Breaking News
Loading...

Damaskus – Angkatan Udara rezim Suriah meningkatkan penggunaan bom birmil (bom tong, red) atas wilayah yang dikuasai oposisi negara itu, yang telah menewaskan lebih dari 1.000 orang. Hampir seperempat dari mereka adalah anak-anak, menurut kelompok pemantau yang berbasis di London.

Dalam sebuah laporan baru yang dirilis Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SNHR) mengatakan bahwa pasukan rezim meningkat dengan menggunakan bom barel, yang jauh lebih murah daripada rudal tetapi menimbulkan kerusakan yang sama besar.

Bom birmil biasanya diisi dengan bahan peledak TNT, minyak dan pecahan peluru logam. Laporan ini menggambarkan bom improvisasi isebagai “senjata yang bertujuan untuk pembunuhan manusia secara acak.”

SNHR juga menyimpulkan bahwa sebanyak 1.179 orang telah terbunuh dalam serangan bom birmil oleh serangan rezim. Lebih dari 97 persen keorbaan adalah warga sipil, termasuk 240 anak-anak, ujar laporan itu.

Pada tanggal 15 Desember lalu, helikopter rezim melemparkan lebih dari sepuluh bom birmil pada beberapa wilayah kota utara Aleppo, yang menewaskan lebih dari 100 warga sipil.

Setidaknya 5.400 bangunan -termasuk rumah, sekolah, masjid dan gereja- telah hancur dalam serangan tersebut.

Laporan ini, tidak meyebutkan apakah temuannnya terbatas pada tahun 2013 saja atau mencakup tahun-tahun sebelumnya.

“Keheningan internasional mengenai penggunaan senjata tersebut … merupakan ancaman nyata terhadap nilai-nilai dasar seperti yang tercantum dalam hukum kemanusiaan internasional,” kata Direktur SNHR Fadl Abdel-Ghani.

“Senjata-senjata ini tidak mampu menyerang target militer dengan presisi apapun.”

Suriah telah berada dalam pergolakan konflik sipil sejak awal tahun 2011, ketika pemberontakan damai menentang rezim Damaskus meningkat menjadi perang saudara setelah tindakan keras pemerintah kekerasan. Menurut PBB, lebih dari 100.000 orang telah tewas dalam konflik sampai saat ini.

(kiblat.net/syiahindonesia.com)

0 comments: