Breaking News
Loading...

Rencana Menegakan Daulah Syi’ah

Syiahindonesia.com - Kembali ke kisah lebanon . .
Musa Ash Shadr berhasil di kirim ke Lebanon untuk merencanakan pendirian negara Syi’ah. Dia yang dipilih, sebab dia memiliki asal usul Lebanon, selain menguasai bahasa Persi, dia juga lihai berbahasa Arab. Ia senantiasa berkoordinasi dengan Khomeini, bahkan keduanya memiliki hubungan yang lebih kuat dari sekedar relasi politik; sebab putera Khomeini yang bernama Ahmad Al Khomeini, menikahi puteri saudari kandung Musa Ash Shadr. Sedangkan Musa Ash Shadr menikahi cucu Al Khumeini, di samping itu, Musthafa Al Khumeini juga merupakan salah satu sahabat terdekat Ash Shadr.

Musa Ash Shadr menuju Lebanon Selatan yang merupakan kantong Syi’ah. Di sana ia mulai melancarkan misinya atas nama sosial, tanpa menonjolkan masalah agama. Ia mulai mendirikan yayasan-yayasan sosial untuk membantu kaum fakir miskin.

Kemudian mendirikan sekolah-sekolah dan klinik-klinik medis denganmenampakkan perspektif syi’ah-nya sedikit demi sedikit. Ia lalu mendirikan lembaga-lembaga peradilan Ja’fari, yang mengadili kaum syi’ah berdasarkan madzhab Itsna ‘Asyariah mereka. Karakter multi golongan yang ada di Lebanon sangat mendukung untuk beroperasi secara luas, lebih-lebih mengingat lemahnya pengaruh pemerintah dan militer Lebanon.

Musa Ash Shadr adalah sosok yang dapat bermain di semua peran. Ia siap menggandeng tangan siapa saja demi mewujudkan keinginannya. Sejak awal ia tahu bahwa Nashrani Maronis adalah golongan terkuat di Lebanon, dan pesaingnya adalah golongan Sunni. Padahal perlu kita ketahui bahwa Ahlisunnahkala itu bukanlah kaum fundamentalis yang berpegang teguh dengan sunnah atau agama Islam. Mereka tak lain adalah orang-orang berfaham Nasionalis-Sosialis-sekuler, kecuali orang-orang yang mendapat rahmat Allah.

Musa Ash Shadr pun mulai mendekati golongan Nashrani, sebab Syi’ah sebagaimana yang kita ketahui sejak awal, tak lain adalah pemberontakan atas ajaran Islam Sunni.Syi’ah hanyalah penentang sejarah Islam sejak Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khatthab radhiyallaahu ‘anhuma, kemudian berlanjut di setiap negara Islam yang menaungi umat ini. Intinya, pemikiran syi’ah sejak semula merupakan pemikiran yang konfrontatif terhadap Ahlisunnah.

Dari sini, Musa Ash Shadr berusaha merangkul Sharel Al Halew, Presiden Lebanon dari Nashrani Maroniswaktu itu, anehnyaia tidak mau merangkul pemimpin-pemimpin Sunni untuk mengumpulkan kekuatan kaum muslimin, justeru malah menganggap bahwa Sharel Al Halew sebagai sekutu yang pantas untuk menentang penguasa Sunni. Ia mulai mendekatinya dan memprovokasinya,hingga pada tahun 1967 M terjadilah kesepakatan mendirikan Dewan Tinggi Syi’ah yang bertindak sebagai wakil Syi’ah di Lebanon. Sharel Al Halew bahkan sepakat untuk menetapkan undang-undang nomor 72/76 yang memutuskan bolehnya menjadikan rujukan-rujukan Syi’ah dunia (di Iran, Irak dan lainnya) sebagai rujukan Dewan Syi’ah dalam menetapkan fatwa, hukum dan undang-undangnya. Mereka tidak harus mengikuti hukum yang berlaku di Lebanon!

Dewan ini benar-benar berhasil berdiri tahun 1969 M, dan tentu saja Musa As Shadr adalah pemimpin pertama dalam dewan ini. Pemerintah Lebanon mengakui keberadaan majelis tersebut pada tahun 1970, bahkan pemerintah menggelontorkan dana sebanyak 10 juta Dollar sebagai bantuan untuk wilayah selatan Syi’ah.

Musa Ash Shadr juga tak lupa menjual dirinya kepada Amerika. Dalam pertemuannya dengan Dubes Amerika, Ash Shadr menyebutkan bahwa ia akan menghadapi gerakan Nashiri yang berpaham Komunis bersama pemuda-pemuda Syi’ah di Lebanon. Kedekatan hubungannya dengan orang-orang Amerika telah cukup dikenal, hingga ia dituduh oleh orang-orang dekatnya Al Khumaini. Sebab Al Khumaini ketika itu menganggap Amerika sebagai bahaya besar, sebab Amerika mendukung penuh pemerintahan Shah Iran.

Namun dalam perkembangannya, pada tahun 1970 M, terjadilah peristiwa di luar harapan Musa Ash Shadr,yaitu terjadinya pembantaian para pengungsi Palestina di Yordania, yang popular dengan sebutan peristiwa “Ailul Aswad”. Sebab itulah orang-orang Palestina di bawah komando Fatah diungsikan ke Lebanon.Meskipun Syi’ah tidak suka, pengungsian tersebut menempati wilayah selatan Lebanon (berbatasan dengan Palestina) karena orang-orang Palestina adalah Ahlisunnah, dan hal ini berarti akan menghambat rencana besar pendirian negara Syi’ah. Padahal gerakan Fatah ketika itu menganut faham Sosialis-sekuler yang sangat jauh dari ajaran Islam.

Pun demikian, pada periode ini Musa Ash Shadr sempat memanfaatkan gerakan Fatah. Ia menjalin hubungan solidaritas dengan Fatah, dengan harapan bahwa Fatah kelak dapat mentraining militer Syi’ah. Sebagai persiapan pembentukan milisi-milisi bersenjata yang dapat mempengaruhi masa depan Lebanon,secara kebetulan Fatah saat itu juga sedang mencari sekutu untuk menghadapi kaum Komunis, hingga terjadilah simbiosis mutualisme.

Pada tahun 1971 M, Hafizh Asad menduduki kursi kepresidenan di Suriah. Ia dari kelompok ‘Alawiyyin Syiah Nushairiyyah, yang berada di luar Islam meskipun secara politik dihitung sebagai ‘muslim’. Mereka adalah sekte yang menuhankan Ali bin Abi Thalib–Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka katakan-. Akan tetapi, dengan sigap Musa Ash Shadr menfatwakandengan menyatakan bahwa kaum ‘Alawiyyin adalah Syi’ah, dan menganggap Hafiz Asad sebagai seorang muslim! Hal ini menyebabkan makin eratnya hubungan Ash Shadr dengan Suriah dan pemerintahan yang berkuasa di sana. Musa Ash Shadr menjadi mata rantai penghubung antara Hafiz Asad dan pemimpin-pemimpin Revolusi Iran, hingga Hafiz Asad pun mendukung penggulingan Shah Iran, bahkan mendukung Iran pasca Revolusi saat berperang melawan Irak, sebab ia sangat memusuhi Saddam Husein.

Demikianlah Musa Ash Shadr menanamkan benih-benih negara Syi’ah-nya yang baru. Ia memiliki kerja sama yang sangat kuat dengan para tokoh agama di seluruh dunia, khususnya Al Khumaini, demikian pula dengan kaum Nashrani Lebanon, Amerika, Suriah, bahkan dengan Fatah yang dianggap bagian dari Ahlisunnah.

Pada tahun 1974 M, Musa Ash Shadr mendirikan Harakah Al Mahrumin yang menyerukan agar kaum fakir miskin mendapat hak-hak yang lebih banyak. Mulanya, banyak kaum Nashrani di selatan yang bergabung dalam gerakan tersebut. Mereka menyangka bahwa gerakan tersebut bersifat nasionalis yang bertujuan mengentaskan kemiskinan di Lebanon dari krisis ekonomi. Akan tetapi mereka akhirnya keluar setelah mencium aroma Syi’ah yang kuat dari gerakan tersebut. Tak lama kemudian, Ash Shadr membuat kesepakatan dengan Yasir Arafat sebagai pemimpin Fatah untuk melatih kemilitran Harakah Al Mahrumin, dibawah pengawasan pemerintah Lebanon yang lemah.

Pada bulan Juli tahun 1975 M, Ash Shadr mengumumkan pembentukan sayap militer Harakah Al Mahrumindengan menamakan dirinya sebagai “Afwaaj Al Muqaawamah Al Lubnaaniyyah”, yang disingkat Harakah AMAL yang diketuai langsung oleh dirinya.

Tak lama setelah itu Musa Ash Shadr berbalik menentang orang-orang Palestina, dan menuntut pengusiran warga Palestina yang berfaham Sunni dari wilayah selatan yang berlatar belakang Syi’ah. Kita akan menyaksikan selanjutnya, bagaimana anggota Harakah AMAL membantai orang-orang Palestina tersebut dalam Serangan atas Kamp pengungsian yang terkenal sejak tahun 1985 M hingga 1988 M.

Memasuki tahun 1975 M, Lebanon mulai terjadi perang saudara yang membingungkan. Perang ini demikian rumit karena terkait dengan berbagai faktor internal dan eksternal. Kita mungkin membutuhkan berbagai analisa khusus untuk dapat memahaminya dengan jelas.


Musa Ash Shadr Dan Berbagai Permusuhan

Setelah terbentuknya Dewan Perwakilan Tinngi Syi’ah dan Harakah AMAL, Musa Ash Shadr menjadi sebuah kekuatan yang sangat berarti dan menggugah kesadaran banyak orang, sebab Musa Ash Shadr tidak lagi menutupi kekuatan tersebut atau menyembunyikannya. Bahkan iasering kali mengancam dengan terang-terangan dalam berbagai liputan persnya untuk mengerahkan massanya ke rumah-rumah orang kaya di Lebanon jika mereka tidak memenuhi tuntutannya. Bahkan ia berani mengritik sebagian tindakan Al Khumaini, dan menjalin hubungan dengan pihak-pihak internasional tanpa merujuk ke marja’ agama yang dikirim ke Lebanon. Masalah semakin meruncing saat ia mengunjungi Iran dan bertemu Shah secara langsung. Ia meminta agar Shah memberikan amnesti kepada 12 tokoh agama yang telah divonis mati, akhirnya Al Khumeini menganggapnya telah keluar dari kesepakatan internasional Syi’ah, dan kerjasama dengan Shah yang notabene adalah musuhnya kaum revolusioner.

Konflik semakin memuncak pada tahun 1978, ketika secara tiba-tiba terjadi krisis hubungan antara Suriah dan Ash Shadr. Hal ini dikarenakan Suriah mengalami banyak tekanan dari negara-negara sekitar dan Amerika, setelah Anwar Sadat melakukan kunjungan ke Zionis Israel tahun 1977 M. Suriah berharap agar Lebanon menjadi pembela utamanya, sebab Suriah memiliki pasukan di Lebanon saat itu. Suriah juga berharap agar Ash Shadr tidak bersekutu dengan selain Suriah.

Namun Ash Shadr merasa bila dirinya telah kuat dan posisi Suriah lemah, karenanya ia sengaja mempererat hubungannya dengan negara-negara Arab dan melanggar peringatan Suriah. Ia mulai mengunjungi Kuwait, kemudian Al Jazair, dan terakhir berangkat ke Libya pada bulan Agustus 1978 M, yang diiringi sebuah kejutan besarkarena Libya mengumumkan bahwa Ash Shadr telah angkat kaki dari wilayahnya pada tanggal 25 Agustus 1978 M, akan tetapi ia tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi di muka bumi!!

Ini merupakan peristiwa yang mengherankan. Sebab Musa Ash Shadr bukanlah anak kecil yang gampang tersesat di airport, dan bukan pula orang biasa yang disikapi masa bodoh oleh Libya kemana perginya. Akan tetapi yang jelas ia telah diculik atau dibunuh.

Saat itu memang banyak musuh yang mengintai Musa Ash Shadr, dan banyak di antara mereka yang dituding berada di balik pembunuhannya. Yang paling utama ialah tokoh-tokoh Revolusi yang setahun kemudian muncul di Iran. Dan tentu mereka tidak menginginkan keberadaan tokoh-tokoh kharismatik yang memiliki multi relasi sebagai saingan Al Khumaini yang berada di garda terdepan negara Syi’ah baru.Apalagi membuatgeram pemerintah Suriah saat itu, berarti memberi lampu hijau bagi rencana pembunuhan, sebab pemerintah Suriah memang terkenal berdarah dingin dalam menghadapi para penentangnya. Libya sendiri ketika itu berhubungan erat dengan tokoh-tokoh revolusi Iran, dan siap mendukung mereka pasca revolusi untuk melawan Irak. Adapun kekuatan internal Lebanon yang mendapat manfaat dari tersingkirnya Musa Ash Shadr juga cukup banyak, sebab perang saudara di Lebanon saat itu memang sedang puncak-puncaknya.

Hilangnya Musa Ash Shadr memang misterius dan membingungkan, bahkan para politikus berlomba-lomba memecahkannya, akan tetapi tak satu pun dari mereka yang dapat memberikan jawaban pasti. Yang jelas, Musa Ash Shadr telah meninggalkan medan pertempuran yang menyala di belakangnya, dan meninggalkan Harakah AMAL yang melanjutkan cita-citanya, dan meninggalkan jabatan kosong di Dewan Perwakilan Tinggi Syi’ah… tepat setahun kemudian terjadilah revolusi Iran untuk menggulingkan Shah, dan empat tahun berikutnya militer Zionis menguasai wilayah Lebanon selatan.

Lalu dari ‘rahim’ pergolakan yang rumit tadi lahirlah Hizbullah yang Syi’ah, untuk melanjutkan megaproyek Ash Shadr, akan tetapi yang jelas dengan pengarahan dari Iran.

Bagaimana semua ini bisa terjadi? 
Bagaimana pula nasib Harakah AMAL? 
Dan bagaimana sikap Syi’ah terhadap orang-orang Palestina di Lebanon selatan? 
Bagaimana pamor Hizbullah tiba-tiba mencuat?
Siapakah sebenarnya Hasan Nashrullah, dan bagaimana akidah serta pemikirannya? (nisyi/syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

0 comments: