Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Syiah menurut bahasa Arab bermakna ‘pembela dan pengikut seseorang’ atau ‘setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara’ (Azhari ‘Tahdzzibul Lughah’, III/61;  Azzabidi ‘Tajul Arus’, V/405). Ada pun menurut terminologi syariat dapat diartikan, ‘Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau ( Ibnu Hazm, ‘Al-Fishal fil Milal wal Ahwa wan Nihal’, II/113).

Dalam sejarahnya, Syiah mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu, Kaisaniyah, Imamiyah (Rafidhah), Zaidiyah, Ghulat, dan Isma’iliyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya (Asy-Syarastani, Al-Milal wan Nihal’, hal. 147).

Namun yang penting untuk diangkat adalah sekte Imamiyah atau lebih tepatnya Rafidhah, yang sejak dahulu hingga sekarang berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara tentunya, kelompok sempalan ini terus menerus menebarkan berbagai macam kesesatannnya yang didukung oleh negara Iran-nya.

Pencetus utama paham  Syiah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ Al-Himyari yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan.

Rafidhah secara etimologi bermakna, ‘meninggalkan’, (Al-Qamus Al-Muhith, hal.829). Sedangkan dalam terminologi syariat adalah ‘Mereka yang menolak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma, berlepas dari keduanya, dan mencela lagi menghina para sahabat Nabi saw (Abdullah Al-Jumaili, ‘Badzul Majhud fi Itsbati Musyabbahatir Rafidhah lil Yahud’, I/85).

Sebutan ‘Rafidhah’ erat kaitannya dengan Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan pada tahun 121 H, (Badzul Majhud, I/86).

Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata, “Aku bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan Umar ra.” (Ibnu Taimiyah, ‘Ash-Sharimul al-Maslul ‘Ala Syatimirrasul, hal. 567).

Abu Hasan Al-Asy’ari berkata, “Zaid bin Ali adalah seorang yang melebihkan Ali bin Abi Thalib atas seluruh sahabat Rasululllah saw, mencintai Abu Bakar dan Umar dan memandang bolehnya memberontak terhadap para pemimpin yang jahat.  Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya ia mendengar dari sebahagian mereka celaan terhadap Abu Bakar dan Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka, ‘kalian tinggalkan aku [Rafadhtumuniy]?’ maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan ‘Rafidhah’ dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka [Rafadhtumuniy]”, (Maqalatul Islamiyyin, I/137; Majmu’ul Fatawa, 13/36). Rafidah pasti Syiah, namun belum tentu Syiah itu Rafidhah karena tidak semua Syiah menolak ‘rafadha’ kepemimpinan dan kekhalifahan Abu Bakar dan Umar ra.

Alquran, Imamah, Sahabat, dan Taqiyah

Dalam kitab ‘Al-Kafi’ –yang kedudukannya di sisi mereka seperti ‘Sahihul Bukhari’ di sisi Ahlussunnah—karya  Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (II/634), dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata, “Sesungguhnya Alquran yang dibawa Jibril kepada Muhammad [ada] 17.000 ayat.” Dalam juz I, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata, “… Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah, mereka tidak tahu apa mushaf Fatimah itu. Abu bashir berkata, ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdullah) berkata, ‘Mushaf tiga kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Alquran kalian…’.” (Ihsan Ilahi Dzahir ‘Asy-Syiah wal Qur’an’, hal. 31-32).

Bahkan salah seorang ahli hadis mereka yang bernama Husain Bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari pada imam mereka yang ma’shum –bersih dari segala jenis dosa—di dalam kitabnya ‘Fashlul Khitab fil Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab’   yang menjelaskan bahwa Alquran yang ada telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

Kecuali itu, masalah Imamah atau kepemimpinan umat juga menjadi persoalan dasar bagi kaum Syiah hingga memasukkan dalam rukun Islam. Sebagaimana diriwayatkan dari Al-Kulaini dalam ‘Al-Kafi II/18’ dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata, “Islam di bangun di atas lima perkara… salat, zakat, haji, shaum, dan wilayah [imamah]…” Zurarah berkata, “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata, “Yang paling utama adalah wilayah.” (Badzul Majhud, I/174).

Imamah menurut mereka adalah hak milik ‘Ali bin Abi Thalib dan keturunannya sesuai dengan wasiat Rasulullah saw. Ada pun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakar, Umar, dan yang sesudah mereka hingga ke hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah perempas kekuasaan. (al-Kkhuthuth Ak Aridhah, hal. 15-17). Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ma’shum dapat mengetahui hal-hal ghaib. Khomeini berkata, “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai Ali bin Abi Thalib hingga sang penyelamat umat manusia, Imam al-Mahdi, sang penguasa zaman –baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam—yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup pada saat ini seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 5 dan Firaq Mu’ashirah, I/192).

Ada pun pandangan Rafidhah tentang para sahabat Rasulullah saw, dapat ditelusuri dari sumber-sumber rujukan utama kaum Syiah, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Jarh wat Ta’dil mereka ‘Al-Kisysyi’ di dalam kitabnya, ‘Rijalul Kisysyi, hal. 12-13’ dari Abu Ja’far Muhammad (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata, “Manusia [para sahabat] sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata, “Siapa tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman al-Farisi…” lalu menyebutkan surah Ali Imran ayat 44, (Asy-Syi’ah Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah fi Mizanil Islam, hal. 89).

Ada pun Abu Bakar dan Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah dalam pandangan Ahlussunnah, mereka cela dan laknat, bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka ‘Miftahul Jinan, hal. 114’ wirid laknat untuk keduanya. “Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy [Abu Bakar dan Umar], setan dan thaghut keduanya, serta putri mereka [Aisyah dan Hafshah]”, (As-Sayyed Muhibuddin al-Khatib ‘Al-Khuthuth Al-‘Aridhah’, hal. 18).

Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu Al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umat bin Khattab, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” alias seorang pemberani pembela agama, kini kuburan Abu Lu’lu dibangun dengan megahnya. Hari kematian Umar dijadikan sebagai ‘Iedul Akbar’, hari kebanggaan, hari kemuliaan, dan kesucian, serta hari berkah dan suka ria, (Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 16-17).

Ada pun  ‘Aisyah dan para istri Rasulullah saw lainnya, mereka yakini sebagai palacur sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka ‘Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal, hal. 57-60’ karya Ath-Thusi, dengan menukilkan –secara dusta—perkataan sahabat, Abdullah bin Abbas terhadap Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan palacur yang ditinggalkan Rasulullah…” (Abdul Qadir Muhammad ‘Atha, ‘Daf’ul Kadzibil Mubin Al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mu’minin, hal. 11).

Selain itu, Syiah juga melegitimasi ajaran ‘taqiyah’ alias bohong, taqiyah berarti berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia (Firaq Muashirah, I/195; Asy-Syiah al-Itsna ‘Asyariah, hal. 80). Mereka berkeyakinan bahwa taqiyah adalah bagian dari pada agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam ‘Al-Kafi, II/175’ dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A’jami, “Wahai Abu Umar, sesungguhnya sembilan persepuluh dari agama ini adalah taqiyah, dan tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak bertaqiyah.” (Firaq Mu’ashirah, I/196). Oleh karena itu Imam Malik ketika ditanya tentang mereka (Syiah) beliau berkata, “Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka selalu berdusta.” Setali tiga uang dengan komentar Imam Syafi’i, katanya, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu!” (Mizanul I’tidal, II/27-28).

Rasis dan Narsis

Namun dari semua ajaran Syiah yang sangat konyol dan tak bisa diterima oleh akal sehat adalah adanya doktrin ‘thinah’ yang sangat naris (baca: narisisme) juga rasis (baca: rasisme). Doktrin ‘thinah’ –thinat al-mu’min wal-kafir—yaitu sebuah ajaran yang menyatakan bahwa dalam penciptaan manusia terdapat  unsur tanah putih dan tanah hitam. Para penganut Syiah tercipta dari unsur tanah putih sedangkan Ahlusunnah wal Jamaah terbuat dari tanah hitam. Para penganut Syiah yang tersusun dari tanah putih jika melakukan perbuatan maksiat dosanya akan ditimpakan kepada pengikut Ahlussunnah yang tersusun dari tanah hitam, sebaliknya pahala yang dimiliki oleh pengikut Ahlussunnah akan dilimpahkan kepada para penganut Syiah. Doktrin ini merupakan tersembunyi ‘hidden doctrine’ dalam ajaran Syiah, (Al-Kulaini, ‘Al-Kafi, Juz II / Kitab al-Imam, Bab ‘Thinat al-Mu;min wal-Kafir).

Mohammad Reza Pahlavi, Shah Iran yang  lahir di Tehran, Iran, 26 Oktober 1919 – meninggal di Kairo, Mesir, 27 Juli 1980 pada umur 60 tahun adalah kaisar Iran dari 16 September 1941 hingga Revolusi Iran pada 11 Februari 1979. Beliau pernah berhasrat untuk mendamaikan Syiah dan Sunni, maka diundanglah para ulama kedua aliran yang tidak akan pernah akur itu. Sampai waktu dimulainya acara pertemuan, ulama Syiah sudah para datang, namun sayang dari pihak Sunni belum ada yang terlihat kecuali satu orang ulama yang masuk ruangan sambil menjepit sandal jepit diketiaknya. Ulama-ulama Syiah bertanya kepada ulama Sunni itu. Apa yang kamu jepit di ketiakmu? “Sandal” jawabnya. “Kenapa Kamu bawa-bawa sandal jepit kesini?” Tanya ulama Syiah. “Karena saya mendengar di zaman Rasulullah ada orang Syiah pernah mencuri sandal!” jawab ulama Sunni dengan enteng. Mendengar pernyataan itu, para ulama syiah serentak menjawab, “Mana ada Syiah di zaman Rasulullah?”, ulama Sunni yang bijak itu berkata,”Cukuplah, selesai sudah pertemuan ini. Darimana kalian mengambil agama kalian?”

Ada yang berpendapat bahwa ulama Sunni dimaksud adalah Ahmad Dedaat ‘rahimahullah’, namun ada pula yang meragukan kebenaran cerita di atas terutama dari pihak Pihak Syiah yang merasa dirugikan. Namun, hemat penulis, tidak penting kisah di atas pernah berlaku atau tidak, yang jelas melalui bukti-bukti yang telah penulis paparkan dengan gamblang, menunjukkan bahwa aliran Syiah memang penuh dengan bid’ah, khurafat dan kebatilan. Untuk menangkis serangan Syiah terhadap Ahlussunnah, ada baiknya jika kita menggunakan teori Naquib Al-Attas, “Do not read too much, just use your mind!” Jangan terlalu banyak membaca dan ilmiah dalam menghadapi aliran sempalan, tapi perbanyak menggunakan logika dan analogi.  Wallahu a’lam! [BM/lppi makassar]

0 comments: