Breaking News
Loading...

JAKARTA — Pembantaian, pembunuhan dan penderitaan Muslimin di Suriah telah memasuki tahunnya yang ketiga. Sejak bulan Maret 2011 silam, sedikitnya 120 ribu orang tewas dan jutaan lainnya mengungsi dari bumi Syam akibat kekejian yang dilakukan oleh Basyar Asad.

Relawan Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI), Angga Dimas Pershada, menuturkan peperangan di Suriah merupakan perang akidah. Bukan sekadar politik antara Syiah dan Ahlussunah, apalagi perang saudara sesama Muslim sebab Syiah bukanlah bagian dari Islam.

Angga mencotohkan, ketika tim HASI berkesempatan bertugas di Suriah mereka menyaksikan sendiri bukti bahwa perang di Suriah adalah perang akidah. Yaitu, perlakuan sewenang-wenang terhadap korban-korban perang Suriah yang dirawat oleh dokter beragama Syiah Nushairiyah di Turki.

“Diobati bukannya sembuh malah lukanya semakin parah. Lalu bagaimana kalau berobat di rumah sakit pemerintah Suriah? Masuk kuburan namanya,” kata Angga saat menjadi pembicara dalam acara tabligh akbar untuk Suriah di Jakarta, kemarin.

Maka Angga sangat keberatan jika ada orang yang mengatakan konflik Suriah sekadar konflik politik atau perang saudara. Menurutnya jika konflik ini hanyalah bersifat politik, maka mengapa dokter-dokter yang berakidah Syiah Nushairiyah di rumah sakit malah ikut-ikutan menyiksa pasien pengungsi Suriah?

“Coba itu yang bicara kita ajak ke Suriah untuk bertugas medis di sana. Tapi jangan minta pulang ya kalau ada suara bom,” katanya seraya menyasar kepada salah seorang dokter yang terindikasi Syiah.

Sehari-hari, semasa penugasan Angga di Suriah, rezim Suriah terus-menerus menerjunkan bom-bom birmil di tempat relawan bekerja. Padahal, dalam perjanjian Jenewa disebutkan pelarangan menyerang tenaga medis dan juga fasilitasnya.

“Kami di sana adalah relawan medis, tidak bersenjata. Senjata kami hanyalah jarum suntik untuk memberikan pengobatan,” tegasnya.

(bumisyam.com/syiahindonesia.com)

0 comments: