Breaking News
Loading...

Sekitar 10.000 orang penganut Syiah Alawi turun ke jalan di Strasbourg, Prancis, untuk menentang apa yang mereka sebut sebagai diskriminasi, asimilasi dan perang di Turki, lapor koran Turki Radikal sebagaimana dikutip Hurriyet Ahad (21/10/2012).

Sejumlah asosiasi Alawi dari berbagai negara Eropa, termasuk Huseyin Aygun anggota dewan Tunceli dari Partai Rakyat Republik (CHP), ikut serta dalam aksi unjuk rasa yang dimulai dari Place de la Bourse dan berakhir di depan gedung Dewan Eropa itu.

Para pengunjuk rasa juga mengecam partai penguasa Turki Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) serta Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan.

“Kami melihat gambaran hitam saat memandang Turki dari Eropa. Status legal untuk cemevi (rumah ibadah orang Syiah Alawi), kewajiban mengikuti pelajaran agama, serangan terhadap orang Alawi, menandai pintu-pintu rumah orang Alawi dan banyak contoh diskriminasi lainnya membuat kami berteriak. Kami orang Alawi adalah pembela sekularisme, demokrasi dan persamaan, katakan tidak pada penindasan, pengekangan, ketidakadilan, asimilasi, diskriminasi dan perang,” kata Erdal Kilickaya, pimpinan Uni Federasi Alawi di Prancis (FUAF).

Dalam unjuk rasa menentang Erdogan, para demonstran mengusung sebuah lukisan hitam dan botol merah sebagai simbol darah perdana menteri Turki tersebut.

Austria Akui Hari Libur Alawi

Sementara itu negara Austria telah mengakui beberapa hari libur terkait agama Syiah Alawi, seperti Hari Asyura dan puasa tiga hari untuk memperingati kematian Nabi Khidr. Keputusan itu dibuat oleh pemerintah Austria menyusul permintaan dari kelompok lobi Alawi.

Mereka yang mengisi kolom agama dengan Alawi di kartu identitas penduduknya boleh mengambil libur seperti ketentuan pemerintah.*[hdy]

0 comments: