Breaking News
Loading...

Syiahindonesoa.com - Di akhir masa kekhilafahan bani Umayyah, gerakan bani Abasiyah berupaya sekuat tenaga membangun kekuatan guna mengkudeta kekhalifahan bani Umayah, gerakan ini bekerjasama dengan sekelompok orang yang menyempal dari Zaid bin Ali. Akhirnya kekuasaan bani Umayah tumbang pada tahun 132 H, dan berdirilah kekhilafahan bani Abasiyah dengan kepemimpinan Abu Al Abbas As Safah, kemudian Abu Ja’far Al Manshur. Sementara kelompok Syiah yang membantu dalam kudeta merasa kecewa, karena mereka berharap yang menjadi pemimpin adalah salah satu dari keturunan Ali bin Abi Thalib. Tidak lama kemudian, mereka berusaha mengkudeta kekhalifahan bani Abasiyah, kelompok ini dikenal dengan At Thalibiyyin (dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib) yang menentang Abasiyin yang dinisbatkan kepada Abbas bin Abdul Mutthalib. 

Sampai saat itu, masih belum ada perbedaan mendasar dalam masalah akidah dan fikih kecuali dalam menghukumi Abu Bakar dan Umar, sebab sekelompok orang yang menyempal dari Zaid bin Ali menolak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, bahkan mereka melaknat keduanya secara terang-terangan.

Pada tahun 138 H, Ja’far Ash Shadiq wafat dengan meninggalkan seorang putera bernama Musa Al Kadzim, beliau juga seorang yang alim, tetapi tidak sealim ayahnya, beliau wafat pada tahun itu juga, dengan meninggalkan beberapa anak, diantaranya adalah Ali bin Musa Ar Ridha.

Khalifah Abasiyah Al Makmun berkeinginan untuk menyudahi fitnah yang terjadi di kalangan Ath Thalibiyiin yang menuntut supaya salah seorang keturunan Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai pemimpin, bukan dari keturunan Al Abbas, akhirnya Ali bin Musa Ar Ridha dinobatkan untuk menjabat wilayatul ahdi, hal inilah yang memicu perdebatan dikalangan Abasiyin, namun pada tahun 203 H Ali bin Ridha wafat secara tiba-tiba, sehingga Ath Thalibiyun menuduh Al Makmun yang membunuhnya, mereka pun melakukan revolusi terhadap daulah Abasiyah sebagaimana yang pernah mereka lakukan terhadap daulah Amawiyah. 

Seiring berjalannya tahun, tidak ada lagi konflik yang terjadi. Hingga periode ini, belum ada madzhab agama yang independen sebagaimana madzhab Syiah, yang ada hanyalah gerakan politik untuk mencapai kekuasaan dan menentang pemerintahan karena berbagai macam sebab, bukan karena sebab-sebab prinsip sebagaimana yang terdapat dalam manhaj Syiah sekarang ini.

Perlu diperhatikan, bahwa seruan untuk membelot dari pemerintahan Abasiyah sangat menggema diwilayah Persia (Iran sekarang), ditambah lagi mayoritas penduduk Persia merasa menyesal sepanjang tahun karena lenyapnya kerajaan Persia yang agung dan harus masuk ke dalam kesatuan daulah Islamiyah. Mereka juga menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya, lebih mulia keturunannya dan lebih mendalam sejarahnya dibandingkan kaum Muslimin lainnya, karena itu mereka terkenal dengan sebutan “As Su’ubiyah” yang fanatik terhadap suku tertentu, bukan kepada Islam, bahkan sebagian dari mereka menampakkan kecintaan yang mendalam terhadap simbol-simbol Persia, sampai kepada api yang mereka sembah.

Ketika mereka tidak memiliki kekuatan seorang diri untuk memberontak daulah Islamiyah, karena masih tergolong orang-orang Islam yang memiliki ikatan selama beberapa decade, dan tatkala mrreka mendapati revolusi yang dilakukan oleh kelompok Ath Thalibiyin sebagai solusi alternatif, maka mereka tergabung dengan kelompok ini demi menumbangkan khilafah Islamiyah yang dulunya telah menumbangkan daulah Persia. Di waktu yang sama, mereka tidak meninggalkan Islam yang telah mereka peluk selama beberapa tahun, akan tetapi mereka berusaha merubah ajaran Islam dengan warisan-warisan Persia. Mereka akan terus mencoba demi teralisasinya kebelangsungan pergolakan yang ada tubuh umat Islam, meski mereka tidak akan sampai di puncak pyramid, akan tetapi mereka akan menemui Ath Thalibiyin yang bernisbat kepada Ali bin Abi Thalib, termasuk ahli baitnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan memiliki kedudukan di hati manusia, dengan demikian seruan ini akan terus berlangsung.


Demikianlah upaya persatuan yang dilakukan As Syu’ubiyun Persia dengan kelompok Ath Thalibiyun dari ahli bait untuk membentuk satu kesatuan baru dan melebur menjadi kelompok independen yang tidak hanya sekedar dari sisi politik tetapi juga dari sisi agama. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.


Baca juga:

0 comments: