Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Jalaluddin Rakhmat dalam Diskusi Budaya “Revolusi Mental; Dari Ali Hingga Jokowi” yang digelar di Universitas Paramadina 15/10 menjelaskan perjalanan dan lika-liku program doktoralnya yang sudah berjalan sekitar 6 tahun di UIN Alauddin Makassar itu.

“Saya sedang menulis sebuah disertasi yang kedua, dan ini mungkin disertasi yang paling lama yang saya kerjakan. Ini jadi sekian lama karena mungkin satu-satunya disertasi yang mendapat tekanan dari penduduk di sekitarnya. Sudah pernah didemo beberapa kali dan saya mau diancam mau dihukum mati (?). Kemudian dilaporkan ke polisi karena disertasi itu, yang belum terbit, baru dalam tahap proses pembuatan.” Jelasnya sebagaimana dilaporkan oleh TribunIslam.com.
Kualifikasi Akademik Tidak Memadai

Padahal dalam kenyataannya tidak sekasar itu tekanan yang terjadi. Lambatnya proses doktoral yang dijalaninya murni karena kualitas disertasi itu sendiri. Selain karena kualifikasinya sebagai akademisi dipertanyakan. Dimana ijazah S2 luar negeri yang digunakannya mendaftar belum disetarakan, padahal ini mutlak diperlukan untuk kepangkatan dan kelanjutan study. (Baca juga: Kang Jalal dengan 4 Gelar Palsu?)

Juga ijazah S3 yang disebarkannya selama ini terbukti tidak legal karena diperoleh dari lembaga pendidikan yang diblacklist oleh DIKTI Kemendiknas (lihat link surat DIKTI disini: koepas.org/images/Cacat%20S3%20Jalal.jpg). Yang atas dasar inilah, LPPI Makassar melaporkannya ke pihak yang berwenang dengan tuduhan penggunaan gelar akademik yang palsu. Dipenuhi Paham Sesat dan Kecurangan Ilmiah

Selain kualifikasi akademik yang tidak memadai, disertasi pertama yang ditulisnya pun jauh dari nilai kebenaran dan kelimiahan. Dan alhamdulillah para Tim Penguji Disertasi Doktoral Jalaluddin Rakhmat di UIN Alauddin tidak akan meloloskan disertasi yang berisi kesesatan dan kecurangan ilmiah tersebut.

Para Tim Penguji ini tidak akan tanda tangan persetujuan untuk promosi doktornya sebelum jalaluddin Rakhmat merubah beberapa isi yang ditanggapi oleh mereka dalam Seminar Hasil yang digelar tahun lalu, 12 September 2013.

Jalaluddin Rakhmat berfikir, merubah beberapa konten dalam disertasinya itu membuat terori yang dia bangun menjadi runtuh, sehingga perlu disertasi baru. Dan itulah yang dia lakukan sekarang.

“Ajaib, Muhammad adalah seorang yang cerdas dan seorang penyihir yang brilian. Ternyata dia tidak berhasil mengorganisasikan masyarakat sesudahnya. Dia pergi begitu saja, tanpa meninggalkan siapa yang dia amanati untuk meneruskan memimpin masyarakat. Dia (SAW) tidak mengira bahwa kematiannya datang terlalu cepat. Jadi kematiannya begitu cepat sehingga beliau belum sempat karena beliau lupa menunjuk penerusnya.” Pungkas si Jalal yang tidak beradab atas sang Nabi. (Muh. Istiqamah/lppimakassar.com/Syiahindonesia.com)

0 comments: