk kepada salah seorang syaikh mereka, yaitu Husein Fazhlullah.Di saat yang sama kondisi sayap militer Syi’ah yang dikenal dengan sebutan Harakah AMAL terpecah menjadi dua kelompok:

Kelompok pertama adalah Syi’ah Sekuler yang ingin mengatur jalannya permainan tanpa merujuk ke kaidah-kaidah madzhab Itsna Asyariyah. Mereka tidak ingin terikat dengan tokoh-tokoh rujukan agama di luar Lebanon, alias ingin menempuh jalur nasionalisme. Kelompok ini dipimpin oleh Nabieh Barrie, salah satu pemimpin Lebanon terkenal.

Kelompok kedua ialah mereka yang ingin menyempurnakanlangkah Musa Ash Shadr, yaitu ingin mendirikan Negara berlandaskan madzhab Syi’ah yang menetapkan keyakinan dan kesesatan Syi’ah dengan kekuatan senjata, sekaligus melebarkan kekuasaan mereka sekuat kemampuan. Kelompok ini bekerja sama dengan tokoh-tokoh revolusi Iran yang merencanakan kudeta di Iran, akan tetapi kelompok ini masih membutuhkan seorang pemimpin yang mengarahkan mereka.


Al Musawi, Nashrullah, dan Strategi Iran

Di masa-masa yang sulit ini, ada dua orang yang datang dari Najaf, Irak. Keduanya telah mendalami akidah Syi’ah di sana, keduanya memiliki pengaruh sangat besar dalam mempertahankan eksistensi langkah doktrin Musa Ash Shadr. Kedua orang itu adalah Abbas Al Musawi dan Hasan Nashrullah.

Keduanya berhasil menyusup dengan cepat ke barisan Harakah AMAL, dan dapat menduduki sebagian pusat-pusat kepemimpinan, padahal Hasan Nasrallah kala itu baru berusia 18 tahun.

Pada tahun 1979 M, terjadilah revolusi Iran dan Shah berhasil ditumbangkan. Al humaini pun tiba dari Paris (setelah diusir dari Irak tahun 1978 M) dan memegang tampuk kekuasaan di Teheran. Ia mulai menertibkan keadaan dan menyingkirkan pesaing-pesaingnya. Ia berbalik kepada pihak-pihak yang dahulu mendukungnya dari ormas-ormas Iran. Al Khumeini menetapkan dirinya untuk tidak tinggal di kota suci Qum seperti yang diramalkan banyak orang, namun justeru menetap di ibukota Teheran.


Setelah masalah-masalah di Iran mulai stabil, Al Khumaini mulai mengarahkan perhatiannya ke Lebanon dan Irak. Keduanya merupakan wilayah yang memiliki massa Syiah cukup besar, di saat yang sama, keduanya merupakan bagian dari skenario Syi’ah untuk mendirikan negara Syi’ah di wilayah tersebut.

Kondisi di Irak saat itu masih sangat sulit, karena Saddam Hussein memerintah tangan besi. Al Khumaini sendiri merasakan hal itu, sebab ia pernah tinggal selama 14 tahun di Irak yang berakhir dengan keluarnya dia secara terpaksa ke Paris. Dari sini, Al Khumaini tahu persis bahwa Organisasi Syi’ah di Irak tidak mampu menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein. Sebab itulah Al Khumaini memilih solusi militer, dan segera memulai perang total terhadap pemerintah Irak pada tahun 1980 M–ketia itu revolusi Iran belum genap satu tahun- Ini semua karena ambisinya untuk menjatuhkan pemerintahan Irak dan menyerahkan roda pemerintahan kepada Syi’ah, yang dengan begitu, Irak akan tergabung dalam negara Syi’ah Raya yang diimpikan Al Khumaini.

Sementara di Lebanon yang sarat dengan berbagai kelompok dan sekte agama, di sana masih butuh persiapan dan perlu sejumlah tokoh loyalis penuh kepada Al Khumaini dan pemerintahannya. Karena itulah, Al Khumaini selalu mengontak kedua orang tadi yang bermadzhab Syi’ah Itsna Asyariyah, yangberiman dengan ajaran Wilayatul Faqihyang berhasil mendudukkan Khomeini ke kursi pemerintahan. Kedua orang itu adalah Abbas Al Musawi dan Hasan Nashrullah, dari sinilah Iran mulai memberi dukungan langsung kepada mereka, meski kepemimpinan Harakah AMAL masih di tangan Nabieh Barrie yang berpaham sekuler.

Pada tahun 1981 M, diadakan muktamar Harakah AMAL yang keempat untuk memberikan solusi atas perselisihan internal mereka, yang masing-masing selama ini berusaha menguasai daerah selatan. Muktamar tersebut berakhir dengan tetap dipilihnya Nabieh Barrie sebagai pemimpin Harakah AMAL, dan Abbas Al Musawi menjadi wakilnya. Ini merupakan langkah penting untuk mengendalikan kondisi di selatan Lebanon. (nisyi/syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

0 comments: