Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Syiah nyaris tak ada bedanya dengan Yahudi. Mereka tahu ilmu tapi tidak mau mengamalkannya,ngeyel, bahkan mendustakan Allah dan Rasul-Nya, seperti itulah Syiah.

Dibawah ini akan kami paparkan sepenggal kisah nyata tentang seorang akhwat Ahlus Sunnah bernama Aisyah yang kami kutip dari koepas.com tentang seorang ustadz Syiah yang sepertinya ia tahu kalau ia berada dalam kesesatan, namun mungkin karena begitu lezatnya kesesatan itu, ia masih saja berpegang pada prinsip sesatnya.

Kisah Aisyah ini terjadi pada hari Senin (15/9/14) di kota Medan, sebelum dia pergi ke masjid untuk mengisi kajian ibu-ibu dekat rumah, dia menyempatkan untuk mampir dulu ke rumah sepupu karena ingin mengambil kitab Fiqih Sunnah yang beberapa hari lalu dipinjamkan kepada sepupunya karena Aisyah akan membawanya ke pengajian.

Ternyata di rumah sepupunya sedang ada tamu yang penampilannya sangat islami, Kemudian Aisyah bertanya kepada sepupunya

Siapa mereka?

Sepupunya menjawab: Mereka itu temanku sewaktu SMA.

Kemudian Aisyah memuji penampilan mereka yang sangat islami,

dia berkata: nah begitu dong kamu seharusnya, pakai pakaian yang tertutup (jilbab besar).

Sepupunya menimpali: Tapi pemahaman mereka beda dengan pemahamanmu yang kau ajarkan padaku Aisyah.

Aisyah pun bertanya: Memang bagaimana perbedaannya?

Sepupunya menjawab: Lebih baik kau bicara sendiri dengan mereka.

Aisyah menjawab: Tapi aku sedang ada pengajian.

Sepupunya berkata: Sebentar saja, setidaknya kau bisa mengetahui perbedaan pemahamanmu dengan mereka.

Baiklah kata Aisyah.

Kemudian Aisyah ikut duduk di ruang tamu dengan mereka dan mengucapkan salam.

Setelah ngobrol beberapa waktu, Aisyah sudah bisa memastikan bahwa mereka ini adalah wanita-wanita Syiah.

Lalu Aisyah beranikan diri untuk bertanya,: Kalian syiah?

Si tamu pun menjawab: Benar.

Aisyah berkata: Subhanallah, sungguh indah penampilan wanita-wanita Syiah..

Si tamu pun tertawa ringan dan berkata:  Terima kasih tapi memang beginilah kami di ajarkan dan kami kemari pun dengan tujuan mengajak teman kami ini (sepupu Aisyah) untuk ikut dalam pengajian kami. Jika mbak Aisyah ingin ikut juga, mari sama-sama.

Aisyah menjawab: Aisyah tertarik sekali ukht, tapi Aisyah sekarang sedang ada keperluan. Bagaimana kalau nanti malam kalian sempatkan datang ke rumah Aisyah untuk mendakwahi Aisyah dan keluarga Aisyah tentang ajaran yang kalian anut, apa kalian punya waktu?

Si tamu pun berkata: Tentu, tentu kami akan datang.

Aisyah mengatakan: Alhamdulillah, nanti Husna (sepupunya) akan menemani kalian, rumah Aisyah dekat dari sini kok.

Kemudian Aisyah pamit, sepupunya mengantarkan ke depan pagar dan bertanya: Aku gak ngerti aisyah, untuk apa kami ke rumahmu?

Aisyah menjawab: Nanti kau akan tau Husna

Sepupunya membalas: Duh syah, jangan gitu, bilang aja..

Aisyah: Mereka sedang berniat untuk mensyiahkanmu Husna, sementara sudah pernah kukatakan bahwa Syiah itu jauh dari Islam.

Maka nanti malam in sya Allah kita yang akan mengembalikan pemahaman mereka ke pemahaman yang benar, in sya Allah.

Setelah selesai shalat isya’, beberapa menit kemudian datanglah beberapa wanita-wanita Syiah kerumah Aisyah. Aisyah lihat mereka bersama seorang lelaki dan penampilannya juga luar biasa islaminya. Berjubah putih dan memakai imamah hitam.

Aisyah senyum saja dan sudah tau bahwa ini lah orang yang akan orang-orang syiah ini andalkan untuk “mendakwahi” kami sekeluarga.

Wanita-wanita itu beri salam dan Aisyah jawab salamnya dengan senyum tapi Aisyah tidak langsung persilahkan masuk rumah.

Aisyah: “afwan ukh, tunggu dulu. Sebelum masuk rumah, Aisyah harUstadz Syiahminta izin dulu kepada mahram Aisyah. Sebab kalian membawa seorang lelaki.”

Mereka mengangguk saja dan senyam senyum manis.

Aisyah: “bang, apakah laki-laki ini boleh masuk?”

Abang: “boleh.. Biar abang yang menemani kalian.”

Kemudian masuklah mereka semua. Dan memperkenalkan laki-laki yang ada bersama mereka, ternyata benar bahwa laki-laki itu yang membimbing mereka dan yang mengisi dakwah di pengajian mereka.

Singkat cerita, setelah basa basi selama 3-4 menit maka dakwah mereka (Syiah) pun di mulai.
Tamu: “mbak Aisyah nama lengkapnya siapa?”

Aisyah: “Aisyah bintu umar al muhsin bin abdul rahman salsabila. Kenapa ya ukh?”

Tamu: “waaaw panjang juga ya hehe.. Oh enggak hanya kami ingin memanggil mbak dngn nama yang lain. Bagaimana jika kami panggil dengan salsa saja?”

Aisyah sudah menyadari bahwa mereka tidak akan suka dengan nama Aisyah. Sebab serupa dengan nama istri Rasulullah, dan mereka sangat benci kepada Ummul Mukminin.. Na’udzu billah min dzalik

Aisyah: “(sambil senyum) boleh juga, tapi boleh tau alasannya apa ya ukh?”

Tamu: “kami tidak menyukai nama itu sebab ……….” (dia cerita cukup panjang dan intinya menjelek-jelekan Ummul Mukminin).

Tiba-tiba si laki-laki yang mereka ajak itu (Ustad Syiah) angkat suara.

Ustadz Syiah: “Aisyah itu adalah pendusta dan pezina. Semoga Allah membakarnya di neraka.”
Mendengar ucapan orang bodoh ini mata Aisyah spontan tertutup dan hati Aisyah terasa bergetar.. Kemudian Aisyah tundukkan kepala dan mengucap istighfar seraya memohon kepada Allah agar dikuatkan mendengar fitnahan dari mulut-mulut yang masih jahil. Kemudian setelah tenang, Aisyah angkat kepala dan senyum pada mereka dan membuat situasi seolah-olah Aisyah tidak tau tentang hal itu.

Aisyah: “masya Allah, benarkah begitu ustad?”

Ustadz Syiah: “Benar. Dialah penyebab wafatnya Rasulullah, dia yang meracuni Rasulullah hingga wafat.. Semoga laknat selalu menyertainya.”

Air mata Aisyah menetes mendengar ucapan ustadz Syiah ini. Hatinya tersayat-sayat layaknya ada seorang Seorang ibu dihina di depan anak-anaknya. Rasanya ingin melemparkan gelas yang ada didepannya ke wajah si “Ustadz” itu. Aisyah lihat abang Aisyah sudah mengepalkan tangannya dan menahan geram. Sebelumnya Aisyah sudah ingatkan kepada abang Aisyah bahwa diskusi ini tentu akan membuat hati panas, Aisyah minta abangnya tetap berabar, dan abangnya pun sudah menyetujuinya. Abang Aisyah berposttur tinggi besar dan mantan orang jahat di Kalimantan, tapi penjahat yang mendapat hidayah, Alhamdulillah. Dan kali ini ia bisa sedikit lebih tenang.
Aisyah: “astaghfirullah, sehebat itukah fitnahnya?”

Tamu: “kok fitnah mba? Itu nyatanya. Nih kami bawa kitab tafsirul iyas (kitab Syiah) didalamnya terdapat bukti. Bahkan abdullah bin abbas mengatakan Aisyah adalah seorang pelacur. Ini ada kitabnya.”

Dia keluarkan kitab tapi Aisyah lupa nama kitabnya, ada rijal-rijalnya gitu nama kitabnya. Ma’rifat rijal kalau tidak salah.

Dan Aisyah lihat memang isinya benar spt yang mereka ucapkan.

Singkat cerita, mereka terus menghina Aisyah dan para Sahabat. Sampai telinganya seperti sudah bengkak.

Akhirnya Aisyah tidak tahan dan katakan pada mereka.

Aisyah: “sebentar ustad, Aisyah mau ambil kitab Syiah punya Aisyah. Ada yang ingin Aisyah tanyakan mengenai isinya.”

Ustadz Syiah: “silahkan.”

Aisyah sudah siapkan satu soal yang akan menunjukkan jati diri mereka. Mereka orang yang cerdas atau cuma bisa ngomong besar.

Dan pertanyaan ini juga pernah ditanya oleh syaikh adnan kepada seorang syaikh Syiah, tapi syaikh Syiah malah bingung jawabnya.

Aisyah: “nih dia kitabnya.”

Ustadz Syiah: “oh saya juga punya itu, al ghaibah , kebetulan saya bawa hehe.”
Aisyah: “oh iya, kebetulan..”

Tamu: “hehe Allah memudahkan urusan kita hari ini.”

Aisyah tersenyum kecil melihat tingkah laku mereka.

Aisyah: “begini ustad, di dalam kitab ini ada di sebutkan tentang beberapa wasiat Rasul kepada Imam Ali. Benarkah ini ustad?”

Ustadz Syiah: “halaman berapa?”

Aisyah: “150 no 111”

Ustadz Syiah: “sebentar saya lihat.”

Ustadz Syiah: “ya. Benar. Lalu apa yang ingin ditanyakan dari wasiat yang mulia ini?”
Aisyah: “masih berlakukah wasiat ini ustad?”

Ustadz Syiah: “tentu, sampai hari kiamat.”

Aisyah: “didalam kitab ini Rasul berwasiat”

“yaa ‘aliy anta washiyyi ‘ala ahli baiti hayyihim wa mayyitihim wa ‘ala nisa-i. Fa man tsabbattuha laqiyatniy ghadan, wa man tholaqtuha fa ana baru-un minha”.

Ustadz Syiah: “hmmm,, hmmm,,”

Aisyah: “benarkah ini ustad?”

Ustadz Syiah: “bagaimana kamu mengartikan kalimat wasiat itu.”

Aisyah: “isi wasiat ini adalah
“wahai ‘aliy engkau adalah washiy ahlul baitku (penjaga ahlul bait) baik itu yang masih hidup maupun yang sudah wafat antara mereka, dan juga istri2ku. Siapa diantara mereka yang aku pertahankan, maka dia akan berjumpa denganku kelak. Dan barang siapa yang aku ceraikan maka aku berlepas diri darinya, ia tidak akan melihatku dan aku tidak akan melihatnya di padang mahsyar.” Benarkah ini ustad..?”

Ustadz Syiah: “benar ini wasiatnya.”

Aisyah: “yang ingin saya tanyakan, apakah Aisyah istri Rasulullah itu pernah dicerai oleh Rasulullah?”

Ustadz Syiah: “hhhmmm tidak..”

Aisyah: “apakah Aisyah di pertahankan Rasulullah sampai Rasulullah wafat?”
Ustadz Syiah: “hmmm ya benar..”

Aisyah: “lalu kenapa tadi ustad bilang Aisyah itu masuk neraka sedangkan dalam wasiat ini Aisyah tergolong orang yang masuk surga??”

Ustadz Syiah: “hmmm bukan seperti itu maksud dari wasiyat ini mba salsa. Hmmm hmmm..”
Aisyah senyum melihat tingkah si ustad dan Aisyah lirik wanita-wanita Syiah itu mulai hilang senyumnya.

Aisyah: “entahlah ustad  tapi inilah isi dari kitab Syiah dan ini adalah wasiyat dari Rasulullah. Berarti wasiyat ini tidak lagi di anggap oleh orang Syiah sendiri ya ustad?”

Ustadz Syiah: “oooh tidak begitu tapi,, tapi bukan begitu cara menafsirkannya.”

Dan akhirnya dia menjelaskan tentang penafsirannya tapi sedikitpun tidak masuk akal bahkan wanita-wanita Syiah itu sendiri pun terlihat bingung mendengar penjelasan si Ustadz Syiah itu.
Aisyah lirik abg Aisyah juga ikut tersenyum.

Abang: “ustad, saya tidak faham dengan penjelasan antum, mohon di ulangi ustad. Hehe..”
Si Ustadz Syiah mulai gerah.

Ustadz Syiah: “begini, intinya hadits wasiat ini dinilai oleh ahli ilmu hadits Syiah dan tentunya berdasarkan ilmu hadits Syiah adalah lemah sekali bahkan sampai derajat palsu.”
Wah ini ustad mulai aneh. Tadi katanya wasiat ini masih berlaku sampai hari kiamat, sekarang menyatakannya sebagai hadits palsu.

Aisyah diam beberapa saat memikirkan bagaimana cara membuat orang ini terdiam dan malu krn pendapatnya sendiri.

Aisyah: “sudah sudah cukup, mungkin ini terlalu rumit pertanyaannya. Nih ada pertanyaan lagi ustad.”

Seperti yang pernah saya dengar bahwa Syiah menganggap bahwa ali lah yang seharusnya menjadi khalifah setelah wafatnya Rasulullah, apakah benar ?”

Ustadz Syiah: “ya benar sekali. Tapi abu bakar rakkus akan kekuasaan sampai-sampai dia berbuat kezaliman dan makar yang besar. Di ikuti pula oleh umar dan utsman.”

Aisyah: “apakah ada dalil yang menunjukkan ali sebagai orang yang dipilih Rasul menjadi khalifah sesudah wafatnya Nabi?”

Ustadz Syiah: “tentu ada, hadits ghodir khum , ketika Nabi sedang menunaikan haji wada’ disertai beberapa orang sahabat besar, Nabi berkata kepada buraidah “hai buraidah barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya, maka terimalah Ali sebagai pemimpin..”

Aisyah: “ustad, kalau saya tidak mengamalkan dan sengaja menolak apa yang diperintahkan Nabi, kira-kira apa hukuman buat saya ustad?”

Ustadz Syiah: “mba salsa bisa dihukumi kafir karena mendustakan Nabi.”

Aisyah: “astaghfirullah. Berarti Imam Ali pun telah kafir dalam hal ini ustad. Sebab dia tidak mengindahkan perintah Nabi, jika memang ini dalil yang menunjukkan ali sebagai khalifah. Bahkan Imam Ali membai’at abu bakar, maka abu bakar pun di hukumi kafir, begitu juga umar, dan semua sahabat yang menyaksikan ketika itu semuanya kafir. Sebab yang menjadi pesan Rasul adalah man kuntu maulahu fa ‘aliyyun maulahu, siapa menganggap aku sebagai pemimpinnya, maka terimalah Ali sebagai pemimpin.” Benarkah begitu ustad? Atau haditsnya palsu juga?”

Ustadz Syiah: “hmmmm. Haditsnya shahih.. Tapi bukan begitu juga maksudnya.”

Aisyah: “tapi tunggu ustad, sebelum ustad jelaskan maksudnya saya pengen tanya lagi biar kelar. Apakah setelah Imam Ali yang akan menjadi khalifah adalah anaknya al-Hasan?”

Ustadz Syiah: “ya benar sekali. Tidak bisa dipungkiri.”

Aisyah: “ada dalilnya? Shahih apa tidak?”

Ustadz Syiah: “ada, shahih jiddan.”

Aisyah: “bagaimana bunyinya?”

Ustadz Syiah: “wahai aliy engkau adalah khalifahku untuk umatku sepeninggalku, maka jika telah dekat kewafatanmu maka serahkanlah kepada anakku al hasan,” Hadits ini cukup panjang menjelaskan tentang 12 imam.”

Aisyah: “ustad coba lihat kembali kitab al ghaibah yang tentang wasiat Rasul tadi. Tidakkah isinya sama dengan yang baru saja ustad sebutkan?”

Ustadz Syiah: “sebentar..”

Ustadz Syiah: “oh iya sama.”

Aisyah: “bukankah tadi saat kita membahas tentang keberadaan Aisyah di surga, ustad katakan hadits ini palsu? Tapi sekarang saat membahas tentang dalil kekhalifahan Ali dan Hasan malah ustad balik katakan hadits ini shahih jiddan…???

Ustadz Syiah “*(&^)*()(%^&&*”

Aisyah melihat raut si Ustadz Syiah berubah dari biasanya. Mau senyum tapi tanggung. Mau pulang tapi malu.

Aisyah: “ustad, saya pernah dengar dari teman-teman saya bahwa Syiah itu suka taqiyah. Apakah ini bagian dari taqiyah itu?”

Abang: “hahahaha.. Ustad, akuilah bahwa Aisyah radhiAllahu ‘anha adalah penghuni surga, Abu Bakar adalah khalifah pertama, Umar kedua, Utsman ke tiga, Ali ke 4. Kita semua mencintai ahlul bait ustad. Ali juga setia kepada kepemimpinan abu bakar, umar dan utsman. Dan ali sangat mencintai ketiga sahabatnya. Bahkan sampai2 nama anak2 ali dari istrinya yang lain diberi nama umar abu bakar … apakah ustad mau menafikan itu semua?”

Ustadz Syiah: “hmmmmm.. (^&^^%(*( sebaiknya kami pulang saja.”

Aisyah: “tunggu ustad. Ustad belum menjawab pertanyaan kami.”

Ustadz Syiah: “sepertinya kalian sudah tau semua.”


Aisyah: “oh berarti ustad mengakui kebenaran ini?”

Ustadz Syiah: “Allahu a’lam, saya permisi dulu.”

Husna: “bagaimana dengan kalian? (teman-teman wanita Syiah)”

Tamu: “hmmm…” (lirik kanan kiri)

Salah satu dari wanita Syiah angkat suara “saya akan kembali lagi besok kesini dan saya harap husna mau menemani saya”

Ustadz Syiah: “baiklah kalau begitu kalian tinggal disini dan saya pamit. Wassalamu ‘alaikum..”

Kami: “wa’alaikumussalam warahmatullah.”

Selesai…

Dibawah ini adalah scan kitab al ghaibah tentang wasiat rasulullah kepada ali tentang istri dan juga 12 imam yg dinyatakan palsu kemudian shahih jiddan oleh sang ustad syiah.

ket: yang bergaris merah tentang Wasiat Istri Rasulullah
Yang bergaris biru tentang wasiat Kekhalifahan Ali dan Husain.

Semoga bermanfaat. (Nisyi/Syiahindonesia.com)


5 comments:

  1. Cerita karang-karangan sendiri ini... jelas dari kata-katanya... Tidak Profesional... Kalau mau berdialog sama Orang Syiah di Medan langsung saja sama orang Syiahnya jangan dikarang-karang begitu... Silahkan datang ke Jalan Gorilla No. 82 kita layani dengan ukhwah dan Santun biar tidak ada Fitnha begitu... Saya yakin Allah Yang Maha Adil... dan lebih adil dalam mengambil keputusan... kalau bisa mempertanggung jawabkan Dialog di atas... coba anda sebutkan Ustad Syiahnya kita sendiri yang konfirmasi ke Ustad Bikanan kalian itu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buat Bang Anon, mungkin kalau memang dialog di atas hanya berupa rekaan saja, kira-kira Bang Anon bisa menjelaskan kesalahan dalam dialog di atas. maksudnya apakah ada pembelaan dari Bang Anon yang bisa dijelaskan di sini? Trims

      Delete
    2. iya...bisa dijelas di sini...supaya semua tahu kok..

      Delete
  2. NGARANG abiss., penulis blog ini pantas buat cerpen. apa candiki repantu yang dimaksud ustadz syiah di Medan ini? ah.. alamat yg ditulis si anon diatas layak untuk didatangi dan diklarifikasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih gampang NGARANG komentar atas nama Anonim tanpa bantahan ilmiah

      Delete