Breaking News
Loading...

Ilustrasi
Syiahindonesia.com - Berikut akan kami paparkan fakta kelam Syiah yang kami kutip dari Tanyasyiah.com. Dimana tinta sejarah mengungkap bahwa sejatinya mereka adalah musuh Islam, bahkan musuh yang sangat berbahaya. Mereka berpakaian layaknya seorang muslim, mengaku muslim, dan bersahabat dengan muslim, namun sebenarnya mereka hendak menusuk kaum muslimin dari belakang sebagaimana perjalanan kelam mereka beberapa tahun silam.

Syiah al-Qaramithah salah satunya, Ia merupakan salah satu sekte sempalan dari sebuah agama Syiah yang berusaha untuk menjadi Abrahah di umat ini dengan membantai kaum Muslimin yang hendak menunaikan ibadah Haji di Mekkah, dan mereka (Syiah al-Qaramithah) juga memecah serta mencongkel Hajar Aswad dari Ka’bah Mekkah dan membawanya ke daerah kekuasaannya pada tahun 317 Hijriyah.
Mereka melakukan kekejian tersebut dikarenakan terdapat sebuah perintah dari agamanya yakni Syiah, untuk memasangkan/meletakkan Hajar Aswad di Masjid Kufah agar menjadi Kiblat kaum Syiah dalam menghadapkan wajahnya dalam shalat.



Nouri al-Maliki Perdana Menteri Syiah Rafidhah Irak

Dengan izin dari Allah, kami akan meningkatkan (pelayanan) Karbala. Karena Karbala seharusnya menjadi kiblat bagi dunia Islam, dikarenakan al-Husain berada di dalamnya. Dan Insya Allah keinginan saya adalah pejabat daerah yang terkait segera mempercepat dalam meningkatkan pelayanan yang diberikan kepada para penziarah Imam al-Husain dalam setiap acara. Dan pelayanan terhadap penziarah Imam al-Husain tidak hanya diberikan untuk acara 10 Muharram atau Arba’in saja. Namun juga (pelayanan diberikan) pada setiap hari Jumat dan bahkan (seharusnya) setiap hari, karena ia (Karbala) merupakan Kiblat dan Kiblat dalam menghadap kepadanya lima kali sehari dan juga al-Husain adalah putra Kiblat ini yang Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memerintahkan untuk menghadap kepadanya.

Pada suatu hari kami berada di sekitar Amirul Mukminin (‘alaihi Salam) di Masjid Kufah, ia berkata, “Wahai penduduk Kufah, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mencintai kalian dengan sesuatu yang Ia tidak pernah mencintai seorang pun (sebelum kalian), yakni keutamaan dalam tempat shalat (Masjid Kufah) kalian.
Dan tidaklah berlalu hari-hari hingga dipasangkan/diletakkan Hajar Aswad di dalam (Masjid Kufah) ini, dan sungguh akan datang atasnya (Masjid Kufah) pada suatu zaman di mana (Masjid Kufah) ini akan menjadi tempat shalat al-Mahdi yang berasal dari keturunanku, serta tempat shalat bagi setiap Mukmin. Tidak tersisa di atas bumi seorang Mukmin pun, kecuali ia menjadikan (Masjid Kufah tempat shalat) atau hatinya sangat mengharapkannya (shalat di Masjid Kufah).[Al-Amaliy 298, Shaduq Pendeta Syiah Rafidhah]

Hal ini telah mereka (Syiah al-Qaramithah) akui ketika Hajar Aswad dikembalikan ke tempatnya semula yakni Ka’bah di Mekkah pada tahun 339 Hijriyyah.

Mereka (Syiah al-Qaramithah) berkata, “Kami mengambilnya dengan sebuah perintah dan kami tidak akan mengembalikannya kecuali dengan sebuah perintah dari orang yang telah memerintahkan kami untuk mengambilnya.”

Namun pada tahun ini (339 Hijriyah), mereka membawanya ke Kufah dan menggantungkannya di atas tiang yang ketujuh dari Jami’ (Masjid)-nya agar manusia dapat melihatnya. Kemudian saudara-saudara Abu Thahir menuliskan sebuah tulisan padanya, “Sesungguhnya kami mengambil batu ini dengan sebuah perintah dan kami telah mengembalikannya dengan sebuah perintah dari orang yang telah memerintahkan kami untuk mengambilnya, agar menyempurnakan Haji manusia dan manasik kalian.”
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/252, al-Hafizh Ibnu Katsir]


Sejarah kelam Syiah al-Qaramithah

Tahun 278 Hijriyah
 (Ibnu al-Jauziy) berkata, “Pada tahun ini (278 Hijriyah) al-Qaramithah (Syiah) melakukan pergerakkan, mereka (Syiah al-Qaramithah) berasal dari kaum Zanadiqah (Zindiq-Munafiq) yang atheis, pengikut filsafat Persia yang meyakini kenabian Zaradista (Zoroaster) dan Mazdak, yang di mana keduanya menghalalkan apa-apa yang diharamkan.
Kemudian mereka (Syiah al-Qaramithah) selain itu juga menjadi pengikut setiap penyeru kepada kebatilan. Kebanyakan mereka (Syiah al-Qaramithah) adalah orang-orang rusak yang berasal dari Rafidhah (Syiah) dan mereka (Syiah al-Qaramithah) masuk ke dalam kebatilan dari arah mereka (Syiah Rafidhah), dikarenakan mereka adalah manusia yang paling kecil otaknya. Mereka juga dinamai dengan al-Isma’iliyyah (Syiah), bukan nisbat ke Isma’il al-A’raj bin Ja’far ash-Shadiq.
Mereka dinamakan juga dengan al-Qaramithah (Syiah), yakni nisbat kepada Qirmith bin al-Asy’ats al-Baqqar. Dikatakan bahwasanya pimpinan mereka pada awal dakwahnya memerintahkan para pengikutnya untuk mengerjakan shalat 50 (raka’at) dalam sehari semalam untuk menyibukkan mereka dengannya agar dapat merencanakan tipu muslihatnya.
Kemudian ia memilih 12 (dua belas) panglima dan memberikan asas (peraturan) bagi para pengikutnya baik dalam seruan serta tingkah laku sehingga mereka mengikutinya (asas tersebut), serta ia (juga) menyeru kepada Imam Ahlul Bait.
Mereka juga disebut sebagai al-Bathiniyyah (Syiah), karena secara lahiriyah menolak dan menyembunyikan kekafiran yang murni. (Selain itu) mereka disebut sebagai al-Khurramiyyah dan al-Babakiyyah, nisbat kepada Babak al-Khurramiy yang melakukan pemberontakan pada masa pemerintahan al-Mu’tashim.
Mereka juga disebut sebagai at-Ta’limiyyah, dikarenakan mengambil ilmu dari Imam al-Ma’shum, serta meninggalkan pendapat dan tuntunan akal.
Mereka juga disebut sebagai as-Sab’iyyah berdasarkan perkataan mereka yakni terdapat 7 (tujuh) bintang berbeda yang beredar yang mengendalikan alam ini dan mereka menyerukan (keyakinan ini), semoga laknat Alllah bagi mereka.
Telah disebutkan oleh Ibnul Jauziy secara rinci mengenai perkataan (keyakinan) mereka dan membongkarnya. Sebelumnya Abu Bakar al-Baqilaniy yang terkenal di dalam kitabnya “Hatku al-Astar wa Kasyfu al-Asrar” telah membantah al-Bathiniyyah (Syiah). Dan (juga) membantah atas kitab mereka yang dikarang oleh seorang qadhi mereka di negeri Mesir pada masa pemerintahan al-Fathimiyyun yang dinamakan “al-Balagh al-A’zhim wa an-Namus al-Akbar”. Kitab tersebut memiliki 16 (enam belas) tingkatan. Tingkatan pertama, ia menyeru orang yang membacanya jika ia berasal dari kalangan Ahlus Sunnah untuk mengutamakan Aliy di atas ‘Utsman bin ‘Affan. Kemudian ia akan mengajaknya jika telah sepakat, untuk mengutamakan ‘Aliy atas 2 (orang) Syaikh, yakni Abu Bakar dan ‘Umar. Kemudian meningkat kepada mencaci-maki mereka, dikarenakan mereka berdua telah mendzalimi ‘Aliy dan Ahlul Baitnya. Kemudian meningkat lagi bahwasanya umat ini bodoh dan keliru karena mayoritasnya menyepakati (Abu Bakar dan Umar). Kemudian mulailah mencemari agama Islam dari sumbernya (Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam).
Selanjutnya, mereka memiliki masing-masing tingkatan dalam hal kekafiran, kezindiqan (munafiq), kemustahilan yang seharusnya (tidak didengar) oleh orang yang lemah akal dan agama atau lemah persepsinya. Melalui mereka inilah iblis membuka berbagai pintu kekafiran dan kebodohan.
Maksudnya adalah kelompok ini (Syiah al-Qaramithah) melakukan pergerakkan pada tahun ini, kemudian perkara mereka menjadi gawat dan menimbulkan situasi yang genting, sebagaimana yang akan dijelaskan nantinya. Sedemikian gentingnya hingga mereka (Syiah al-Qaramithah) memasuki Masjidil Haram untuk menumpahkan darah jama’ah Haji di tengah Masjid yakni sekitar Ka’bah, mereka (Syiah al-Qaramithah) memecah Hajar Aswad dan mencongkelnya dari tempatnya. Mereka membawanya ke negeri mereka pada tahun 317 Hijriyah, kemudian tetap berada di sisi mereka (Syiah al-Qaramithah) hingga tahun 339 Hijriyah. Sehingga (Hajar Aswad) pernah hilang dari tempatnya yakni Baitul (Ka’bah) selama 22 tahun –Inna lillahi wa inna lillahi raji’un-.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/71-72, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 286 Hijriyah
Pemberontakan Abu Sa’id al-Janabiy, pemimpin al-Qaramithah (Syiah). Mereka lebih keji daripada Zanji dan paling rusak. Pemberontakannya muncul pada bulan Jumadil Akhir di tahun ini di tepi kota Bashrah. Datangnya dukungan dari kalangan Arab Badui dan selainnya dengan jumlah yang banyak, pasukannya sangat kuat. Ia membantai di daerah sekitarnya dari penduduknya, kemudian pergi ke Qathif dekat Bashrah, berhasrat untuk memasukinya. Maka Khalifah al-Mu’tadhid menulis surat kepada wakilnya dan memerintahkannya untuk membentengi dindingnya. Maka merekapun merenovasi bangunan (menara)-nya dengan biaya sekitar 4.000 (empat ribu) dinar, sehingga selamatlah dari al-Qaramithah (Syiah) disebabkan (renovasi benteng).
Abu Sa’id al-Jannabiy beserta pasukannya dari al-Qaramithah (Syiah) dapat menguasai kota Hajar dan sekitar negerinya, serta banyak melakukan kerusakan di atas muka bumi.
Asal-usul Abu Sa’id al-Jannabiy adalah seorang makelar makanan yaitu menjualnya dan menghitung harganya kepada masyarakat. Hingga datang seorang laki-laki kepadanya, ia adalah Yahya bin al-Mahdi pada tahun 281 Hijriyah. Lalu ia mengajak penduduk Qathif untuk membaiat al-Mahdi, maka seorang laki-laki menerimanya, ia adalah ‘Aliy bin al-‘Ala bin Hamdan az-Ziyadiy. Ia membantunya dalam menyeru kepada al-Mahdi, ia mengumpulkan Syiah yang berada di Qathif, sehingga mereka (Syiah) pun menerimanya. Di antara yang menerimanya adalah Abu Sa’id al-Jannabiy –semoga Allah memburukannya-. Kemudian ia (Abu Sa’id al-Jannabiy) menguasai urusan mereka dan kemudian muncullah di antara mereka kaum al-Qaramithah (Syiah), lalu mereka (Syiah al-Qaramithah) menerimanya dan mendukungnya. Lalu ia memimpin mereka dan menjadi penasihat dalam urusan mereka.
Asalnya dari negeri kecil yang disebut Jannabah.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/92-93, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 287 Hijriyah
Pada bulan Rabi’ul Awal di tahun ini, semakin merajalela perkara al-Qaramithah (Syiah) pengikut Abu Sa’id al-Jannabiy. Mereka (Syiah al-Qaramithah) membantai, menawan dan membuat kerusakan di negeri Hajar.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/95, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 288 Hijriyah
Pada tahun ini, al-Qaramithah (Syiah) mendekati kota Bashrah, sehingga penduduknya sangat ketakutan terhadap mereka (Syiah al-Qaramithah). Mereka (penduduk Bashrah) berniat mengungsi darinya, namun gubernurnya melarang mereka.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/97, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 289 Hijriyah
Pada tahun ini, al-Qaramithah (Syiah) datang untuk mengelamkan Kufah.
Pada tahun ini al-Qaramithah (Syiah) menuju ke Damaskus dengan pasukan yang besar. Situasinya semakin genting, peristiwa ini didalangi oleh Yahya bin Zakrawaih bin Bahrawaih yang mengakui di hadapan al-Qaramithah (Syiah) sebagai Muhammad bin Abdullah bin Isma’il bin Ja’far bin Muhammad bin ‘Aliy bin al-Husain bin ‘Aliy bin Abi Thalib, Dalam hal ini (pengakuan nasab)-nya adalah kedustaan. Ia juga mengklaim bahwasanya perintahnya diikuti oleh 100.000 (seratus ribu) orang, dan untanya mendapatkan perintah (wahyu) yaitu kemana saja ia mengarah maka akan diberikan kemenangan atas penduduk yang ditujunya.
Klaimnya tersebut tersebar luas di kalangan mereka (Syiah al-Qaramithah), sehingga mereka (Syiah al-Qaramithah) menggelarinya sebagai Syaikh. Ia juga diikuti oleh kelompok yang berasal dari bani al-Ashbagh yang dinamakan al-Fathimiyyun (Syiah).
Al-Khalifah mengirimkan kepada mereka (Syiah al-Qaramithah) sebuah pasukan besar, Namun mereka (Syiah al-Qaramithah) berhasil mengalahkannya. Kemudian mereka (Syiah al-Qaramithah) melewati Rushafah dan membakar Jami’ (Masjid)-nya.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/98, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 290 Hijriyah
Pada tahun ini Yahya bin Zakrawaih bin Mahrawaih Abu Qasim al-Qirmithiy yang dikenal sebagai Syaikh datang dengan pasukannya. Ia mendatangi pinggiran kota Raqqah dengan membuat kerusakan.
Pada tahun ini terbunuhnya Yahya bin Zakrawaih di gerbang Damaskus oleh seseorang yang berasal dari Magribiyyah dengan lemparan Mizraq yang berapi, sehingga membunuhnya.
Pimpinan al-Qaramithah (Syiah) setelahnya diambil-alih oleh saudaranya yakni al-Husain, ia menamai (diri)-nya dengan Ahmad alias Abu al-‘Abbas yang bergelar Amirul Mukminin. Al-Qaramithah (Syiah) mentaatinya, lalu ia mengepung Damaskus, kemudian penduduknya berdamai kepadanya dengan membayarkan upeti. Setelah itu ia bergerak menuju Homs dan menaklukkannya, lantas (namanya) disebut di atas mimbar-mimbarnya.
Kemudian ia bergerak menuju Hamah dan Ma’arah an-Nu’man, lalu ia dapat mengalahkan penduduknya, merampas harta dan menculik wanita-wanita mereka, dan mereka juga membantai ternak dan anak-anak. Ia mengizinkan pasukannya untuk memperkosa para wanitanya, ada kalanya seorang wanita diperkosa oleh sejumlah laki-laki yang banyak. Apabila wanita tersebut melahirkan seorang anak, maka masing-masing dari mereka mengucapkan selamat kepada temannya yang lain.
Orang Qirmith tersebut menulis surat kepada sahabat-sahabatnya dengan berisi :
“Dari Abdullah al-Mahdi Ahmad bin Abdullah yang diberi petunjuk, ditolong, membela agama Allah, menjalankan perintah Allah, menghukumi dengan hukum Allah, yang menyeru kepada Kitabullah, membela kehormatan Allah, yang terpilih dari keturunan Rasulullah.”
Pengakuannya bahwasanya ia adalah seorang keturunan ‘Aliy bin Abi Thalib dari (jalur) Fathimah. Padahal ia adalah seorang pendusta dan pembohong –semoga Allah memburukannya-. Sesungguhnya ia adalah seorang yang paling benci terhadap Quraisy, kemudian Bani Hasyim.
Selanjutnya, ia memasuiki Sulamyah dan tidak menyisakan seorang pun dari Bani Hasyim, hingga membantai mereka dan membunuh anak-anak mereka serta menculik wanita-wanita mereka.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/108-109, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 291 Hijriyah
Pada tahun ini terjadi perang besar antara al-Qaramithah (Syiah) dengan pasukan Khalifah. Mereka berhasil mengalahkan al-Qaramithah (Syiah) dan menawan pimpinannya yakni al-Husain bin Zakrawaih Dzu Syamah. Tatkala ditawan, ia dibawa kepada Khalifah bersama sejumlah besar panglima pasukannya, lalu dibawa masuk ke Baghdad dengan dinaikkan ke gajah yang telah terkenal. Kemudian Khalifah memerintahkan untuk mendirikan panggung yang tinggi, lantas ia diduduki di atasnya dan pasukannya digiring serta dipenggal leher mereka di hadapannya dan ia pun melihatnya, dan mulutnya disumpal dengan kayu panjang yang diikat pada tengkuknya. Kemudian ia diturunkan untuk didera sebanyak 200 cambukan, setelah itu dipotong tangan dan kakinya, disetrika, setelah itu dibakar dan kepalanya diletakkan di atas kayu seraya diarak keliling Baghdad. Kejadian tersebut terjadi pada bulan Rabi’ul Awal di tahun ini.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/110, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 293 Hijriyah
Pada tahun ini, saudaranya al-Husain al-Qirmithiy yang dikenal dengan Dzu Syamah yang terbunuh sebelumnya mendapatkan banyak dukungan dari al-Qaramithah (Syiah) yang berada di jalanan al-Furat. Mereka membalas dendam dengan membuat kerusakan di atas muka bumi.
Kemudian berangkat menuju Thabariyah, (penduduknya) menghalanginya. Sehingga ia memasuki (Thabariyah) dengan paksa, maka terbunuhlah penduduknya dengan sangat banyak dari kalangan laki-laki. Dan merampas hartanya dengan sangat banyak, kemudian istirahat pergi kembali ke padang pasir.
Kelompok lainnya yang berasal dari mereka memasuki kota Hit, lalu mereka membantai penduduknya kecuali sedikit (yang dibiarkan hidup). Mereka merampas harta yang banyak, sehingga mereka membawanya dengan 3.000 (tiga ribu) unta.
Telah muncul seorang laki-laki yang berasal dari al-Qaramithah (Syiah) yang disebut sebagai ad-Daiyah di Yaman. Lalu ia mengepung Shan’a dan memasukinya dengan paksa, serta membantai dengan sangat banyak penduduknya. Kemudian berangkat menuju kota-kota Yaman lainnya yang tersisa, lantas membuat kerusakan yang amat banyak serta membantai banyak penduduknya.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/113, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 294 Hijriyah
Pada bulan Muharram di tahun ini, Zakrawaih dan pasukannya merampok jama’ah Haji yang berasal dari penduduk Khurasan yang sedang melakukan perjalanan dari Makkah. Mereka membantai mereka semua serta merampas hartanya dan menawan wanita-wanitanya. Nilai harta yang mereka ambil adalah sebesar 1.000.000 (satu juta) dinar, sedangkan jumlah yang dibantai sebanyak 20.000 (dua puluh ribu) jiwa. Para wanita al-Qaramithah berjalan di antara orang-orang yang terbunuh dari kalangan jama’ah Haji sambil memegang tempat minuman air dalam rangka berpura-pura memberikan air minum bagi orang yang terluka dalam kehausan. Namun jika ada yang berbicara kepada mereka dari orang yang terluka, maka mereka akan membunuhnya dan mengakhiri hidupnya –semoga laknat Allah atas wanita (Syiah al-Qaramithah) dan laknat atas suami-suaminya.
Kisah terbunuhnya Zakrawaih –semoga Allah melaknatnya-
Tatkala telah sampai beritanya kepada Khalifah mengenai jama’ah Haji yang dibantai oleh orang yang keji. Maka (Khalifah) menyiapkan sebuah pasukan yang besar untuk menghadapi mereka (Syiah al-Qaramithah), sehingga terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat. Lalu terbunuhlah al-Qaramithah (Syiah) dengan sangat banyak tanpa tersisa darinya kecuali sedikit. Peristiwa tersebut terjadi pada awal bulan Rabi’ul Awal di tahun ini.
Seorang laki-laki menebas Zakrawaih dengan pedang di kepalanya hingga mencapai otaknya. Setelah itu ia ditawan dan mati 5 (lima) hari kemudian.
(Khalifah) juga membebaskan orang-orang yang ditangkap oleh al-Qaramithah (Syiah) dari kalangan wanita dan anak-anak yang ditawan oleh mereka (Syiah al-Qaramithah).
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/114-115, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 302 Hijriyah
Arab badui dan kelompok dari al-Qaramithah (Syiah), mereka merampok para jama’ah Haji yang baru pulang dari Haji. Mereka merampas darinya harta yang sangat banyak dan membantai mereka dengan sangat banyak juga, serta menawan lebih dari 200 wanita merdeka. [Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/139, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 307 Hijriyah
Pada tahun ini, al-Qaramithah (Syiah) memasuki Bashrah dan melakukan kerusakan.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/149, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 311 Hijriyah
Pada tahun ini, Abu Thahir Sulaiman bin Abu Sa’id al-Jannabiy pemimpin al-Qaramithah (Syiah) bersama 1.700 (seribu tujuh ratus) pasukan berkuda memasuki Bashrah pada malam hari. Mereka (Syiah al-Qaramithah) memasang tangga yang terbuat dari rambut/bulu pada dinding-dinding Bashrah, lalu memasukinya secara paksa dan membuka pintu-pintunya. Kemudian mereka (Syiah al-Qaramithah) membantai orang-orang yang ditemui dari penduduknya. Kebanyakan penduduknya melarikan diri dan menceburkan dirinya ke dalam sungai, sehingga banyak yang tenggelam dari mereka. Dia menetap di sana selama 17 (tujuh belas) hari, membunuh dan menawan kaum wanita maupun anak-anaknya, serta merampas dari harta yang dipilihnya.
Kemudian kembali ke negerinya yakni Hajar. Ketika sang Khalifah mengirim kepadanya sebuah pasukan dari pihaknya (Khalifah), maka ia pun melarikan diri kabur dan meninggalkan negeri (Bashrah) dalam keadaan kosong. –Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un-
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/168, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 312 Hijriyah
Pada bulan Muharram di tahun ini, al-Qirmithiy (Syiah) yakni Abu Thahir al-Husain bin Abu Sa’id al-Jannabiy –semoga Allah melaknatnya & melaknat ayahnya- merampok jama’ah Haji yang baru kembali dari Baitullah al-Haram setelah melaksanakan kewajiban Allah atas mereka. Ia (Abu Thahir) memblokade rute perjalanan mereka, maka mereka (jama’ah Haji) melawannya dalam rangka membela harta, diri dan wanita mereka. Ia (Abu Thahir) membantai mereka dengan sangat banyak yang (jumlah) tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah. Dia (Abu Thahir) menawan kaum wanita dan anak-anak mereka yang dipilihnya, serta memilih harta mereka yang dikehendakinya. jumlah yang dirampasnya dari harta (jama’ah Haji) adalah sebesar 1.000.000 (satu juta) dinar, serta barang-barang dan dagangan yang (jumlahnya) sebesar sekitar itu juga. Lalu ia (Abu Thahir) meninggalkan orang-orang yang tersisa setelah merampas unta, bekal, harta dan para wanita serta anak-anaknya di negeri padang pasir yang liar tanpa adanya air dan bekal serta sekedup.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/170, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 313 Hijriyah
Pada bulan Shafar di tahun ini, berlepas dirinya dari Khalifah oleh sekelompok orang dari Rafidhah (Syiah). Mereka berkumpul di masjid Baratsa, mereka (Syiah Rafidhah) melecehkan para Shahabat dan tidak melaksanakan shalat Jum’at. Mereka (Syiah Rafidhah) mengirimkan surat kepada al-Qaramithah (Syiah) dan mengajak mereka kepada (kepemimpinan) Muhammad bin Isma’il yang muncul di antara Kufah dan Baghdad, seraya mengklaim bahwasanya ia adalah al-Mahdi.
Orang-orang berangkat pergi Haji pada bulan Dzulqa’dah, maka Abu Thahir Sulaiman bin Abu Sa’id al-Jannabiy al-Qirmithiy merampok mereka, sehingga banyak orang-orang yang kembali ke negerinya.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/173, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 316 Hijriyah
Pada tahun ini Abu Thahir Sulaiman bin Abu Sa’id al-Jannabiy membalas dendam dengan membuat kerusakan di atas permukaan bumi. Ia mengepung Rahbah dan memasukinya dengan paksa serta membantai penduduknya dengan sangat banyak.
Ia juga membalas dendam di tepian Moshul dengan membuat kerusakan dan di Sinjar serta di wilayah-wilayah sekitarnya. Ia menghancurkan negerinya dan membantai, merampok serta merampas.
Dan ia juga mengajak al-Mahdi (Syiah al-Fathimiyyah) yang berada di negeri Maghrib di kota al-Mahdiyah.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/179, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 317 Hijriyah
Kisah perampasan al-Qaramithah (Syiah) terhadap Hajar Aswad ke negerinya (Syiah al-Qaramithah).
Pada tahun ini rombongan ‘Iraq keluar dan pimpinan (rombongan) mereka adalah Manshur ad-Dailamiy, hingga mereka tiba di Makkah dengan selamat. Lalu rombongan-rombongan lain pun tiba dari segala penjuru. Mereka tidak mengetahui kecuali al-Qirmithiy (Syiah) telah keluar menuju mereka bersama kelompoknya pada hari Tarwiyah, kemudian mereka (Syiah al-Qaramithah) merampas harta mereka dan membolehkan atas pembunuhan mereka. Maka dibantailah di dataran tinggi Makkah dan celah-celah bukitnya, bahkan di dalam Masjidil Haran serta di dalam Ka’bah dari jama’ah Haji yang sangat banyak. Pimpinan mereka (Syiah al-Qaramithah) Abu Thahir –semoga Allah melaknatnya- duduk di atas pintu ka’bah, sedangkan orang-orang (mati) bergelimpangan di sekitarnya. Pedang-pedang menebas orang-orang di Masjidil Haram pada bulan Haram di hari Tarwiyah.
Orang-orang pun melarikan diri dari mereka (Syiah al-Qaramithah) sambil memegang tirai Ka’bah, namun tidak berguna bagi mereka, bahkan mereka (Syiah al-Qaramithah) membunuh mereka (jama’ah Haji) dalam keadaan demikian. Mereka (Syiah al-Qaramithah) pun melakukan thawaf sambil membunuh mereka (jama’ah Haji) yang sedang melakukan thawaf.
Kemudian al-Qirmithiy (Syiah) –semoga Allah melaknatnya- memerintahkan untuk melakukan perlakuan terhadap jama’ah Haji dengan perlakuan yang buruk, yakni memerintahkan agar menguburkan (jama’ah Haji) yang terbunuh di sumur zamzam dan banyak dari mereka yang dikuburkan di tempat (terbunuhnya) di dalam (Masjidil) Haram.
Ia juga menghancurkan kubah zamzam dan memerintahkan untuk menanggalkan pintu Ka’bah serta mencopot kiswahnya darinya, lalu ia membagi-bagikannya kepada sahabat-sahabatnya. Kemudian ia memerintahkan seseorang agar naik ke talang Ka’bah untuk mencopotnya, lalu ia terjatuh dengan kepala terlebih dahulu, sehingga tewas menuju Neraka.
Kemudian ia memerintahkan untuk mencopot Hajar Aswad, maka datanglah seorang laki-laki yang memukulnya (Hajar Aswad) dengan benda berat yang ditangannya seraya berkata, “Mana burung-burung Ababil? Mana bebatuan dari tanah yang terbakar?” Kemudian ia melepas Hajar Aswad dan membawanya ketika mereka mulai kembali ke negerinya. (Hajar Aswad) tetap berada di (negeri) mereka selama 22 (dua puluh dua) tahun hingga mereka mengembalikannya sebagaimana yang akan disebutkan (kisahnya) pada tahun 339 Hijriyah. –Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un-
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/182, al-Hafizh Ibnu Katsir]

Tahun 339 Hijriyah
Pada tahun yang diberkahi ini yakni bulan Dzulqa’dah di tahun ini, Hajar Aswad al-Makkiy dikembalikan ke tempatnya di Baitul (Haram), di mana al-Qaramithah (Syiah) mengambilnya pada tahun 317 Hijriyah sebagaimana yang telah (dikisahkan) sebelumnya. Pemimpin mereka (Syiah al-Qaramithah) saat itu adalah Abu Thahir Sulaiman bin Abu Sa’id al-Husain al-Jannabiy.
Namun pada tahun ini, mereka membawanya ke Kufah dan menggantungkannya di atas tiang yang ketujuh dari Jami’ (Masjid)-nya agar manusia dapat melihatnya. Kemudian saudara-saudara Abu Thahir menuliskan sebuah tulisan padanya, “Sesungguhnya kami mengambil batu ini dengan sebuah perintah dan kami telah mengembalikannya dengan sebuah perintah dari orang yang telah memerintahkan kami untuk mengambilnya, agar menyempurnakan Haji manusia dan manasik kalian.”
Kemudian mengirimkannya ke Makkah tanpa ikatan apapun, lalu tiba pada bulan Dzulqa’dah di tahun ini.
[Al-Bidayah wa an-Nihayah 11/252, al-Hafizh Ibnu Katsir]

0 comments: