Breaking News
Loading...

Dalam tabligh akbar yang digelar pada hari Ahad, tanggal 16 Februari 2014, di Masjid Al Jihad, Kompleks Islamic Center Karawang dengan tema Mewaspadai Kesesatan Syi’ah, Profesor Doktor Muhammad Baharun, SH, MA menyerukan persatuan di kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau berharap Ahlus Sunnah mengenyampingkan dulu persoalan khilafiyah dalam hal fiqh. Saat ini, ada masalah sangat serius yang mengancam Ahlus Sunnah dan NKRI, yakni Syi’ah.

Syi’ah semakin menggeliat dan bertaring. Apakah Ahlus Sunnah masih akan tetap saling bersitegang dalam hal khilafiyah fiqh antarsesama saudara? Demikian kurang lebih kegalauan Profesor Doktor Muhammad Baharun, SH, MA yang tergambar pada saat menyampaikan materi dalam tabligh akbar Mewaspadai Kesesatan Syi’ah di Indonesia, yang diselenggarakan pada hari Ahad, 16 Februari 2014, di Masjid Al Jihad, Islamic Center, Karawang.

Prof. DR. Muhammad Baharun, SH, MA adalah Guru Besar Sosiologi Agama dan Ketua Komisi Hukum MUI Pusat, sekaligus Rektor Universitas Nasional PASIM, Bandung. Beliau termasuk ulama yang aktif menulis dan memberikan penerangan kepada ummat tentang kesesatan dan bahaya Syi’ah.

Ormas Islam Jum’iyyah An Najat Al-Islamiyyah sempat berbincang dengan beliau selesai menjadi pembicara pada tabligh akbar Mewaspadai Kesesatan Syi’ah di Masjid Al Jihad, Karawang. Berikut petikan perbincangan dengan beliau.

Profesor Baharun berharap kaum muslimin mewaspadai berita-berita media massa nasional yang isinya dapat memecah belah ummat. Ummat harus selalu berkonsultasi kepada ulama, terutama dalam menyikapi kesesatan Syi’ah ini. Tidak percaya pada media massa liberal begitu saja.

Menurut Ustadz, apa solusi untuk mengatasi bahaya Syi’ah di tanah air?

 Sebenarnya, fatwa-fatwa yang MUI rekomendasikan sudah cukup jika dijabarkan di daerah dalam rangka memberikan solusi tentang aliran sesat, termasuk tentang Syi’ah Rofidhoh ini. Tidak perlu peraturan dari pemerintah. Sebab, saya tidak yakin, pemerintah akan ikut campur urusan agama dan urusan-urusan penganut agama. Yang harus cerdas itu ummat dan organisasi-organisasi di daerah dalam menjabarkan fatwa dan rekomendasi MUI tersebut.

Saya sering tekankan soal persatuan antaraormas Islam. Tidak boleh lagi ada intervensi ormas satu ke ormas yang lain. Siapa, sih, yang mau rumah tangganya diintervensi tetangganya. Jika mau menegur, sampaikan teguran yang baik, yang konstruktif. Bukan menghina, tapi membina. Berikan nasihat sebagai sesama muslim. Tetapi, jika intervensi itu sudah membuat jarak dengan cara klaim kebenaran, dengan cara menyalahkan orang lain, ini berbahaya. Egoisme beragama dalam Islam sangat membahayakan. Sudah ada buktinya egoisme agama ini membawa malapetaka. Malapetaka paling besar adalah perpecahan dalam tubuh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah potensi sebuah kekuatan. Ini harus dipelihara. Jika kekuatan Ahlus Sunnah pecah, akan mengancam NKRI. NKRI akan pecah juga. Karena, ini menyangkut masalah agama. Masalah suku saja dapat mengancam NKRI, apalagi masalah agama. Bagi masyarakat, aqidah adalah fondasi keyakinan. Aqidah itu menyangkut hidup matinya seseorang. Itu mutlak. Apalagi, bagi masyarakat awam. Oleh karena itu, para elit pemimpin di pusat maupun daerah harus bahu membahu untuk mensolidkan ummat menjadi satu kekuatan. Dengan kekuatan itu, bisa kita atasi dan memberikan solusi kepada berbagai problem ummat, termasuk ancaman aqidah menyimpang dalam Islam, seperti Syi’ah Rofidhoh.

Bicara soal elit pimpinan, kita kadang dikejutkan oleh statement tokoh Islam tanah air yang dimuat media nasional yang kesannya tokoh ini memberi angin segar bagi penyebaran Syi’ah. Bagaimana menurut Ustadz?

Dalam organisasi, selalu ada pendapat peroarangan. Itu biasa. Akan tetapi, pendapat  itu tidak mewakili organisasi. Boleh jadi, ada kepentingan tertentu secara individual yang tidak mewakili institusi. Biarkanlah, itu urusan elit pimpinan yang ada untuk menyelesaikan masalah.

Masalahnya, Ustadz, statement itu dimuat di media massa. Masyarakat yang membaca atau mendengar informasi tersebut tentu akan bingung melihat ada statement yang berbeda, padahal keluar dari tubuh organisasi yang sama.

Anda, kan, tahu: arus pers itu sebetulnya bad news is a good news. Pers kita ini pers liberal, bukan pers budaya indonesia, apalagi pers Islam. Memang, mereka senang melawan arus. Berita buruk yang bersifat adu domba buat mereka menjadi berita bagus. Kita harus abaikan berita seperti itu. Tetap istiqomah dalam melawan ketidakbenaran, kemungkaran, dan sumber-sumber perpecahan ummat. Berita pers seperti itu termasuk sumber perpecahan ummat.

Apa nasihat Ustadz kepada masyarakat yang awam dalam soal Syi’ah jika mengetahui ada statement tokoh Islam yang berseberangan dalam menyikapi kesesatan Syi’ah?


Masyarakat awam harus diberi petunjuk agar menghubungi ulama untuk menyelesaikan masalah  ini. Masyarakat jangan mengambil keputusan sendiri. Kadang, masyarakat ini maunya langsung mukul saja. Itu bisa kontra produktif. Saya katakan, Syi’ah harus dibasmi. Tapi, orangnya, kalau bisa, diselamatkan. Tidak dihabisi juga. Orangnya dikembalikan ke aqidah yang lurus. Dakwah itu seperti itu.

(Nisyi/nahimunkar.com/syiahindonesia.com)

0 comments: