Breaking News
Loading...

Sebuah tim penyidik internasional berhasil memperoleh ribuan foto bukti pembantaian sadis yang dilakukan tentara rezim Bashar al-Assad di Suriah. Foto-foto ini menampilkan mayat para korban yang kurus kering, disiksa dan penuh luka di tubuhnya.

Berbagai bukti ini ditampilkan dalam laporan tim gabungan penyidik kejahatan perang internasional dan para ahli forensik dunia yang dipublikasikan CNN, Senin 20 Januari 2014. Dengan berbagai bukti ini, Assad yang selama ini menyalahkan mujahidin atas pembunuhan di Suriah tidak bisa mengelak lagi.

“Ini adalah ‘pistol penembaknya’. Setiap penyidik pasti akan senang melihat bukti-bukti ini – foto dan prosesnya. Ini adalah bukti langsung adanya mesin pembunuh rezim Assad,” kata David Crane, salah satu penyidik. Crane adalah orang yang menyeret mantan Presiden Liberia Charles Taylor atas kejahatan perang pada Pengadilan Khusus di Sierra Leone. Taylor divonis 50 tahun.

Foto-foto ini mereka dapatkan dari seorang fotografer pemerintah Suriah yang telah membelot. Pria bernama kode “Caesar” itu menyerahkan 27.000 foto kepada tim penyidik. Dia sendiri telah kabur ke luar negeri dan membawa serta 55.000 foto bukti penyiksaan rezim.

Caesar mengaku bekerja sebagai fotografer polisi militer. Saat perang saudara pecah tiga tahun lalu, dia bertugas mendokumentasikan para tahanan yang tewas. Setiap harinya, kata dia, sebanyak 50 mayat dia foto.

Caesar menggambarkan situasi di penjara itu persis seperti rumah jagal. Laporan tim penyidik mengatakan bahwa ini adalah bukti “pembunuhan yang sistematis, diperintahkan dan dikomandoi dari atas.”

Tim forensik dan pengacara telah meneliti sekitar 835 foto dan melakukan pemeriksaan mendalam pada 150 individu di dalamnya.

Dibiarkan Kelaparan

Gambar-gambar itu sangat mengerikan. Selain kurus tak terurus, darah terlihat masih mengucur di dada mereka. Kulit mereka berwarna hitam, merah, ungu, dan pink karena memar dan luka.

Di salah satu foto, terlihat seorang pria tubuhnya penuh bekas sayatan. Beberapa terlihat bekas jeratan di lehernya, diduga oleh benda seperti timing belt karet yang biasa terdapat di motor.

Berdasarkan penyelidikan, 62 persen dari mayat itu dikuruskan, yaitu dibiarkan kelaparan. Tubuh mereka hanya tinggal tulang berbalut kulit. Kebanyakan berusia antara 20-40 tahun.

“Mereka bukan orang-orang yang kurus, atau kurang makan karena perang. Tapi ini adalah orang-orang yang dibiarkan sangat kelaparan,” kata dr Stuart Hamilton, ahli forensik lansir VivaNews, Selasa (21/12014).

Salah satu pengacara yang meneliti foto-foto ini, Sir Desmond de Silva, mengatakan bahwa cara penyiksaan seperti ini adalah metode yang digunakan tentara Nazi di kamp penahanan pada Perang Dunia II.

“Bukti-bukti ini bisa menjadi dasar dakwaan atas kejahatan terhadap kemanusiaan, tanpa ada keraguan sama sekali,” kata de Silva.

Namun de Silva mengatakan bahwa keputusan untuk menyeret Assad ke meja hijau bukan di tangan mereka. Tugas mereka hanyalah mengevaluasi bukti dan bukti-bukti yang ada sekarang sudah cukup kuat untuk bisa diterima di pengadilan internasional.

Suriah bukan anggota Pengadilan Kriminal Internasional. Satu-satunya cara untuk menyeret seseorang di negara itu ke pengadilan dunia adalah dengan referensi dari Dewan Keamanan PBB. Namun sayangnya, Suriah punya antek kuat yang menjadi anggota tetap DK PBB, yaitu Rusia.

Rusia bersama China, diketahui kerap memveto resolusi DK PBB yang mengecam kekerasan di Suriah. Namun jika suatu saat Assad bisa dihadapkan di pengadilan internasional, de Silva menegaskan bahwa foto-foto ini bisa dipastikan akan disertakan jadi barang bukti.

“Kami hanya bisa meletakkan amunisi di pistol. Namun yang membidik dan menarik pelatuknya adalah orang lain,” kata de Silva.

(Nisyi/syiahindonesia.com)

0 comments: